3 bulan lalu · 94 view · 9 min baca menit baca · Cerpen 34939_20603.jpg
Foto: Pxhere

Pesugihan Mulut

Asap yang meliuk-liuk di atas cangkir berisi kopi sudah mulai tak tampak, dan Pak Susilo belum menyentuh apalagi menyeruput kopinya. Sudah hampir lima belas menit cangkir berisi kopi itu didiamkan.

Pak Susilo sedang sibuk dengan pikiranya. Tubuhnya seolah menjadi patung yang didudukkan di kursi teras, hanya gerakan tanganya, yang naik turun menghisap dan memainkan sebatang rokok yang menjadi penanda bahwa dia masih seorang manusia bukan patung.

Satu hisapan, dua hisapan, dan hisapan-hisapan rokok selanjutnya, turut mengantar dia menuju bayang-bayang masa lalu; bayang-bayang ketika dia kalah dalam pemilihan kepala daerah. Saking asyiknya dengan pikiran itu, Pak Susilo sampai tidak menyadari kehadiran istrinya yang sudah duduk di sisinya.

“Ada apa toh, Pak? Kok sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Itu kopinya diminum dulu,” tegur istrinya.

Pak Susilo tergagap dan berusaha menutupi apa yang sedang dipikirkanya. “Eh, ndak Bu. Bapak tadi, eh.. sedang mikirin itu…”

“Itu apa?” tanya istrinya menyelidik.

“Itu, soal gaji karyawan dan pemasukan bulan ini.”

“Owalah, Pak, jangan bohong. Ibu ini sudah nikah sama Bapak  hampir lima belas tahun. Jadi, Ibu  ngerti luar dalemnya Bapak. Bapak masih memikirkan hal itu, toh. Pak, dalam hidup ini semua sudah ada yang ngatur.” Tangan Istrinya menunjuk ke atas.

“Persoalan kalah menang itu sudah biasa. Lagi pula, kita seharusnya bersyukur, Pak. Kita masih diberi limpahan materi dari Allah, dan usaha mebel kita juga Alhamdulillah masih lancar. Syukur-syukur Bapak ndak stres seperti kebanyakan orang yang kalah dalam pemilihan, hehehehe” hibur Istrinya.

“Iya Bu, Bapak paham, Tapi….”

“Tapi, tapi apa?!” Selidik Istrinya.

“Eh…”

“Jangan bilang kalo Bapak mau nyalon lagi, ya?!”

Mendegar ucapan tegas itu, kaki Pak Susilo spontan langsung berdiri. Diraihnya cangkir berisi kopi yang sudah dingin itu, lantas diteguknya sampai habis dan hanya menyisakan ampas kopinya saja.

“Bapak mau ke mebel dulu, Bu. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam,” jawab istrinya sembari membereskan cangkir kopi bekas Pak Susilo.

***

Cukup dengan jangka waktu lima belas menit, dia sudah sampai di tempat usahanya: mebel.  Usaha mebel itu sudah berdiri hampir tujuh tahun. Membuka usaha mebel bukanlah hal yang sulit bagi Pak Susilo; Almarhum Ayah Pak Susilo adalah seorang pengusaha mebel, dan dulu Pak Susilo juga sering membantu Ayahnya di tempat usahanya.

Selain itu, Pak Susilo adalah seorang sarjana ekonomi, ilmu manajemen. Dua modal itu membuat usaha Pak Susilo terbilang lancar –selain modal ekonomi tentunya.

Usaha yang sukses tidak membuat diri Pak Susilo puas, dia ingin mencoba sesuatu yang baru: menjadi seorang kepala daerah. Rasa hormat yang diperoleh dari pegawainya tidak membuatnya puas, dia ingin dihormati di lingkup yang lebih luas: masyarakat. Selain karena alasan “gila” hormat, tujuan Pak Susilo menjadi kepala daerah yaitu untuk menyokong dan memajukan bisnisnya.

