Kisah pencarian Tuhan oleh manusia bisa diparodikan dalam sebuah permainan petak umpet. Oleh karena itu, wajar jika semangat untuk mencari Tuhan telah mengilhami permainan tua dan klasik yang bernama Hide and Seek.

Permainan sejuta umat ini cukup populer dengan format aturan yang sederhana, yaitu sembunyi dan cari! Oleh karena kepopulerannya, masing-masing negara mempunyai model dan semangat permainan ini dengan sebutan yang berbeda-beda.

Kata-kata terakhir sebagai simbol kemenangan dalam permainan ini biasa diteriakkan dengan: aku telah menemukannya! Mungkin sama dengan narasi kisah Nabi Ibrahim yang mencari Tuhan, atau kisah para sufi lainnya yang patriotik dan mengharu membiru dengan teriakan kemenangan saat menemukan Tuhannya. 

Begitu tuanya konsep permainan yang berbasis semangat pencarian Tuhan ini, maka wajar saja jika permainan Hide and Seek atau petak umpet ini setara dengan permainan kuno Yunani yang bernama Apoodidraskinda. Sebuah kemiripan yang pernah dijelaskan dengan gamblang oleh penulis Yunani abad ke-2, Julius Pollux.

Seiring dengan perkembangan zaman, maka tersebutlah permainan petak umpet ini dalam berbagai penamaan, seperti Escondite di Spanyol, Jeu de Cache-Cache di Prancis, Machboim di Israel, Sumbaggoggil di Korsel, De-av-ati ascunselea di Rumania, dan Hitori Kakurenbo di Jepang.

Sedang, di beberapa negara benua Amerika, ada yang bernama: Tuja di Bolivia, Escondidas di Ekuador dan Chile, dan Cucumbe di Honduras dan El Salvador.

“Mencari Tuhan” memang identik dengan keimanan yang haus di tengah kesetanan dirinya. Jarang ada kisah heroik yang berjudul Mencari Setan.

Setan tak perlu dicari jauh-jauh. Karena setan sangat dekat sekali, yaitu legam jiwa kita sendiri. Seperti halnya kita yang hanya bersembunyi di balik air mata dan tawa dalam bentangan rasionalitas yang tajam.

Manusia tidak dibuat untuk bersembunyi. Sejak awal, keinginan besar kita adalah untuk mengetahui dan dikenal. Jadi, ujaran di atas, “aku menemukannya”, semestinya “aku menemukan aku”. Ya, tepat, kamu telah menemukan kesetanan dirimu sendiri.

Inilah salah satu pemantik lahirnya psikopat dalam sebuah klaim kebenaran materialistik yang membabi-buta tanpa adanya penyertaan kelembutan (hati). Hal ini sudah diingatkan di dalam Alkitab: “You will seek me, and find me when you seek me with all your heart,” God says. — (Jeremiah 29:13).

Merasa telah menemukan Tuhan, kadang mereka bertindak seenaknya. Inilah yang mendasari pembangunan karakter psikopat dalam film Ready or Not. Ketika orang kaya salah memilih Tuhan dengan pilihan materialistiknya, maka di situ mereka melihat kasta di bawahnya sebagai santapan lezat.

Film berdurasi 95 menit yang rilis 3 bulan lalu itu bergenre komedi horor misteri. Namun, layak juga disebut sebagai thriller. Sebab, film ini terlihat lebih banyak menghadirkan pertarungan antara protagonis yang diwakili oleh karakter Grace yang diperankan Samara Weaving dan karakter antagonis yang diwakili oleh anggota keluarga Alex yang memiliki perusahaan permainan La Domas itu.

Karakter antagonis yang keroyokan itu sepertinya kurang gereget. Padahal, sifat khas film thriller pada umumnya adalah sangat berkarakter. Kekuatan karakter antagonis dalam sebuah thriller sering dihantarkan dengan jalan membuat penokohan yang cenderung mempunyai sifat cerdas dan perkasa.

