Penulis
5 bulan lalu · 356 view · 6 min baca menit baca · Cerpen 20052_19497.jpg
rude hand gestures

Petuah Ibu tentang Isi Kepala Lelaki

Isi kepala lelaki itu hanya satu: bercinta. Itu pesan ibunya; yang harus diingat; yang tak ada hentinya menjadi akhir percakapan mereka dalam telepon. 

Keduanya akan saling menelepon tiga kali dalam seminggu. Tapi sekali-dua kali ibunya akan lebih intens meneleponnya, menanyakan kabar atau memberi kabar. Sebab harus irit pulsa di tanah rantau, kata ibunya.

Merlina akan terus mengingat itu demi menjaga dirinya dari rayuan maut para lelaki hidung belang. Demi menjaga dirinya dari sentuhan hangat para lelaki yang juga hidung belang. Dan demi menjaga hatinya tak patah berantakan, yang juga karena lelaki hidung belang.

Hal itulah yang membuatnya tak ada teman dekat lelaki sedekat teman perempuannya, sebab ia tak ingin seperti ibunya, yang ditinggal pergi oleh ayahnya untuk menikah lagi, dan tentu bercinta lagi. 

Padahal ayahnya melakukan itu sebab ibunya tak lagi mampu berhubungan intim. Aus. Tapi sesungguhnya, Merlina tahu belaka bahwa itu hanyalah strategi ibunya untuk meloloskan perjodohan dengan anak tetangga di kampungnya.

“Ibu hanya takut kau salah pilih, Nak!” kata ibunya di suatu waktu melalui telepon.

“Di sini, aku bahkan tak punya teman lelaki.”

Tapi apakah yang demikian itu berlaku kepada semua lelaki? Bukankah tak adil mengadili bahwa “semua lelaki itu sama” atas pengalaman terhadap lelaki yang berbeda? Perjodohan itu tentu menggugurkan pernyataan bahwa semua lelaki itu sama.

Merlina tak pernah menanyakan itu, atau tak berani menanyakannya. Terutama karena ia tak mau didakwa sebagai anak yang tak mendengar kepada ibunya dan kemudian dikutuk menjadi batu. 

Atau juga demi menghindari kata-kata pedas dari ibunya yang seperti hendak menyayat telinganya, di kala ia membantah petuahnya yang lain sebab tidak sepikir olehnya: “Oh, sekarang kamu mau membantah ibu? Sudah pintar kamu sekarang?” 

Rasa-rasanya, lebih baik menjadi tuli sebentar, pikirnya, daripada menjadi batu macam Malin Kundang.


Petuah-petuah itu, nyata membuatnya begitu keras hati. Merlina tak memberi izin kepada lelaki mana pun yang mengaju cinta kepadanya. Tak ada tempat bagi lelaki bangsat di sini, katanya, sering, ketika menolak berbagai jenis lelaki. 

Merlina bukan tak suka, ia memang suka, tetapi keberadaan petuah-petuah dari ibunya dan kepada ibunya sendiri tampaknya telah membuatnya seperti batu. Maksudnya, hatinya yang seperti batu.

“Kalau aku menerimamu, setelah itu apa yang akan kita lakukan?” tanya Merlina kepada seorang lelaki yang tengah jujur akan cintanya, seorang lelaki yang sebentar lagi ia buat membisu.

Lama lelaki itu tak menjawab, Merlina justru berkata, “Kau bahkan tak punya alasan untuk bercinta denganku.”

***

“Kehancuran itu mutlak. Sekalipun hanya batu.” Itu yang dikatakan Aryo kepada kawannya yang pernah ditolak sadis oleh Merlina.

“Meski hanya batu, tapi kau tak akan mampu merubuhkan jika itu sekeras baja.”

“Kata-katamu adalah kata-kata lelaki yang kecewa.”

“Coba kau buktikan!”

“Maka siap-siaplah kau kecewa,” kata Aryo, “untuk yang kedua kali.”

Aryo terbilang lelaki yang terlalu tangkas untuk mendapat perhatian dari para mahasiwi di kampus ia berkuliah, yang juga tempat Merlina berkuliah. Terutama karena masa-masa itu adalah masa-masa paling gemilang bagi para aktivis jalanan di mata para Mahasiswa Baru, bahwa mereka adalah pahlawan untuk bangsa dan negara sebab menumbangkan Presiden yang paling menyebalkan.

Dan Aryo adalah aktivis jalanan sekaligus mahasiswa senior, meski ia sendiri yang menyebut dirinya aktivis dan semua tahu belaka bahwa ia mahasiswa senior. Bahkan untuk seukuran Merlina, tak butuh waktu panjang ia perlukan. 

Ia hanya meminjamkan buku kuliah kepada Merlina, dan Merlina menerima itu untuk kemudian membuka ruang lebar bagi Aryo untuk berkomunikasi lebih jauh dengannya. Begini saja? pikir Aryo, yang tengah jemawa hati.

Dari sanalah, dari buku-buku itu, percakapan dan pertemuan demi pertemuan mereka bermula. Dan itu cukup efektif bagi Aryo untuk menampilkan dirinya sebagai lelaki paling hebat yang dikenal oleh Merlina. Dan Merlina akan kecewa jika terburu-buru membuat keputusan untuk tak peduli kepada Aryo.

Sesekali, ketika berkencan, Aryo akan banyak bercerita mengenai perjuangannya bersama kawan-kawannya dalam menumbangkan Presiden menyebalkan itu, dan Merliana akan dibuat begitu takjub mendengarnya. Persis anak kecil yang diberi dongeng sebelum tidur. 

