Dosen
2 minggu lalu · 72 view · 3 min baca · Buku 66982_79622.jpg

Petunjuk Memahami Emosi Anak

Bagi orang tua dan pengasuh, memahami emosi anak usia dini merupakan hal yang penting. Karena kemampuan kognitif dan verbal anak usia dini masih terbatas. Dengan memahami emosi mereka, orang tua akan lebih mampu untuk berkomunikasi dan memahami mereka.

Buku Emosional Anak Usia Dini ini memaparkan tentang cara mengenali dan memahami emosi anak-anak tersebut. Ia juga memuat aneka cara untuk mengelola dan mengontrol emosi mereka dengan tepat. Buku ini ditulis oleh Ibu Nenny Mahyuddin, seorang dosen di Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Penulis memulai pembahasan dengan menjelaskan tentang pengertian dan fungsi emosi dalam kehidupan anak. Terkait ini, digarisbawahi bahwa konsep emosi dalam ranah akademik berbeda dengan yang dipahami kalangan awam. 

Di kalangan akademik, emosi merujuk pada aneka macam perasaan yang dimiliki seseorang, seperti marah, benci, bahagia, cemburu, atau takut. Di sisi lain, orang awam biasanya mengasosiasikan emosi dengan marah. Padahal, marah hanya salah satu jenis emosi.

Bagi anak usia dini, emosi memiliki banyak fungsi. Di antaranya, ia merupakan sumber motivasi intrinsik. Dalam arti, emosi memiliki peran penting dalam menggerakkan anak untuk melakukan beragam aktivitas, misalnya belajar atau bermain. 

Selain itu, emosi juga menjadi alat bagi anak untuk menjalin komunikasi dan relasi sosial. Anak-anak yang berhasil mengelola emosinya dengan baik, mereka akan sukses dalam kehidupan sosialnya.


Kesuksesan anak dalam mengelola emosi dipengaruhi oleh kemampuan mereka untuk mengenali emosi dirinya dan orang lain. Pengenalan emosi demikian dapat membantu anak untuk menyesuaikan emosinya dengan emosi yang diharapkan oleh orang sekitar, sehingga mereka juga dapat menyesuaikan diri.

Selanjutnya, buku ini memaparkan bahwa anak usia dini memiliki aneka kebutuhan emosi dalam hidupnya. Kebutuhan emosi tersebut di antaranya, mereka membutuhkan cinta dan perhatian orang tua. Termasuk juga kebutuhan akan rasa aman. Aneka kebutuhan tersebut harus dipenuhi supaya anak dapat bertumbuh dan berkembang dengan normal dan maksimal.

Sehubungan dengan itu, anak-anak perlu dilatih agar mereka memiliki kecerdasan emosi. Anak yang cerdas secara emosi artinya mereka memiliki kemampuan dalam mempersepsi, memahami, mengintegrasikan, serta mengontrol emosi. 

Kecerdasan emosi demikian memiliki manfaat penting bagi anak-anak. Beberapa riset menunjukkan bahwa anak-anak yang memiliki kecerdasan emosi mereka lebih bahagia, percaya diri, dan sukses di sekolah (hlm. 75). 

Secara praktis, ada beragam kegiatan yang dapat dilatihkan ke anak agar mereka dapat mengelola dan mengekpresikan emosinya tersebut. Anak-anak dapat memulainya dengan mengenali emosi diri sendiri. 

Untuk tujuan itu, orang tua dapat meminta mereka untuk menyebutkan aneka macam emosi yang mereka miliki. Mereka juga dapat diminta untuk memeragakan masing-masing jenis emosi.

Hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan mengajarkan pada anak untuk berpikir positif. Hal itu dilatari oleh asumsi bahwa perasaan dan pikiran memiliki pengaruh timbal balik. 

Ketika orang memiliki pikiran positif, emosi mereka juga cenderung positif. Dengan demikian, orang-orang yang berpikiran positif akan relatif memiliki emosi yang stabil dan lebih mudah mengontrol emosinya.

Agar anak-anak juga sukses dalam mengekspresikan emosi dalam lingkungan sosial, anak perlu terlibat dalam aneka macam kegiatan sosial. Saat berinteraksi dengan orang lain, mereka dapat membaca, mengenali, termasuk memilih strategi yang tepat ketika dihadapkan pada kasus-kasus emosi. 

Dengan cara ini, anak-anak akan mendapatkan pengalaman sosio-emosional yang beragam, yang dapat mereka terapkan dalam kasus kehidupan yang lain. Mereka menjadi lebih terampil dalam mengekpresikan emosi di beragam situasi.


Adapun untuk melatih anak mengontrol emosi, anak dapat diajari untuk menunda keinginan. Misalnya, dengan menjadi mereka belajar antre. Saat berada dalam antrean, anak akan melatih kemampuan mereka untuk menunda keinginan yang akan menjadikan emosi mereka makin matang. Bila itu terus diulang, anak-anak juga lebih mampu mengontrol emosinya.

Kehadiran buku ini tentu dapat menambah khazanah kajian emosi di Indonesia. Meskipun ada beberapa bagian buku yang perlu perbaikan terkait redaksi, pilihan kata, dan sistematika tulisan. 

Misalnya, penggunaan kata “emosional” pada judul buku ini sebenarnya juga tidak sesuai dengan ejaan baku. Mestinya, judulnya adalah “Emosi Anak Usia Dini”, karena “emosi” adalah kata benda, yang lebih merepresentasikan pesan yang ingin disampaikan penulis.

Di luar itu, menurut saya, untuk edisi revisi, buku ini perlu ditambah dengan uraian tentang contoh-contoh praktis mengenai gambaran, dinamika, atau kasus-kasus terkait emosi anak dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya, untuk emosi yang berlangsung pada anak-anak di Indonesia. 

Terlepas dari adanya hal yang kurang dalam buku ini, secara keseluruhan, buku ini penting untuk dibaca sebagai rujukan untuk memahami emosi anak.

Riwayat Buku

  • Judul: Emosional Anak Usia Dini
  • Penulis: Nenny Mahyuddin
  • Penerbit: Kencana
  • Cetakan: Maret, 2019
  • Tebal:  xiv
  • ISBN: 978-602-422-959-7

Artikel Terkait