Inilah yang sering memancing penonton untuk ikut berpikir sepanjang plot yang dihantarkan.

Adapun karakter antagonis dalam film ini terlihat begitu konyol dan sangat mudah untuk dikalahkan. Sedang sisi horornya cukuplah mewakili, sebagaimana kelaziman film horor yang tidak begitu kuat dalam memberikan pesan moral.

Film genre horor rata-rata hanya menekankan pada sisi ketakutan penontonnya. Pesan moral film tak begitu diperhatikan. Inilah kesempatan para penulis resensi film untuk membantu memunculkannya.

Film Ready or Not ini disutradarai oleh Matt Bettinelli-Olpin dan Tyller Gillet, dan mempunyai tingkat (rating) “R”. Di mana banyak terdapat adegan kekerasan, kekasaran bahasa dan sirkumferensi penggunaan obat terlarang di dalamnya.

Untuk urusan esek-esek tidak dijumpai. Paling, hanyalah sentakan-sentakan berahi ringan ala kadarnya. Hal yang cukup mengganggu dalam film ini adalah keterlibatan anak-anak di bawah umur yang melakukan adegan sadisme. 

Mungkin sutradara ingin memberi penguatan atas keterlibatan anak-anak yang dekat dengan permainan petak umpet. Tapi, malah sebaliknya, memanfaatkan kehadirannya sebagai mesin pembunuh yang sadis sebagaimana para seniornya.

Film yang dibintangi oleh Samara Weaving dan Mark O’Brien ini dimulai dengan adegan suasana sakral sebuah pernikahan antara Grace (Samara Weaving) dengan pujaan hatinya, Alex (Mark O'Brien).

Alex, sang suami yang dari keluarga kaya raya pengusaha permainan Le Domas itu, tak mampu meneruskan kesakralan dan kebahagiaan perkawinan. Hal ini terjadi karena keluarganya mempunyai ritual aneh dalam penyambutan anggota keluarga baru dari jalur penikahan.

Awal petaka Grace, sang istri, yang harus dan wajib mengikuti ritual welcoming itu, adalah ketika menarik kartu pilihan permainan yang dilakukan saat jelang tengah malam itu. Nahas bagi Grace, ia dirugikan oleh nilai probabilitas kartu. Pilihan yang keluar tertulis jelas, Hide and Seek.

Pada awalnya Grace berpikir wajar-wajar saja tentang tulisan Hide and Seek itu. Ia sudah kenal dan bahkan mungkin sering memainkannya saat kecil.

Namun, kenyataan yang didapat jauh dari tradisi permainan petak umpet yang legendaris itu. Nyatanya, petak umpet yang dimainkan tengah malam itu telah menjadi sebuah ajang pertaruhan nyawa Grace.

Ia dicari untuk dibunuh. Aturan "sembunyi dan cari" yang merupakan ciri khas permainan petak umpet dan semestinya dilakukan dengan ceria dan menyehatkan, kini berubah menjadi ajang teror dan mimpi buruk bagi Grace.

Teknik-teknik kejutan yang sering digunakan dalam film horor dapat ditemui pada film ini. Dan, itu cukuplah baik. Melalui perubahan gambar ataupun kejadian secara mendadak, film ini bisa membuat detak jantung Anda berpacu cepat.

Hal menarik lainnya adalah perubahan mimik dan karakter Grace. Di awal Grace yang dikarakterkan sebagai sosok yang polos dan murah senyum, tetiba menjadi sosok yang sadis dan intoleran setelah memainkan petak umpet yang berdarah-darah itu.

Akhir film diisi dengan adegan yang berasal dari plot-plot berlubang. Artinya, tidak adanya kontinuitas dan terkesan meloncat-loncat. Terutama penyebab hancurnya atau meledaknya badan-badan mereka (keluarga Alex) saat matahari terbit.

Pada titik ini, sepertinya mereka ingin membuktikan apa yang dipegang selama ini, logos atau mitos. Dan, sialnya, ternyata itu bukan mitos!