Musim kemarau telah memberi angin segar kepada para tembakau di beberapa daerah di Pulau Madura tak luput juga para petani di Desa saya Sanatengah, salah satu desa di kabupaten Pamekasan. Para petani antosias menyambut musim ini, ya karena tembakau sumber penghasilan masyarakt di Desa saya disamping padi dan jagung.

Sebagai petani, saya meyakini bahwa kebutuhan Modal sangat utama apalagi tembakau sangat menelan biaya yang banyak, dari bibit perawatan sampek panenpun tak lepas dari biaya, dan untuk mendapatkan modal itu berbagai macam cara dilakukan mulai dari pinjem dan bahkan hutangan berbunga pun dilakukan. Itulah tradisi aneh sebelum bertani tembakau, kenapa aneh, aneh karena kebetuhan utama cari modal harus menderita.

Sekilas proses pra bertani tembakau. Hal yang paling mengerikan adalah ketika panen, para petani seperti babu yang melayani para pemodal dan pembeli, kasian sih, tapi itu faktanya, ngeri melihat penderitaan petani padahal semestinya berbahagia karena sudah panin.

Kejadian gila ini yang terus terjadi tiap tahun di Desa Saya. Tak ada kebahagian yang terlihat, bener-bener sengsara dengan hasilnya. Bener kata pribahaha "akhir yang baik dari awal yang baik" dengan awal berhutang pasti akhirnya membayar hutang

Istilah yang kaya makin kaya tak hanya terjadi di kota saja, karena petani di desa saya hanya mendapatkan kemiskinan karena tertindas dengan sistem para penumpuk harta yang menjelma menjadi pahlawan dengan membeli tembakau, tapi nyatanya merampok hasil pertanian. Kasian para petani hanya menjadi lumbung kekayaan para ber-uang tak berpri kepetanian.

Mungkin perlu dijebarkan kenapa petani tembakau menderita dengan hasilnya. Dimulai dengan berhutang memupuk tanaman dengan pupuk yang takramah lingkungan sampek akad penjualan yang aneh bin ajaib. Kenapa? Karena dimanapun dialam semesta ini, yang namanya jual beli pasti yang punya barang yang nentuin harga, tapi tidak dengan tembakau. penentu harga barang justru para pembeli, aneh bukan? Lebih gila lagi, karena petani yang lari terbirit birit mengejar para perampok harta orang miskin berkedok pembeli.

Para pembaca budiman, perhatian kalian dalam menanggulangi kekacauan ini dapat menggerakkan hati pemimpin di negeri ini. Harapanya sederhana, berilah hak penuh dan kuasa pada pemilik tembakau di negeri ini, kekuatn hak kuasa dan milik terkait penentuan harga dapat membantu kesejahteraan di desa saya. Sebagai rakyat jelata saya hanya mengharapkan kesejahteraan bukan kekayaan.