Dengan memaknai kedukaan, manusia bermaksud bertahan. Bagaimana agar kelangsungan hidupnya dapat terus melaju, sementara kedukaan menyelinap sebagai penumpang gelap mungkin sampai akhir hayat.

Sejauh ini cara itu berhasil. Manusia meski betapa koyak batin, dan murungnya kehidupan hari ini, ia masih dapat hidup; masih berbisnis, masih menikah (lagi), masih liburan, masih bersolek, masih ngopi-ngopi, masih mengais nafkah, masih bersaing, masih menasehati orang lain. Bahkan menjadi semakin sibuk hari-harinya.

Jadi, bagi manusia yang penting adalah kelangsungan. Hidup adalah kelangsungan —meski  berlangsung bersama kedukaan batinnya.

Sekali waktu kita mendatangi terapis. Mulai dari medis sampai non medis, lantaran kedukaan berdentum-dentum menghantam lambung, sel, jantung, hati, tekanan darah, fluktuasi gula darah, gangguan pencernaan, gangguan tidur, gangguan makan, gangguan vitalitas hubungan badan — kehidupannya terganggu . Kedukaan anyar lahir sebagai anak kandung dari kedukaan sebelumnya.

Gangguan fisik boleh jadi mereda. Obat diracik dokter atau terapis. Dosis dan resep amat disiplin dijalani. Kehidupan berjalan kembali. Sementara kedukaan, cukuplah lagi dimaknai, dibingkai sihir ramuan arti. Kedukaan serasa lesap seketika oleh olah kata terpis yang lebih manis.

Jadi, bagi manusia yang penting kelangsungan hidup dapat terus berjalan, karena hidup harus terus berjalan — berjalan bersama sirosis batin yang dirundung murung.

Sekali waktu kedukaan mengungkapkan diri. “Aku adalah khazanah tersembunyi yang ingin dikenali” ( hadis qudsi ). Tapi kit tidak peduli. Jaman kiwari obat lari darinya lebih dicari dan marak ditawari: berpikirlah positif sehari-hari, ambil hikmah pada yang terjadi, isi semua waktu untuk menyibukan diri, mendekatlah pada yang ilahi, boleh juga olah raga, yoga atau meditasi.

Kedukaan seolah sukses terbasmi. Yang terjadi, ia hanya masuk dibenamkan lebih dalam ke ruang gelap batin, dan menjadi sutradara dari segala tindakan diri: hasrat, keinginan, ambisi, obsesi, kecondongan, pilihan, harapan, cita-cita, perhatian dan segala pengerahan daya upaya tiap detik dan inci dari kehidupan, polah-lampah hari demi hari.

Sepertinya resep itu bekerja mujarab, lantaran kita lalu merasa lega dan gembiraBisa jadi itu hanya proyeksi jeritan batin yang nelangsa mendamba keadaan hidup yang tanpa duka. Yang dituju hidup suka, maka tujuan itu melahirkan cara bagaimana memperolehnya. Cara tidak pernah berbeda dengan tujuannya. Sementara tujuan dan cara lahir didorong oleh keadaan batin yang senyatanya ada: lara.

Jadi kedukaan adalah induk yang dari rahimnya beranak pinak segala cita, proyeksi, tujuan dan cara.

Mungkin sekali waktu juga ada didengar orang mengajak untuk bertanya — selidik diri, agar apa yang muncul pada batin teramati dan difahami. “Mengapa saya berduka, mengapa kedukaan selalu ada entah saya berkecukupan atau kekurangan, entah saya sehat atau pun sakit, entah saya hidup saleh atau durjana? mengapa tidak ada orang yang lolos bebas dalam kehidupannya dari belenggu kedukaan?”.

Selidik diri tidak menawarkan kesembuhan dari kedukaan. Ia bukan obat, bukan pelipur atau “disinfektan” pembasmi virus dan bakteri. Selidik diri juga bukan suatu teknik yang dapat dilatih lalu diduplikasi untuk digunakan sewaktu dibutuhkan oleh diri sendiri dan orang lain. Selidik diri hanyalah sekedar diri bertanya pada diri secara polos dalam kebutaan, tak mengerti.

Selidik diri memungkinkan diri tidak lari demi menghindari apa yang tengah dirasa dan dialami. Kita bersamanya, dekat bahkan tak berjarak sambil bertanya-tanya, apa sesungguhnya ‘ini’ yang dihadapannya. Dalam selidik diri, kita pun tidak menunggu apalagi mengharap jawabannya, tidak peduli pada solusi: sudah familier dengan spekulasi. Kita hanya bertanya, dan tidak membutuhkan jawaban.

Dalam selidik diri kita tidak memiliki proyeksi apa-apa. kita dipersimpangan antara keputusasaan dan kobaran minat memahami. Kita tanggalkan opini maupun referensi entah dari pikirannya sendiri atau dari orang-orang yang mengaku sakti. Menjadi hanya seorang diri, seperti berada di belantara sunyi dengan segala kengerian dan ketidak pastian. Fakir harapan, bahkan kerja pikiran pun mentok di pojok gelap, diam berhenti. Ia hanya bersama yang ada—batin yang luka terbuka.

Dalam selidik diri, tidak untuk upaya membebaskan diri. Selidik diri tanpa kecenderungan pada apa pun itulah suatu peta duka seperti tergelar membentang. Peta duka bukanlah petunjuk arah, tetapi ia adalah diri dengan kerahasiaannya yang telanjang terpampang: alur, liuk, jeram dan kelok, hijau lebam seluruh isi jeroan, gelap pekatnya batin menjadi kasat terungkap. “Mengapa saya berduka?” adalah peta duka yang membentang begitu saja dan secara tidak disadari telah membawa keluar saya dari labirin pengap.

Bila selidik diri benar terjadi adanya, itu artinya batin yang adalah kedukaan untuk pertama kalinya berdaya hidup, ada gairah membara dan luapan daya selidik. Batin yang sebelumnya mandul karena over dosis ‘obat’ makna dan racun olah latih, begitu saja berdenyut, melek dari kebutaan, dan ketulian. Saya  menyelidik, pertanyaan selidik yang tidak berarah pada mata angin tertentu telah melesat, mendobrak selubung diri begitu saja, dengan demikian ada hidup dalam kebaharuan di mana kedukaan lenyap. Saya si pusat duka berakhir.

Selidik diri telah menjadi suatu keadaan kelimpahan daya hidup, selidik diri menjadi sebab sekaligus akibat. Kali pertama seumur hidupnya batin punya kehidupan yakni kebebasan menyelidik diri sendiri tanpa saya. Suatu kehidupan yang asing bagi batin yang sebelumnya penuh ruam.

Saya adalah peta duka sekaligus peta buta.

Kang abi-Pegiat di Kampoeng Kasih