Seseorang bercerita tentang perempuan biasa yang baru saja keluar dari pertapaannya di Kuil Zen di Kamakura. Dan ia bertemu banyak orang dalam perjalanan pulangnya. Dalam keramaian yang hening, di dalam pesawat menuju Jakarta, seorang laki-laki bertanya, “Ceritakan padaku tentang kesendirian.”

Perempuan itu menghela napas dan berkata," Kesendirian adalah menghimpun seluruh keramaian ke dalam dirimu. Membiarkan galaksi meledak di dalam dirimu, mendengar gemuruh Samudra di rongga telingamu, mencicipi manis dan pahit di dalam lidahmu pada waktu yang sama.

Dunia yang terhimpun di dalam dirimu adalah dunia sejak awal waktu hingga akhir yang tak berakhir. Genesis menjelaskannya dengan amat gamblang, bagaimana hari demi hari punya ceritanya sendiri. Tentang gelap yang dipisahkan dari terang, tentang air yang dipisahkan dari daratan, tentang Ia yang melayang-layang di atas air. Bahkan kitab-kitab setelahnya bercerita tentang para nabi dan pembangkang. Semua itulah yang terhimpun di dalam kesendirian.

Kesendirian itu memicu datangnya keheningan. Apakah keheningan itu wahai laki-laki yang punya kejumawaan? Ia adalah menjauh dari berbagai bentuk perdebatan yang memapak segala soal dalam kotak-kotak salah dan benar, atau garis-garis hitam dan putih.

Mereka yang senang dengan riuh perdebatan semacam itu, hindarilah. Mereka yang senang mempersalahkan orang lain, jauhilah. Sebagaimana engkau juga harus menjauhi dan menghindari orang-orang yang terlampau pasif dan membenarkan segala soal."

"Kenapa kita harus menjauhi mereka dan kenapa pula mereka menjadi demikian salah di matamu?" Tanya si lelaki.

Perempuan itu menggeleng dan bibirnya bergerak cepat, "Aku tidak mempersalahkan mereka. Aku menjauhi mereka untuk diriku sendiri. Alquran berkata in Ahsantum, Ahsantum Li Anfusikum (Jika engkau berbuat baik, kamu berbuat baik untuk dirimu).

Jadi, segala hal yang kuhindari, kujauhi, kucintai, kusukai dan kugemari bukanlah untuk hal-ihwal itu, tapi untuk diriku sendiri. Mereka tidak salah jika mereka senang dengan soal-soal yang kujauhi. Dunia memang menginginkan mereka berbuat itu dan Ia yang Maha Berkehendak pun demikian.

Kita hanya berbuat ini dan itu untuk diri kita sendiri. Laut tak berombak untuk para peselancar dan tak berbadai untuk menenggelamkan para perompak. Gunung tak Meletus untuk membakar pemukiman dan pertanian di sekitarnya. Mereka melakukan itu untuk diri mereka sendiri. Untuk tawa dan tangis.

Mereka mengerti, entah hiburan atau kesedihan, keduanya adalah sama dan dialami oleh diri yang sama. Tak ada kebahagiaan tanpa kesedihan dan tak ada kesedihan tanpa kebahagiaan. Keduanya adalah dua sisi dalam satu diri yang tak beda.

Tahukah engkau wahai laki-laki? Ia telah menetapkan Ramses menjadi pembangkang dan tak mau mendengar kebenaran dari bibir musa. Ia mungkin melakukan kesalahan pada saat itu dan ia telah menerima kutukan yang begitu besar. Tapi saat cerita ini sampai ke kitab-kitab setelahnya, dan ke telinga-telinga kita, semua cerita itu menjadi berkah, syukur juga kebahagiaan.

Seperti Musa dan Ramses, apa yang kita alami saat ini pun demikian. Mungkin kau telah melakukan kesalahan yang begitu besar; memusuhi orang-orang benar, membentak istri dan anakmu, menjauh dari ibu dan bapakmu, demi sesuatu yang kau sebut kebahagiaan dan cita-cita.

Lalu di perjalanan yang sungguh berbatu dan penuh dengan pendakian, kau menemukan begitu banyak hambatan. Kau pun lupa dengan apa yang kau cita-citakan dan melupakan rasa dari kebahagiaan yang pernah kau pikirkan. Apakah itu benar atau salah?

Itu bukan soal benar-salah bukan? Semua itu adalah tentang belajar menghimpun kata dan kalimat dari dunia yang berbisik dan berteriak kepada kita. sebagian kita mendengar dan sebagian kita menjadi tuli.

Demikianlah kesendirian memungkinkan diri kita menjadi sedemikian luas untuk menerima dunia yang luas dan Panjang dalam bentangan waktu. Itu lah keheningan yang meski kau berada di dalam keramaian, ia berada di dalam dada dan kepalamu.

Meski kau berada di dalam perdebatan, tak ada kebencian maupun rasa tidak suka. Yang ada hanya lah dirimu; yang mengerti batas dan nirbatas, yang mengerti galaksi luas dan bakteri yang kecil, yang mengerti kebahagiaan dan kesedihan maupun kemurungan dan keriangan.

Inilah kita wahai laki-laki. Kita adalah kesendirian. Kita tak pernah benar-benar bersama dengan orang-orang di luar diri kita sebagaimana kita tak pernah benar-benar terpisah dari mereka."

Waktu menunjukkan pukul 15.00 dan Pesawat mendarat di bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Si lelaki tampak masih tertegun, bingung, gusar sekaligus tenang. Perempuan yang berpakaian biasa, yang baru saja pulang dari pertapaannya menyusuri Lorong pesawat menuju pintu keluar. Yang di lihat si lelaki hanya punggung yang penuh dengan kata dan cerita.