Lelaki itu berdiri tegap. Ia tersenyum, terlihat ikhlas. Sorot matanya masih penuh keyakinan. Seakan memberi pesan bahwa kita tidak kalah. Hanya kemenangan kita yang tertunda. Masih ada pertarungan-pertarungan selanjutnya yang lebih besar. Di situlah kita akan menjadi pemenang.

Ia baru saja menyaksikan kenyataan. Suaranya lebih sedikit dari kompetitornya dalam pemilihan Ketua Umum PB PMII di Kongres PMII ke-20. Ia memperoleh 112 suara, sementara kompetitornya 130 suara.

***

Lelaki itu bernama Muhammad Syarif Hidayatullah. Biasa orang menyapanya dengan nama Chaliq. Seorang anak muda yang lahir dari Timur Indonesia. Tepatnya di Ujung Pandang Sulawesi Selatan pada 1990 silam.

Saya pertama kali bertemu dengannya ketika menginjakkan kaki di Jakarta. Tahun 2017. Saat itu ia dipercaya sebagai Ketua Bidang OKP di PB PMII. Namun, sebelumnya saya sudah sering mendengar namanya. Sewaktu dia masih menjadi Ketua PKC PMII Sulawesi Selatan. Saya makin mengenalnya ketika tinggal bersama-sama di Ibu Kota.

Perawakannya tidak seperti John Rambo dalam film First Blood. Petarung dalam medan perang yang bertubuh kekar. Ia petarung yang bertubuh kecil. Tetapi ia memiliki ide dan gagasan-gagasan besar. Juga melakukan gerakan-gerakan besar. Makanya selama aktiv di PMII, ia sering diamanahkan menjadi seorang pimpinan. Pernah menjadi Ketua Komisariat PMII STIMIK Handayani Makassar. Pernah menjadi Ketua Cabang PMII Makassar. Lalu menjadi Ketua Korcab PMII Sulawesi Selatan. Hingga menjadi Ketua Bidang OKP PB PMII.  

Bukan hanya sampai di situ. Ide, gagasan, serta gerakan-gerakan besarnya ia rekam dalam buku yang ditulisnya. “PMII di Era Disrupsi”. Berharap generasi selanjutnya bisa belajar dari situ. Atau mewarisi spirit yang dimilikinya. Lewat rekam jejak yang ia catat dalam bukunya.

Ia juga bukan seperti Pangeran Mohammed Bin Salman anak Raja Salman yang terlahir sudah kaya akan harta. Ia petarung yang terlahir dari Ayah seorang kiai sederhana. KH. Abdul Djalil Musa, pimpinan Pondok Pesantren DDI Tappalang Sulawesi Barat. Ia kaya akan nilai-nilai keagaman dan kehidupan yang tertanam sejak kecil. Makanya ia dekat dengan kalangan santri. Hidupnya sederhana dan suka menderma.

Karena kepribadian yang dimilikinya. Karena rekam jejak dalam pergerakannya. Serta kemampuan kepemimpinannya. Oleh sahabat-sahabatnya, khususnya anak-anak Timur Indonesia, ia didorong untuk menjadi salah satu calon Ketua Umum PB PMII dalam Kongres PMII ke-20. Anak kecil dari Sulawesi itu siap bertarung dalam momentum pemilihan Ketua Umum PB PMII, organisasi mahasiswa yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama.

Dalam dinamika menjelang pemilihan, berbagai tuduhan dan fitnah dialamatkan kepadanya. Dituduh sebagai calon skoci, hanya pengumpul suara untuk calon lain. Hingga difitnah sebagai kader aktif partai politik. Semuanya ia hadapi dengan kesabaran. Tidak balik menyerang. Karena yang ia pahami, bahwa semua kompetitornya adalah sahabat-sahabat terbaiknya yang merupakan saudara serahimnya di PMII.

