Saya adalah anak petani. Di desa kami, rata-rata orang berpenghidupan dari pertanian. Siklus kehidupan kami sangat berat, tetapi belakangan kami, atau setidaknya saya, menyadari bahwa hal itu sangat menyenangkan. Pagi hari, sebelum berangkat ke sekolah, kami harus memberi ternak makan.

Ada-ada saja panggilan kami untuk ternak itu. Bisa dipastikan, setiap pagi itu menjadi hari yang bergairah karena orang per orang seakan saling bersahutan memanggil ternaknya masing-masing. Selekas itu, kami langsung membersihkan diri dengan cuci muka.

Kami hampir tak pernah mandi kalau berangkat ke sekolah. Ke sekolah, kami berjalan beriringan dan bersisian. Saling mengobrol, bermain, berkejar-kejaran. Hujan, dingin, lumpur, atau bahkan batu-batu tajam tak menghalangi kegembiraan kami ke sekolah. Bagi kami, ke sekolah adalah menempuh harapan dan hidup yang lebih baik. Makanya itu, kalau ke sekolah, wajah kami tak pernah merungut. Seberat apa pun beban, kami akan selalu ceria.

Kami tak peduli, apakah nanti di sekolah kami akan dijewer, dicubit, atau bahkan dipukul dengan kayu (rotan) yang sudah disiapkan khusus oleh guru. Bagi kami, hukuman itu adalah cambuk agar kami kembali pada masa depan.

Bukan tidak sakit hukuman itu. Sakit! Karena sakit, kami pun selalu berusaha berbuat dan bersikap sebaik mungkin. Jangan pernah berharap ketika dihukum guru, maka kami akan mengadu pada orang tua. Sebab, mengadu pada orang tua acap menjadi senjata makan tuan karena itu akan membuat kami dihukum dua kali.

Menjadi Lumbung Utang

Ya, guru dan orang tua selalu seirama dalam mendidik kami. Tidak ada yang saling mengintimidasi. Mereka justru saling mendukung. Mereka berjalan bersisian dan berbagi peran. Guru di sekolah dan orang tua di rumah.

Tetapi, cara mereka menghukum kami bagi saya ada yang unik, bahkan mungkin janggal. Sebab, di balik hukuman itu, mereka, baik itu guru terutama orang tua, selalu menggaung-gaungkan ketakutan untuk menjanjikan masa depan, “Apakah kau mau ke sawah setiap hari, siang sampai sore, dan entah itu hujan atau terik?”

Kami lalu takut. Pelan-pelan, dalam hati kami tertancapkan sebuah pemahaman bahwa nasib yang kini mendera orang tua kami adalah aib. Karena itu, ketika ditanya tentang cita-cita, kami tak pernah bermimpi menjadi petani. Petani adalah nasib sial. Dan, sawah adalah neraka.

Bagi kami jelas, terminologi "orang tani", seperti digumamkan Damhuri Muhammad, adalah sudah tegak sebagai martabat rendah yang merepresentasikan peruntungan tidak mujur. Sebaliknya, "orang rantau" hendak memperlihatkan sebentuk cita-cita, bahkan puncak pencapaian yang hendak direngkuh oleh semua orang.

Itulah sebabnya, tak jarang orang tua kami menjual sawahnya hanya agar kami merantau, menjadi TKI, syukur-syukur untuk kuliah. Sepetak sawah yang mestinya menjadi lumbung padi pun pada akhirnya menjadi lumbung utang. Yang mestinya menjadi harta warisan menjadi harta gadaian. Tengkulak menagih sedang nasib anak di perantauan masih tak jelas. Dan, hasil panen semakin merosot. Pemasukan semakin sedikit.

Akhirnya, sepetak sawah lain dijual lagi. Begitu seterusnya hingga kemudian, sepetak sawah terakhir harus dijual juga. Tak sedikit dari orang tua kami lalu menyusul ke kota. Atau, ketika orang kota datang ke kampung lalu membeli tanah dan menjadikannya menjadi sawah modern, orang tua kami dibuat menjadi budak. Sungguh Miris. Tanah itu dulunya adalah tanah kami, tetapi sekarang menjadi tanah para tengkulak.

Orang tua kami pun menjadi budak di tanah kami. Beberapa dari kami bahkan setelah tak berhasil di perantauan kembali ke kampung untuk menjadi budak di bekas sawahnya. Memang, ada saja orang yang bernasib lebih mujur karena mereka tak menjual sawah secara utuh. Mereka hanya menggadaikan tanah, atau, meminta modal, tetapi dengan syarat, tengkulak mengatur bagaimana cara untuk bertani dan bagaimana pembagian hasil panen.

