Pegiat Literasi
4 minggu lalu · 100 view · 4 min baca menit baca · Puisi 56172_40626.jpg

Petikan Nilai Juang

Penjara Rasa

Kaki-kaki layu
Kaki-kaki layu
Sepasang terjebak rasa
Sampai kapan? 

Mulut berbusa "aku ingin berjuang"
Lantas
Lalu
Terus
Ahhh
Kau kaku 

Carilah dulu
Ahhh jangan sampai meminjam identitas
Bisa jadi kau tak mengenal identitasmu
Cukup paham
Hidupmu ditelunjuk jari

Hidupmu dianggukan kepala
Yah kenapa tidak
Karena kau berputar dikubangan kebodohan
Teritindas oleh waktu
Tertebas bualan kosong

Kebebasan ekspresimu hanya angan
Ahhh semua orang pernah berkisah
Namun cukup kutulis di tepi daun kisahmu
Sebab akar belum menguat

Sudahlah
Bangunlah
Karena hidup ini bukan sekedar disenyumi saja kawan!!!
Ahh kuhadiahkan senyum, untukmu yang masih terpenjara rasa


Nilai Cinta

Cinta adalah suatu kekuatan
Cinta telah mensugesti diri
Temukan eksistensi nilai kemanusiaan Bukan rayuan akan kepentingan praktis

Sayang jika engkau menghilangkan cinta Maka bersiaplah hidup dalam keterasingan
Ahhh apakah langkahmu akan terhenti Sebab tercerabut sisi manusiamu?
Kau akan tumbuh bagai robot
Hanya berguna untuk sistem produksi semata

Sayang pilihlah pilihan yang memiliki nilai
Bukan atas dasar menuhankan egoisme Kuasa uang dan jabatan senantiasa datang menggoda
Namun tujuan hidup muaranya bukan untuk itu

Sayang kita akan mengerti dari ketidakmengertian
Membenarkan dari ketidakbenaran Memerdekakan dari ketidakmerdekaan
Semua bisa terwujud
Saat kita kembali memahami eksistensi diri sebagai manusia

Sari pengetahuan akan terteguk
Laku gerak alam senantiasa merangkul Jiwa-jiwa yang menyemai cinta
Bukan jiwa-jiwa yang menciderai alam demi merebut kuasa 

Tafakkur alam
Tafakkur pada Maha Semesta
Tiupkan harmoni dalam perbedaan Sebab perbedaan bukan untuk dipertentangkan

Kebajikan akan terhirup saat kita semai dalam keberagaman warna
Bukan memaksa menyeragamkan dalam satu warna
Damai jiwa meneguk nilai cinta

Separuh

Gegap mengendap
Bersitatap dua biji bola mata
Separuh kusemai
Separuh endapan mengendap beku
Tak jua kuhujat mencair
Sebab ilalang waktu menyangsi
Ada petikan rindu melekat
Menari pada tangkai puisi

Penaku tajam melintas
Tinta menghitam
Tajamkan nalar
Tanpa memelihara "rasa takut"
Separuh itu kudekap
Hingga imajiku kembali liar

Kau bertanya?
Cukup kukatupkan bola mata sebagai jawaban
Sebab tak semua kata harus terbahasakan
Kudengungkan resah dalam batin
Pada ruas-ruas jari kita bersepakat
Menyatu tanpa harus menghujat semesta
Sebab nyanyian alam mendendang tanpa angkuh

Lalu sudahkah kita mensakralkan niat?
Ahh kembalilah berselancar dalam diri
Akan tiba saatnya Maha Tunggal menggenggam niat
Cukup kita bijak memesrai tarian ilalang
Sebab kidung do'a tiada terputus

Separuh itu akan tercukupkan sayang
Tanpa harus memekarkan ego
Ademnya senja menjadi saksi
Ada rinai rindu tanpa syarat
Bukan sepicis lagu sendu merekatkan luka
Tapi menumbuh bahagia dalam semaian jiwa

Pucuk Merah

Menangkup malam
Mendesah desau
Seketika sunyi
Pucuk merah

Mekarlah pucuk merah
Mekarkan zaman
Tepislah malu
Sebab pucuk merah
Berani mewarna tanpa diwarnai
Lekatkan warna keabadian
Walau dikelilingi berbagai warna

Pucuk merah di pucuk ia semakin merah
Memerah tanpa kepalsuan
Ahh kaukah pucuk merah itu?
Menumbuh tumbuh 

Malam ini kuajak kau berdamai tanpa syarat
Cukup kusaksikan merahmu
Mendikte manusia-manusia instan
Sedetik bersitatap pucuk merah 

Malampun berbisik enggan terlelap
Malam ini kita berdua saja
Merajut sari juang diantara megahnya jaman
Esok cita-cita kita gerakkan
Malam ini kita sama mensakralkan niat

Kuncup Peradaban

Dekatlah
Rangkullah
Letakkan telinga, dekap jantung
Sebab mereka adalah kuncup peradaban 

Pupuk, beri nutrisi agar toleran
Mata tajam
Telinga menyerap sigap
Mengunyah mentah
Ahh,kadangpula sedikit "usil".

Yah, dunia mereka dunia anak-anak
Bukan dunia sulap
Ikatlah mereka dengan identitas lokal
Usssh jangan takut sayang! 

