Seniman
3 tahun lalu · 334 view · 2 menit baca · Gaya Hidup 8273241_orig-1.jpg
[Foto: google.com]

Petualangan Melawan Penjara Kebebasan

Tentang Film Into The Wild

Pernah nonton film drama Amerika yang diangkat dari sebuah kisah nyata tentang seorang petualang bernama Christopher McCandless? Ini film sudah cukup lama, tapi tak salah jika saya sebut ini film keren!

Si tokoh adalah seorang sarjana berpredikat cumlaude. Usai mendapatkan gelar pendidikan, ia menghilang tanpa sepengetahuan orang tua. Seperti yang telah direncanakan sejak lama, Christopher mulai melakukan perjalanan.

Dalam mengawali kisah petualangan, ia melepaskan harta benda dan segala kenyamanan duniawi. Mobil ditinggal begitu saja di hutan, uang dibakar, dan kemudian ia melenggang bebas dengan tas punggung ala backpacker. Pada hari ‘kelahiran’nya itu, Christopher berganti nama menjadi Alexander Supertramp.

Tujuan Alexander Supertramp adalah Alaska. Sendiri, menyepi dan larut dalam lestarinya alam bebas. Di perjalanan ia bertemu sejumlah orang dengan kisah menarik. Hingga kemudian, hari demi hari terus menuntun langkah Supertramp mencapai sepinya Alaska. Kisah-kisah menarik dan menantang pun terus mengalir setelah ia menemukan ‘magic bus’.

Pertanyaan pun muncul, kenapa dia memilih untuk mengisolasi diri dari riuhnya peradaban masyarakat? Padahal kenyamanan, uang, harta dan martabat telah ada dalam genggamannya.

Ya, sikap itulah yang dapat mencapai arti kebebasan yang ingin ia jalani dalam kehidupan bumi. Kebebasan hakiki. Ia melepaskan segala macam kesenangan serta kenyamanan dunia, dan setelah semua benar-benar ‘kosong’, ia pun berjalan dengan bebas.

Dari awal hingga penghujung film memang terlihat bahwa petualangan yang dijalani Alexander Supertramp adalah bentuk dari kemuakannya terhadap peradaban masyarakat yang kian larut dalam euforia belaka. Ia sengaja lari dari keramaian tersebut untuk menemukan arti kebebasan yang sesungguhnya. Ia menantang peradaban.

Jika melihat bagaimana peradaban modern yang terus melaju pesat, saya setuju dengan sikap si Supertramp ini. Apalagi jika menatap gaya hidup masyarakat Indonesia yang kian menggila dalam mengejar harta, benda dan jabatan (tanpa mengingat hakikat kehidupan).

Sebagian masyarakat menilai bahwa apa yang dikejarnya itu akan membawa mereka menuju kebebasan. Tapi kadang sia-sia. Sikap itu tak lebih untuk membiarkan jiwa tertipu, terjebak dan kemudian tersesat dalam rayuan dunia.

Perlahan tapi pasti, gaya hidup masyarakat pun tidak lagi menciptakan celah untuk kebebasan. Hal ini semakin dipengaruhi oleh pengkotakkan pemikiran, jeruji paradigma yang sempit dan gejolak euforia yang teramat membabi buta.

Lihat di sekitar, berapa banyak yang telah memenjarakan jiwanya hanya untuk mendapatkan kenyamanan serta kesenangan dari harta benda dan jabatan? Kita yang mengetahui hakikat jiwa dipaksa untuk ikut tradisi pengekangan ini.

Ada yang berani melawan, ada yang pasrah dan ada yang memilih apatis. Kebebasan pun disalahartikan. Sebagian dari kita menganggap kebebasan adalah sebuah euforia dunia yang harus didapatkan dan dikejar mati-matian, atau juga kebebasan telah dianggap sebagai sebuah sikap seenak hati  untuk menghujat, memaki dan saling menyalahkan.

Into The Wild bukanlah sebuah perjalanan menikmati alam atau keinginan seorang petualang untuk menaklukkan hutan liar. Ini adalah sebuah sikap untuk bebas dan sikap untuk melawan pengekangan yang dibentuk oleh sistem.

Memang, terkadang kita sering lupa bahwa sesuatu yang kita anggap sebagai kebebasan ternyata hanyalah sebuah penjara untuk kebebasan yang hakiki. Bagaimana dengan Anda?

Artikel Terkait