Tapi tunggu dulu, itu tidak berarti hatinya telah mencair. Merliana memiliki hati sekeras batu. Ingat itu!

Sesungguhnya, Merlina tak segampang itu dibuat jatuh hati. Ia tak pernah berpikir untuk terlalu dekat dengan lelaki. Oh tidak, ia pernah berpikir untuk dekat tetapi itu hanya sesekali saja. Terutama karena petuah ibunya terus bersemayam di kepalanya.

Bahwa kini ia dekat dengan Aryo, itu tidaklah lebih dari bentuk kekagumannya belaka. Sebab, Aryo seperti perpustakaan berjalan baginya. Sebab dengan itu, cukup memudahkannya untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah. Tapi dengan itu pulalah, ia tak sadar tengah menjalin keakraban dengan seorang lelaki.

Yah, demikianlah kekaguman itu ada. Ia bisa merembet ke soal asmara. Terutama tampaknya Aryo memang terlalu lihai meluluh lantakkan hati perempuan. Dan Merlina bukanlah lawan setanding bagi Aryo. Sebab pertemuan mereka nyatanya semakin intens.

Dan demikianlah yang terjadi: tak ada hari berlalu tanpa pertemuan kedua insan ini. Dan bahkan, Aryo mulai bertamu ke kontrakkan Merlina. Dan pintu kontrakkan Merlina terbuka lebar dua puluh empat jam untuk Aryo.

Benarlah apa yang pernah diucapkan Aryo, kawannya itu harus siap-siap untuk kecewa yang kedua kali.

***

Pada hari-hari pertemuan yang intens itu, Merlina mulai lupa menelepon ibunya. Ia sebetulnya tak lupa. Tapi percakapan yang terakhir dengan ibunya membuatnya tertekan, dan memilih untuk tak menelepon. Sesungguhnya, Merlina telah terjerat nyaman kepada Aryo. Petuah ibunya tak mujarab lagi, bagaimanapun.

Pada saat percakapan yang terakhir itu, pertanyaan-pertanyaan yang sering kali berputar di kepala Merlina akhirnya ia keluarkan. Ia bertanya, apakah isi kepala lelaki hanya soal bercinta saja. 

Sebetulnya bukan itu maksud pertanyaannya. Itu hanyalah titian untuk sampai pada pokok persoalannya: Merlina terus dibayang-bayangi dengan rencana perjodohan itu. Ia tak ingin hal itu terjadi, terutama karena ia sudah ada hati kepada lelaki yang bukan pilihan ibunya, dan itu adalah Aryo.


“Sering ibu bilang,” katanya, “bahkan sebelum kau mengenal lelaki. Bahwa isi kepala lelaki hanya satu: bercinta.”

“Lalu untuk apa ada perjodohan itu?”

Dan segala jenis petuah pun kembali terdengar. Bahwa Merlina sudah pintar dan karena itulah ia berani membantah dan mengajari ibunya. Dan ibunya pun bersedih sebelum kembali dalam petuahnya yang lain.

“Istirahatlah, nak,” tutup ibunya. “Tut..Tut..Tut.”

Merlina tahu, jika sudah begitu, maka artinya ibunya tengah dongkol dan karena itulah telepon itu mati tanpa sepatah pun yang sempat keluar dari mulutnya. Tapi masalahnya adalah, ia nampaknya tak ada kuasa untuk menolak perjodohan itu, sekalipun ia bersikeras seperti batu.

Apa mesti kuperbuat jika sudah begini? pikir Merlina.

***

Tiga bulan kemudian, akhirnya Merlina menelepon ibunya. Ia barangkali tahu dan baru sadar, bahwa benar apa yang selalu diucapkan ibunya soal isi kepala lelaki, dan ia akan mengatakan itu. Atau juga ia telah mendapat satu fakta yang lain mengenai isi kepala lelaki, dan karena itulah ia menelepon.

Tapi ibunya tak merespon. Beberapa panggilan Merlina tak dipedulikan. Barangkali masih marah, boleh jadi. Tapi akhirnya ibunya pun mau menerima panggilannya. 

Tak ada ibu yang setega itu, bagaimanapun. Maka bercakaplah mereka, basa-basi. Seperti tak pernah terjadi apa-apa. Tapi bahkan basa-basi itu tak berlangsung lama, sebelum akhirnya nada ibunya terdengar meninggi.

“Aku tak hendak mengajak bertengkar, bu,” kata Merlina, mencoba tenang. “Tak juga bermaksud mengajari atau membantah ibu.”

“Lalu?”

“Aku hanya ingin memberti tahu satu hal.”

“Katakan!”

“Bahwa isi kepala lelaki tak hanya itu saja.”

“Ada yang lain?”

“Tentu.”

“Apa itu?”

Ingatan Merlina kemudian pergi pada sosok Aryo, yang beberapa bulan lalu resmi menjadi kekasihnya. Ia mengingat apa yang kerap diucapkan kepadanya, ketika tengah dipuncaki berahi, dan ketika di tengah kelelahan yang nikmat sebab bercinta dengan begitu liar: “Bercinta sampai mati.” Itu pulalah yang ia pakai untuk menjawab pertanyaan ibunya.

Mengenai perjodohan itu, mestinya tak perlu kutuliskan lagi, sebab, keduanya akan bercinta sampai mati.

Artikel Terkait