Tajamkan nalar, bumikan laku
Restu semesta selalu hadir
Nak, kau harus kembali pulang!
Belajar tentang budaya "Siri dan tabe"

Teguk petuah leluhur!
Bibit-bibit bangga dengan identitas
Jangan dipaksa moderen
Hingga lupa berjabat tangan

Menyeka air mata pecah
Retak warna itu wabah
Sungguh, jangan cabut identitasmu
Mesrailah pancasila
Sebab pancasila adalah pewangi nusantara

Tersenyumlah tanpa ragu
Semesta telah menjaga
Teduhkan jiwa-jiwa damai
Redam luapan ego

Jagalah endapan asa
Luaskan hati,retas bimbang
Mentari telah meminang senja
Jelajah karakter, lewat nadi-nadi juang

Sambut tanpa mata melotot
Zaman akan mendidik dengan piranti pengetahuan
Bukan cambuk, cubit
Apalagi kata-kata "sampah'' muncrat dari bibir

Mereka tidak bodoh
Butuh letupan peradaban yang beradab
Mungkin sejam lalu
Hidungnya mencium aroma tak bersahabat?
Selami, berselancarlah! 

Lihatlah
Mereka menyatu,tanpa ragu
Wangi rindu meleleh
Merindu senyum manis  
Hingga karakter mendarah daging,tanpa politisasi

Kawanku kita masih setia
Membatinkan niat
Memungut mantra-mantra peradaban
Kawanku jangan lupa
Negeri kita masih sama
Negeri Indonesia

Gaun Senja

Maha Sastra membias keindahan
Gaun senja mengibas memeluk penuh manja
Romantis terpoles indah
Tak cukup kata meluapkan keindahan 

Deburan ombak meminang rasa
Seketika bebatuan karang menjadi saksi
Tersematkan niat tanpa ragu
Bismillah untuk sebuah nama yang masih terselimut disyair do'a

Dikala terlantun disepertiga malam
Tengadah hati mengenduskan nafas
Kukatupkan mata, membatinkan laku
Merangkul keMahaan Semesta
Menepis suara sumbang para pengejar kuasa

Meski tak tertepis tuntutan duniawi yang senantiasa datang menggoda
Esok kunanti diufuk fajar
Hingga di penghujung senja jemari saling menggenggam

Nama yang masih terselip dalam lipatan-lipatan langit
Gaun senja akan kita mesrai sayang
Tanpa ragu restu terteguk penuh sakral
Aku yakin nama dalam singgasana Maha Restu akan hadir pada waktu yang tepat

Semailah tanpa ragu
Air muka merona mendayu tulus
Tanpa harus memaksa fajar terbit
Kawanku aku tak akan bercerita siapa nama yang terselip di langit
Karena nama itu adalah kado rahasiaku, tentu dalam genggaman Maha Rahasia

Kawan terimah kasih telah meluangkan waktu
Menikmati gaun senja yang tergerai cantik
Sama-sama kita berjibaku merafalkan do'a
Untuk wangi juang
Petualang cinta adalah bumbu kehidupan
Sebab sejatinya cinta selalu hadir tanpa memilih ruang

Ombak tenang tak bergemuruh
Senja semakin merias cantik di pintu magrib
Suara adzan berkumandang
Isyaratkan jiwa-jiwa petualang
Untuk sejenak mengecup sujud

Kawanku sujud adalah titik khusyuk untuk menyadari diri kita sebagai hamba
Kawanku tetaplah teduh
Kawan sepersekian detik Maha Skenario
senantiasa memberi misteri

Meneduhlah
Tundukkan akal sejenak
Hadirkan hati memesrai sujud
Teduhlah batin pada laku gerak
Karena kita adalah hamba bukan Tuhan

Setetes air bening bola mata mencair
Di atas rumah apung dikelilingi pucuk-pucuk peradaban
Meresapi kekerdilan diri atas segala kuasa Maha Penentu
Meski manuver tersaji terkadang terbalut kepalsuan
Namun ketangguhan jiwa sosok perempuan matahari tak akan lemah

Hidup bukan hanya sekedar mampir namun esensi manusia dalam diri
Itulah makna dari kebermaknaan hidup
Meneguk rintangan dan gemilang juang
Sejenak kupinjam pesan sakral di atas perahu-perahu nelayan yang telah bersandar

Jangan pernah lalai membumikan kebaikan
Jangan pernah lalai mengingat Tuhan
Ingatlah ditiap hari-harimu
Berbuat baiklah meski seujung kuku
Ingatlah Tuhan meski sedetik

Gemerlap zaman kadang menggila
Kegamangan diantara para pencaci
Di atas titah mensucikan yang tidak benar
Mengharamkan yang benar
Lalu masihkah kita mendungu dalam kedunguan? 

Lekaslah beranjak tajamkan nalar
Tiap detik ancaman kian dekat
Memilih atas dasar kemanusiaan
Bukan atas dasar menggilai tepuk tangan
Apalagi melanggengkan ketakutan

Cernalah dengan hati
Tepislah ego
Bukankah setiap manusia berhak dimanusiakan
Ahh hati gelap menjadi penyakit
Saat agama dijadikan tumbal kekuasaan

Secantik gaun senja meretas warna
Sebab di bibir pantai leluhur telah berpetuah
Jangan pernah mengingkari pancasila
Pulau-pulau menyatu terikat utuh

Gerailah gaun senja merafalkan mantra-mantra kebersatuan
Tepis perpecahan dan adu domba
Cukup orde baru menjadi saksi di negeri ini
Tabir kegelapan masa lalu
Cukup jadi cermin
Masa kini dalam buaian juang
Masa depan meneguk wangi keemasan

Artikel Terkait