“Dengan menjadi kepala daerah, kau bisa mengembangkan bisnismu. Apalagi kau pengusaha mebel. Semua proyek daerah yang membutuhkan mebel bisa kau menangkan tendernya. Misalnya bangku, meja, dan papan tulis sekolah,” kata teman Pak Susilo yang dikenal sebagai pakar politik dalam suatu kesempatan.

Seperti hari-hari sebelumnya, tempat usahanya selalu sibuk dengan hiruk pikuk pegawai serta konsumen yang sedang mengunjugi tempat usahanya. Dengan raut wajah kuyu, karena sudah dibentak istrinya di rumah, Pak Susilo memasuki tempat usahanya.

“Eh, jon aku bisa pinjam uang? Aku butuh banget nih. Istriku sudah mengomel saja soal uang sekolah anakku,” kata Adit, salah satu pegawai Pak Susilo.

“Uang sekolah apa? Sekarang sudah tanggal berapa? Ah ada-ada saja kau. Bilang saja kau mau pinjam untuk jajanin selingkuhanmu itu. Siapa itu? Si Marni, iya, kan?” kata Joni kesal.

“Aku serius,Jon. Sumpah ini buat anakku. Uang itu buat iuran kegiatan tengah semester. Aku butuh banget Jon, nanti, waktu gajian, aku langsung ganti. Sumpah.” Kata Adit merajuk.

Tarno menghentikan pekerjaan memernisnya, lantas mengeluarkan dompet butut berwarna hitam dari sakunya. Selembar uang 50 ribu diberikanya kepada Adit.

“Aduh Jon, apa tidak ada lagi? iuranya seratus lima puluh ribu. Kalau segini aku cari dimana kurangnya.”

“Adanya cuman itu, kalau tidak mau ya sudah sini balikin! Kalau masih kurang sana pinjam sama Bos Susilo.” ujar Joni kesal sembari melanjutkan pekerjaanya.

“Aku bulan kemarin sudah ngebon, masa iya mau ngebon lagi. lama-lama bisa dipecat aku.”

Joni yang kesal mendengar ceracau Adit langsung menghentikan pekerjaanya lagi, dan menatap tajam mata Adit. “Rumahmu di desa Sambimarum, kan?” tanya Joni.

“Iya. Memangnya kenapa?” kata Adit heran.

“Kau kenal Mbah Fuad ? Dia  orang baru yang tinggal di desa Sambingerep.”

“Oh iya aku tahu orangnya. Dia barusan pindah dan tinggal di sana. Katanya sih dia orang Lamongan.

“Tahu rumahnya? kalau tidak, nanti aku antar?” tanya Joni seolah memastikan sesuatu.

“Iya tahu. Memangnya kenapa?”

“Ya sudah nanti pulang kerja kamu ke sana. Dengar-dengar dia orang pinter. Kamu ke sana saja, siapa tahu kamu diberi jimat pendatang rejeki. Kamu tahu usaha soto Pak Fakih? Dulu daganganya sepi, tapi sekarang sudah ramai. Kata orang-orang dia dapat jimat dari Mbah Fuad!”

“Gila kamu! gini-gini aku masih punya iman, Jon.”

“Ya sudah kalau kau ngaku masih punya iman kenapa masih main gila sama perempuan lain. Sekarang kau kena batunya, kan! Mangkanya kalau ada uang itu disimpan yang benar, jangan kau habiskan untuk Marni, selingkuhanmu itu. Sudah aku mau kerja dulu, kalau kamu masih berisik, mukamu yang aku pernis!” kata Joni dengan nada kesal.

Tanpa mereka sadari, perbincangan mereka di dengarkan Pak Susilo, Bos mereka. Setelah mendengar perbincangan itu, wajah Pak Susilo yang awalnya kuyu terlihat mulai sumringah. Obrolan kedua pegawainya itu memberi suatu gambaran yang jelas: Susilo pasti menjadi kepala daerah.

“Ehm, Adit sini!” panggil Pak Susilo kepada Adit yang sedang dalam keadaan jongkok membelakangi Pak Susilo.

“Sial. Duh Gusti bisa dipecat, Aku,” gumam Joni. Perlahan Joni membalikan badanya. Dengan wajah menunduk Adit menghadap Pak Susilo. “Eh, anu Pak, maaf, tadi saya…”

“Sudah, memangnya kamu butuh uang berapa?”