Ia hanya bertahan dengan serangan-serangan itu. Ia membuktikan berbagai tuduhan dan fitnah itu tidak lah benar. Ia hadir bertarung dengan ide dan gagasannya. Visinya jauh ke depan. Tidak mau terlibat dalam perdebatan saling menyerang pribadi dengan tuduhan dan fitnah. Sekalipun ia dikepung dari berbagai arah.

Bukan hanya tuduhan dan fitnah yang mengepungnya. Tapi juga banyak senior atau alumni PMII dari yang kelas teri sampai kakap menyerbunya. Ia membuat mereka turun gunung hanya untuk menjegalnya. Bahkan sekelas Parpol hingga oknum lembaga penyelenggara pemilu harus turun tangan. Oligarki menyerangnya.

Sementara ia berdiri tegak, sendiri. Hanya bersama sahabat-sahabat setianya. Sahabat-sahabat setimnya. Pun alumni dan senior cukup dimintai restunya. Tanpa harus diajak turun gunung ikut mengintervensi jalannya pemilihan. Ia tak mau merepotkan banyak senior atau alumni yang merestuinya untuk ikut langsung memenangkannya. Tetapi ia mampu merepotkan banyak senior dan alumni yang tidak merestuinya untuk bangun dari tidur panjang mereka dan turun gunung untuk menjegalnya.

Ia tak mundur. Sejengkal pun. Sekalipun di kepung. Ia terlahir sebagai seorang petarung. Ia tak takut badai dan gelombang maut, ibarat pelaut ulung. Seperti dalam potongan bait pusi seorang penyair dari Sulawesi La Ode Balawa yang berjudul “Anak Sulawesi”:

Anak Sulawesi

Anak-anak pulau karang yang pantang larang

Pelaut-pelaut ulung yang tak takut maut

Sebelum nyawa menembus badai

Tulang merangkul karang

 

Dari timur negeri matahari terbit

Kalian layarkan perahu Lambo dan pinisi nusantara

Kalian kibarkan panji-panji siri demi harga diri

Karena malu hanya pantas dibayar nyawa

Aib harus dicuci dengan darah

 

Anak Sulawesi

Anak-anak laut yang tak takut maut

Pelayar-pelayar sejati yang tak takut mati

Karena badai hanyalah permainan cuaca

Di batas kesetiaan arus pada lautan

***

Tengah malam pemilihan Ketua Umum PB PMII dimulai. Putaran pertama ia lolos dengan 63 suara. Dia berada di urutan kedua dari 4 calon yang lolos untuk lanjut diputaran kedua. Menjelang subuh dini hari, putaran kedua dilaksanakan. Hasil perhitungan menunjukkan ia memperoleh 112 suara. Ia kalah jumlah suara dari kompetitornya yang mengumpulkan 130 suara.

Ia tetap sejuk melihat hasil suaranya dalam pemilihan. Sesejuk embun yang mengepul di subuh itu. Ia berdiri tegak, mengucapkan selamat kepada yang terpilih. Sambil memeluknya. Lalu, ia berbalik meninggalkan arena dengan kepala tegak.

Tetiba gawai saya berbunyi. Pesan Whatsup masuk darinya. “Kuat dan ragu. Kita bersama dan tidak akan saya pernah tinggalkan. Kita jangan sedih ya!”

“Saya bangga berada di barisan kita Bang,” balas saya.

Di mata saya, Chaliq telah menunjukkan bagaimana bertarung tanpa harus melukai lawan. Ia juga mengajarkan bagaimana cara bertahan di tengah gempuran dari segala penjuru arah yang berlawanan. Yang lebih penting dari itu, ia mengajarkan bagaimana menjaga kebersamaan dan kolektivitas dalam sebuah pertarungan. Ia petarung yang tak henti memberi keyakinan dan motivasi kepada sahabat-sahabatnya. Sekalipun takdir tak berpihak kepadanya untuk menjadi Ketua Umum PB PMII, ia tetap mampu berdiri tegak dan kokoh. Seperti huruf alif dalam aksara hijaiyah yang terus berdiri tegak. Petarung itu Chaliq. (*)