Perayaan hari raya Idul Fitri kemarin sangat identik dengan takbiran. Namun ada satu hal lagi yang juga tidak ketinggalan. Apakah itu? Ia adalah petasan dan kembang api.

Menurut Wikipedia, Petasan (juga dikenal sebagai mercon) adalah peledak berupa bubuk yang dikemas dalam beberapa lapis kertas, biasanya bersumbu, digunakan untuk memeriahkan berbagai peristiwa, seperti perayaan tahun baru, perkawinan, dan sebagainya, sedangkan kembang api merupakan bahan peledak berdaya ledak rendah piroteknik yang digunakan umumnya untuk estetika dan hiburan.

Sekilas, petasan dan kembang api memiliki beberapa manfaat. Namun, kita lebih sering mendengar di masyarakat bahwa petasan dan kembang api hanyalah benda yang hanya mempunyai dampak negatif saja. Salah satunya yaitu hanyalah membuang-buang duit. Hal ini merupakan stigma negatif yang mungkin akan terus kita dengar dari generasi ke generasi.

Petasan dan kembang api sendiri merupakan dua benda yang berbeda. Petasan hanya meledak di darat, tidak disertai warna, dan biasanya hanya dibuat dengan menggunakan keterampilan tangan. Sedangkan kembang api dibuat sedemikian rupa agar meledak di udara, disertai dengan warna-warna yang indah, dan biasanya diproduksi di pabrik dengan merk dan kode produksi yang resmi.

Di Indonesia sendiri, petasan sudah menjadi hal yang lumrah ditemui terutama saat bulan Ramadhan, Idul Fitri, dan Tahun Baru. Kebanyakan anak-anak bermain petasan dan kembang api sesudah sahur. Mereka dengan seenaknya melempar petasan–petasan yang mereka bawa pada teman-temannya atau mobil yang sedang lewat, tanpa memikirkan akibatnya.

Sebagaimana yang kita ketahui, petasan dan kembang api sama-sama memiliki potensi untuk merusak dan mengganggu masyarakat sekitar. Petasan dan kembang api sama-sama bersifat eksplosif (mudah meledak), menghasilkan polusi suara yang terkadang memekakkan telinga, bahkan dalam kasus tertentu dapat menyebabkan kebakaran rumah.

Petasan yang tidak sengaja meledak di tangan dapat menyebabkan luka bakar yang hebat, bahkan hingga diamputasi. Bahkan dalam kasus terbaru, sebuah ledakan yang disebabkan oleh bahan pembuat petasan terjadi di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Satu rumah rusak berat dengan delapan orang menjadi korban, tiga diantaranya meninggal dunia.

Namun, kembali ke awal, apakah petasan dan kembang api memiliki manfaat?

Ya! Walaupun dari sekian banyak dampak yang ditimbulkan, masih ada secercah kegunaan yang jarang kita soroti dari kedua benda ini.

Sebagai masyarakat Indonesia, petasan dan kembang api sudah menjadi bagian yang erat dan tak terpisahkan. Penggunaan petasan dan kembang api seperti sudah menjadi tradisi di kehidupan orang Indonesia.

Saat suatu keluarga menyelenggarakan hajatan, petasan kerap digunakan untuk memeriahkan sekaligus mengingatkan warga sekitar bahwa ada acara hajatan yang diselenggarakan oleh keluarga tersebut. Kegiatan meledakan petasan ini rasanya sudah menjadi suatu budaya yang tidak boleh dilupakan, walaupun menurut penulis masih ada cara-cara lain untuk memeriahkan maupun memberitahukan tanpa harus meledakkan petasan.

Kembang api juga kerap digunakan dalam beberapa perayaan besar, salah satunya yaitu perayaan Tahun Baru Masehi. Rasanya seperti ada yang kurang apabila saat pergantian tahun tidak melihat indahnya langit yang berwarna-warni dari letusan-letusan kembang api di setiap sudutnya. Pertunjukan kembang api ini seperti sudah menjadi budaya di seluruh dunia dalam merayakan tahun baru.

Dalam perayaan menyambut tahun baru Imlek, pesta kembang api dan pertunjukan barongsai juga kerap diselenggarakan dalam rangka memeriahkan dan menyongsong tahun baru. Biasanya ribuan warga akan memadati area perayaan demi melihat pesta kembang api yang akan mewarnai langit serta mengabadikannya.

Selain itu, saat mendekati hari raya Idul Fitri dan Tahun Baru Islam, banyak anak menyalakan berbagai jenis petasan dan kembang api sehingga membuat perayaan Idul Fitri dan Tahun Baru Islam menjadi lebih meriah.

Dalam skala kecil, para orang tua juga membelikan kembang api bagi anak-anak mereka sebagai sarana hiburan kecil-kecilan. Warna-warna kembang api yang indah tentu akan membuat mereka senang. Inilah salah satu sumber kebahagiaan bagi mereka.

Selain itu, jika dilihat dari sisi sejarah, kembang api yang ditemukan di Cina digunakan untuk menakut-nakuti roh jahat. Orang-orang Tiongkok percaya bahwa ledakan bisa mengusir roh jahat tersebut.

Penggunaan kembang api sebagai media hiburan juga disetujui oleh para pemimpin-pemimpin Inggris zaman dahulu. Kembang api pertama kali digunakan di Inggris saat merayakan pesta pernikahan Henry VII pada tahun 1486. Selain itu, tradisi pesta kembang api di Amerika mulai dilaksanakan pada 4 Juli 1776 dalam rangka merayakan Deklarasi Kemerdekaan.

Jika kita simpulkan, petasan dan kembang api memiliki dua fungsi utama yaitu sebagai sarana hiburan dan memeriahkan suatu perayaan. Namun, satu hal yang perlu ditekankan bahwa saat akan menyalakan petasan dan kembang api, kita harus selalu memperhatikan dari segi keamanannya. Selalu awasi anak-anak dalam bermain petasan maupun kembang api. Jangan sampai hanya karena bermain petasan dan kembang api kita sampai mencelakai diri sendiri, orang lain, maupun masyarakat sekitar.