Tetapi, tetap saja skema ini tragis karena nyata kini bahwa orang tua kami menjadi pekerja di sawahnya sendiri, bukan menjadi pemilik sawah. Mereka bertugas mencangkul, membenihkan, memupuk, dan memamanen, tetapi yang berhak menjual adalah pemilik modal.

Singkatnya, mereka bekerja untuk mencari upah, bukan untuk mencari penghidupan. Mereka pun dikejar-kejar target. Mereka terbebani sehingga yang dulunya di kampung tegur sapa dan gotong royong masih jamak, kini nyaris hilang. Kekeluargaan pun usang.

Kini, setelah di kota, ada kerinduan bagi saya untuk kembali ke kampung. Bukan untuk bertani sebab kami sudah tak punya lahan lagi. Baiklah, mungkin orang tua saya bisa bertepuk dada karena kini saya boleh dikatakan sudah bisa mandiri. Sepetak sawa dijual bagi saya dan adik-adik adalah untuk kuliah, bukan untuk menjadi budak.

Bekerja untuk Hidup

Nah, kerinduan saya ke kampung adalah untuk membeli sepetak sawah. Ya, sepetak sawah untuk digunakan untuk bertani, bukan menjadi tempat industri. Orang tua saya ingin bertani, tetapi murni untuk bertani, bukan diperbudak untuk mencangkul, membenih, memupuk, dan memanen. Terserah dia bagaimana mengolah tanah, bukan terserah tengkulak. Terserah dia mau dijual atau dimakan, bukan terserah tauke.

Sebab, jujur saja, keluarga saya merupakan salah satu keluarga yang termasuk mengalami kesadisan perubahan zaman. Berubahnya alur pertanian menjadi industri membuat kami menjadi budak. Kami bekerja, terutama di kota, ya, untuk upah, bukan untuk hidup. Dan, nasib kami tergantung kesehatan kami.

Mudah-mudahan tak ada saingan. Sebab, sekali kami lengah, kami akan dipecat dan berakhirlah upah itu. Itulah sebanya di dunia kerja, kami selalu saling menyenggol dalam diam karena kami sudah bersaing. Kami tak pernah berkeluarga. Berkeluarga hanya pada tataran permukaan, sedang di perasaan, kami sedang saling menikam.

Sialnya, zaman tak pernah berhenti. Kini, arus industri mulai tergantikan ke arus informasi. Dan, orang kampung pun semakin semakin kelimpungan. Bertumpahanlah informasi secara murah dan meriah, bahkan megah yang mencuatkan bahwa kehidupan kini lebih baik di kota. Pesannya sangat jelas, silakan jual petak sawah Anda dan pergilah ke kota.

Ini benar-benar nyata karena kini di kampung kami, semakin tahun semakin banyak anak muda ke kota. Mereka dibekali dengan hasil gadaian tanah. Dan, pesan guru dan orang tua pun masih saja sama: jangan menjadi petani. Terserah mau apa di kota, entah itu menjadi penjaga toko, menjadi penambal ban, menjadi penjual keliling, yang penting jangan di kampung.

Tujuan saya menuliskan artikel ini adalah bukan untuk memanas-panasi, tetapi agar pemerintah kiranya mengembalikan desa pada tempatnya, mengembalikan sawah pada posisinya. Basiskan pendidikan kita pada alam sekitar. Jangan diingkari bahwa negeri kita adalah negeri pertanian.

Saya khawatir, jika pemerintah tak berhasil mengatur ulang stigma pada buramnya menjadi petani, ke depan, semua petak sawah di kampung akan menjadi milik para tengkulak. Kalau saat itu terjadi, apakah kita harus mengimpor beras?

Dan, tak eloknya, kalau sudah begini skemanya, para pengusaha akan mengubah sawah menjadi arus industri. Melalui arus informasi, mereka akan merayu orang kota data ke kampung dengan sabda bahwa kampung itu akan disulap menjadi kota baru.

Mudah ditebak, orang tua kami, atau bahkan kami kelak akan menjadi budak di sawah kami. Maksud saya, kini dana desa lagi gencar-gencarnya. Ada baiknya dana itu digunakan untuk memodernkan pertanian, bukan mengubah sawah menjadi lahan industri.

Ketika di Jerman tahun lalu, saya kagum bahwa ternyata petani di sana adalah orang-orang kaya. Mereka tak lagi mencangkul, tetapi sudah serba modern. Bisakah hal ini ditiru dan diterapkan agar—khususnya orang-orang kampung—kelak tidak menjadi manusia yang diperbudak zaman? Biarlah hanya kita yang mengalaminya! Jangan wariskan perbudakan zaman ini pada anak-anak kita. Semoga!

#LombaEsaiKemanusiaan