40476_15397.jpg
https://ecowellness.com
Filsafat · 3 menit baca

Pesona Semu Manusia Modern(isme)
Wacana Occidental

Menyoal tentang manusia, tidak lepas dari peradaban yang berkembang. Huntington (1998) menarasikan dua peradaban yang berkonfrontasi di era modern, yaitu Islam dan Barat.

Islam memandang manusia sebagai khalifah di muka bumi. Ibadah sebagai aktivitas utama yang harus ditunaikannya. Kebebasan manusia terikat dengan dimensi metafisik. Karena ada kekuatan yang lebih besar darinya, sehingga menjadikannya hidup dan yang menjadikannya meninggalkan kehidupan dunia (Abu A’la Maududi, 2013:4).

Pandangan tersebut bertolak belakang bagi Barat. Manusia yang percaya agama dinilai masih mundur.

August Comte dalam karyanya Cours de philosophie positive menempatkan manusia percaya Tuhan di tahap permulaan pengetahuan (Bertens, 2012:78). Kemajuan manusia dikagumi ketika menjadi masyarakat positif—ilmu pengetahuan.

Artinya, sudut pandang manusia dipengaruhi oleh peradaban pembentuknya. Pertentangan cara pandang tersebut masih berlangsung. Barat mendominasi wacana kemanusiaan.

Terminologi ‘manusia modern’ lahir di masyarakat Eropa. Masyarakatnya mengalami pasang-surut kehidupan.

Dalam khazanah filsafat Barat, ada masa kegelapan dan pencerahan. Sekitar abad ke-6 sampai 16 M, kehidupan Barat dibelenggu agama Kristen. Esensi manusia tidak dianggap sepenuhnya. Keutuhan perempuan dipandang setengah eksistensi laki-laki.

Ilmu pengetahuan tunduk di bawah absolutisme Gereja. Setiap orang yang melanggar ketentuan Gereja, dihakimi tanpa mengindahkan kemanusiaan. Akibatnya, intelektual Eropa terdorong untuk memecahkan kebuntuan sosial yang ada.

Gerakannya berlandas pada ilmu pengetahuan alam dengan metode ilmiah. Hasilnya, muncul gerakan yang disebut Renaissance (kelahiran kembali) dan Aufklärung (pencerahan); sebuah corak kehidupan yang menyingkirkan hegemoni Gereja, yang oleh karenanya, membuka pintu kehidupan modern, sedangkan manusianya dikenal sebagai masyarakat modern.

Ada dua ciri substansi manusia modern. Rasionalisme dan empirisisme. Pemikir-pemikir yang mengawalinya, ada Leonardo da Vinci, Nicolaus Copernicus, Johannes Kepler. Gongnya di tangan Rene Descartes (1596-1650) yang menawarkan gagasan pentingnya nalar manusia melalui semboyannya yang mahsyur Cogito ergo sum (saya berpikir maka saya ada). Ia dinobatkan sebagai ‘bapak filsafat modern’ serta ‘bapak rasionalisme’.

Bagi kalangan rasionalis, liberty merupakan ide bawaan (innate idea) dalam kesadaran manusia (Copleston, 1958:139). Sementara, kemunculan empirisisme sebagai jawaban pihak yang menolak pendewaan akal rasio. Intelektual Inggris, Francis Bacon (1561-1623), memelopori aliran ini. Pemikiran empirisisme mapan ketika dikembangkan oleh David Hume (1611-1776).

Kritiknya menolak ide bawaan manusia sebagai sumber pengetahuan. Ajarannya menegaskan pengamatan sebagai sumber inti pengetahuan. Selanjutnya menghadirkan pengalaman. Dari sana manusia memperoleh kesan (impression) dan pengertian (idea) (Hadiwijono dalam Munir, 2008:27). Dengan demikian, identitas manusia modern terletak pada rasionalisme dan empirisisme.   