Anggapan Joni yang awalnya dia akan diomeli bahkan dipecat oleh Pak Susilo ternyata meleset. Raut wajah yang awalnya tampak tegang langsung menghilang ketika Adit melihat raut wajah Bosnya yang ceria. “Ada angin apa tiba-tiba bos jadi baik begini?” ujar Adit dalam hati.

“Dit, kok bengong kamu butuh berapa buat uang sekolah anakmu?” tanya Pak Susilo ramah.

“Seratus lima puluh ribu Pak, tapi yang lima puluh ribu sudah dipinjami Joni. Jadi kurang seratus ribu, Pak.”

Dompet yang kondisinya lebih baik dari milik Joni dikeluarkan Pak Susilo dari kantonganya; terlihat gemuk, dengan warna hitam yang masih mengkilat. “Ini buat kamu.” tangan Pak Susilo menyodorkan lembaran uang merah bergambar Bung Karno. Sebelum tangan Adit akan mengambil uang itu Pak Susilo berujar: “Ini buat kamu, nggak usah dikembalikan dan gajimu tidak saya potong. Tapi, ada syaratnya: antarkan saya ke rumah Mbah Fuad  dan jangan bilang siapa-siapa!”

“Siap, Pak,” jawab Adit dengan wajah berseri-seri.

***

Adit yang menunggu di atas sepeda motor, dan Pak Susilo langsung menuju rumah yang dimaksud Adit sebagai rumah Mbah Fuad.

Sore itu keduanya sudah sampai di depan rumah Mbah Fuad; hamparan halaman rumah yang luas, dan pohon mangga yang tumbuh di beberapa sisi, menjadi satu diorama yang menampilkan suasana rumah yang sejuk dan asri.

Tidak seperti orang awam pada ummnya, yang awalnya merasa takut-takut ketika datang ke rumah orang “pinter”, langkah Pak susilo begitu mantap. Diketuknya pintu rumah berwarna hijau itu. “Assalamu’alaikum,” ketukan pintu dan salam Pak Susilo  langsung dibalas dari dalam rumah.

“Wa’alaikumsalam. Siapa, ya?” tanya Mbah Fuad  seraya memandang wajah Pak Susilo heran.

Terlihat seorang pria tua bertubuh kurus yang usianya kira-kira sudah menginjak 60 tahun-an. Tubuh kurus itu dibalut baju bermotif batik dan bercelana kain berwarna hitam. Raut wajahnya menunjukan ketenangan seorang pria tua yang sudah mengenyam pahit manisnya hidup.

“Nama saya Susilo Mbah. Saya mau eh .. itu.” Pak Susilo ragu mengungkapkan maksudnya.

“Ayo masuk dulu. Ndak enak kalau bicara di luar,” kata Mbah Fuad  mepersilahkan Pak Susilo masuk. “Silahkan duduk.”

Pak Susilo diperkenankan duduk di ruang tamu. Ruang tamu milik Mbah Fuad  tidak seperti pada umumnya; cat berwarna cokelat tua, memberi kesan suram; di sisi pojok terdapat meja yang di atasnya terdapat mangkuk kaca berisi bunga melati; dindingnya dihiasi berbagai macam ornamen: potongan kain batik, dua keris yang berbeda ukuran, dan wayang kulit Rahwana. Semua ornamen itu memberi kesan bahwa Mbah Fuad  bukan orang sembarangan.

“Maaf rumah saya agak sedikit berantakan. Oh, ya ngomong-ngomong ada urusan apa ya?”

Dengan tekad bulat dan nada yang mantap Pak Susilo mengutarakan maksud kedatanganya, “begini Pak, saya dengar-dengar Bapak bisa memberi solusi tentang berbagai masalah. Saya punya masalah yang ingin disampaikan. Jadi begini Pak”

Mbah Fuad  mendengar keluh kesah tamunya dengan wajah tenang. Tidak ada sanggahan dan pertanyaan balik dari Mbah Fuad . Semua yang diutarakan Pak Susilo ditampungnya dengan senyum kecil dan anggukan kepala.