Karakteristik kehidupan modern diinisiasi di daratan Eropa. Jati diri kehidupannya sebagai lanjutan wajah Yunani—Romawi. Walaupun sulit dipungkiri modernisasinya juga mengadopsi peradaban lain—Islam. Sayangnya, perintis modernisasi itu bersikap pragmatis. Hanya mengambil sebagian dan membuang sebagian.

Yang diadopsi berupa kemajuan ilmu pengetahuan dalam bidang kedokteran dan astronomi. Sedangkan unsur pentingnya diabaikan, yaitu pengakuan terhadap Tuhan. Tidak heran kalau kehidupannya menghendaki humanisme. Terjadi pergeseran nilai kekuasaan, yaitu kekuasaan Tuhan atau metafisik menjadi kekuasaan manusia sepenuhnya. Hasrat masyarakatnya adalah perubahan dan kemajuan.

Revolusi Industri terjadi di Inggris abad ke-17 sampai 18. Terjadi perubahan besar dalam sistem aktivitas manusia. Mesin-mesin mulai ditemukan untuk kegiatan produksi ekonomi. Manusia terpicu menemukan (to discover) teknologi yang memudahkan kehidupan.

Revolusi lainnya dikenal dengan Revolusi Perancis tahun 1789. Dua tokoh berpengaruh yang memprakarsai tatanan bernegara modern. Charles de Montesquieu (1689-1755), gagasannya pembagian struktur kekuasaan negara. Kekuasaan di dalam negara modern, yaitu adanya legislatif, eksekutif, dan yudikatif.

Selanjutnya, Jean-Jacques Rousseau (1712-1778) menawarkan ‘kontrak sosial’ dalam relasi kehidupan di bawah negara. Pemikiran Rousseau menginspirasi gerakan peruntuhan sistem monarki Perancis dengan semboyannya liberté, égalite, fraternité (kebebasan, persamaan, persaudaraan).

Keduanya membuka kehidupan baru umat manusia. Artinya, Revolusi Teknologi Inggris dan Revolusi Sosial Perancis menjadi pijakan baru kehidupan. Modernitas manusia digali berdasarkan pengaruh revolusi besar di Eropa.

Pola kehidupan modern terbangun di atas tiga prinsip universal, yaitu dualisme, detradisionalisasi, dan globalisasi (Mai, 2010:718). Ketiganya merupakan representasi orientasi hidup keduniaan. Agama diletakkan pada ruang privat. Nilai dan norma dikaburkan oleh kekuasaan.

Dalam kehidupan bernegara, lebih mengutamakan pembangunan fisik ketimbang metafisik. Keunggulan sosial diukur berdasarkan tingkat ekonomi. Ilmu pengetahuan sebagai batu loncatan materialistik. Relasi sosial bermotif pragmatik.

Individualis adalah corak kemasyarakatannya. Protipe kemajuan ada di kehidupan perkotaan. Demokratisasi dijunjung setinggi-tingginya. Hak asasi manusia mendapatkan penghargaan melebihi hukum Tuhan. Aktivitas kehidupan bersifat homogen. Wajah kehidupan modern tidak lepas dari kehendak pengembangnya.

Akhirnya, masyarakat perlu menimbang makna kehidupan modern yang dianggap maju. Kemajuannya menghilangkan hakikat makna kemanusiaan. Manusia terjebak dalam aktivitas teknikal.

Tujuan hidup sebatas memenuhi aspek empirisitas. Analisis keputusan publik tidak mengindahkan aspek transendental. Penggunaan metode positivistik dan pilihannya berdasarkan rasionalitas. Klaim manusia unggul ketika meyakini objektivitas, Kebenaran baginya sesuatu yang dapat diamati.

Wujud manusia modern dapat dirasakan di lingkungan kita. Publik mengapresiasinya, karena pergerakannya yang progresif melalui kebebasan, kekayaan, peralatan teknologi, dan kesehatan. Sayangnya, arah kemajuannya tidak menuju pada kebahagiaan hakiki. Itulah kesemuan.