“Oh jadi itu, toh. Kau pasti dengar desas-desus dari orang-orang sekitar kalau saya bisa menyelesaikan berbagai masalah, ya?”

Pak Susilo menganggukan kepala dengan sunyum malu-malu.

“Baiklah. Tunggu sebentar” ujar Mbah Fuad  sembari beranjak keluar dari rumahnya.

Selang lima belas menit kemudian Mbah Fuad  sudah kembali dengan tas kresek berwarna hitam.

“Pasti itu jimatnya. Akhirnya,” gumam Pak Susilo.

Kresek hitam itu lantas diberikan kepada Pak Susilo. Dengan hati-hati Pak Susilo menerima tas kresek berwarna hitam itu.

“Ini apa, Mbah?” tanya Pak Susilo berpura-pura penasaran, padahal dia sudah menduga bahwa isi dari kresek hitam itu pastilah sebuah jimat yang akan memberi kesuksesan pada pemilihan kepala daerah tahun depan.

“Sudah buka saja.” kata orang tua yang duduk di depanya itu.

Dengan hati berdegub dan rasa penasaran, Pak Susilo membuka membuka bungkusan itu. Ketika bungkusan itu dibuka alangkah kagetnya Pak Susilo. Isinya tak lebih hanya peralatan mandi: sikat gigi dan odol. “Untuk apa dia memberiku benda ini. Sial mau main-main denganku si tua bangka ini,” umpat Pak Susilo dalam hati.

“Maaf Mbah ini untuk apa, ya?” tanya Pak Susilo.

“Kamu kan ingin jadi politikus, eh, kepala daerah. Jadi, kedua benda ini cocok untukmu. Jika kamu ingin dipilih orang lain untuk jadi kepala daerah kamu pasti akan menggunakan itu. Tangan Mbah Fuad  menunjuk mulut Pak Susilo. “Kamu pasti akan menggunakan mulutmu secara maksimal agar bisa mendapat banyak dukungan. Nah supaya mulutmu bisa terus kau pergunakan, kau harus tetap merawatnya dengan kedua benda itu. Odol dan sikat gigi itu berguna untuk menutup bau mulutmu selama berkampanye,” kata Mbah Fuad  sembari menyunggingkan senyumnya.

“Cuman ini, Mbah?” tanya Pak Susilo dengan nada kesal.

“Iya.”

“Lah terus ini semua maksudnya apa, Mbah?” Tangan Susilo menujuk semua ornamen yang ada di ruangan itu: keris, semangkuk bunga melati, dan kain batik.

“Oh itu, ya cuman pajangan saja. Mbah memang senang dengan keris, terus kain batik itu hadiah dari teman mbah dari Jawa Tengah, dan bunga melati itu untuk pengharum ruangan alami,” terang Mbah Fuad

“Terus soal Pak Fakih? Kata orang-orang Mbah beri dia jimat penglaris, sampai-sampai sekarang pembelinya antri, tidak seperti dulu,” kata Pak Susilo.

“Oh, Fakih yang penjual soto itu. Dia memang kesini dan Mbah beri dia resep soto yang enak, dan cara pemasaran yang benar. Kasian daganganya kurang laku, karena resepnya keliru. Oh, iya Mbah belum cerita, ya. Mbah di Lamongan punya depot soto. Alhamdulillah usaha Mbah lancar sampai sekarang.

Wajah Pak Susilo memerah ketika mendengar semua penjelasan itu dan langsung pamit pulang. “Sial akan kudamprat Adit dan Tarno. Kalau perlu, aku potong gaji kedua tikus itu bulan ini!” umpat Pak Susilo dalam hati sembari terus melangkah keluar dari rumah Mbah Fuad. 

Langkah Pak Susilo sempat terhenti sejenak di halaman rumah Mbah Fuad lantaran mendegar suara pria tua itu berteriak dari dalam rumah: “Nak, ini sikat gigi dan odolnya ketinggalan!”

Artikel Terkait