Panitia Workshop
1 tahun lalu · 215 view · 2 menit baca · Lingkungan 82757_29177.jpg
Field trip ke hutan tanaman industri PT Wira Karya Sakti di Jambi, 10 Januari 2018 (Foto: Qureta)

Pesona Hutan Tanaman Industri Wirakarya Sakti

Pesona sebuah industri tidak hanya diukur dari seberapa canggih dan megahnya alat-alat produksi yang dimiliki. Tidak pula semata seberapa banyak hasil produksi yang bisa ia capai. Tapi, yang jauh lebih memesona dari itu, adalah sebesar apa kontribusi riilnya bagi masyarakat sekitar konsesi.

Di Jambi, hutan tanaman industri PT Wira Karya Sakti—anak perusahaan APP Sinarmas—menampakkan pesona itu secara apik. Melalui program DMPA (Desa Makmur Peduli Api), nyata terlihat bagaimana perusahaan hutan tanaman industri ini tidak melulu berfokus-ria pada aspek kuantitas produksi atau nilai ekonomis belaka, melainkan pula terlibat-serta dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui upaya pemberdayaan masyarakat yang terintegrasi.

Tepat di hari kedua Workshop & Pelatihan Menulis Kertas dan Peradaban Qureta - APP Sinarmas, para peserta berkesempatan khusus melihat langsung pesona itu. Tidak hanya menelisik jauh bagaimana proses pembuatan kertas, mulai dari masa pembibitan, penanaman, hingga pemaneman pulp, mereka pun diberi ruang untuk menyapa langsung masyarakat yang terintegrasi dalam program DMPA.

“Di samping berupaya meningkatkan pendapatan warga dan kesejahteraan masyarakat sekitar, keharmonisan juga jadi fokus utama perusahaan. Karena itu, apa yang memang jadi keahlian masyarakat, semisal beternak atau bertani, sedapat mungkin diberi keleluasaan,” terang Bambang Kisworo, SCD-CSR Head perusahaan ini.

Hal tersebut direalisasikan melalui program DMPA di Dataran Kempas, Tebing Tinggi, Tanjung Jabur Barat, Jambi. Ada empat upaya binaan yang dihadirkan di desa ini, yakni Karya Trans Mandiri Ternak Domba, Unit Mikro Budidaya Ikan, serta Kelompok Wanita Tani Mekarwangi Jahe Merah dan Maju Bersama Holtikultura.

“Semua program itu kami ukur dari aspek keahlian masyarakat dan potensi daerahnya. Jika keahliannya masyarakat adalah bertani, misalnya, maka kita akan lihat apakah potensi daerah itu mendukung bidang pertanian atau tidak. Jikapun potensi daerahnya mendukung tapi keahlian masyarakat minim, maka akan diupayakan pembinaan dengan mengedukasi masyarakat agar bisa beradaptasi.”

Sejauh ini, program-program tersebut terbilang berhasil. Beragam hasil produksinya setidaknya sudah mampu menghidupi, baik dikonsumsi sendiri maupun dijual. Dan pihak perusahaan memberi fasilitas memadai berupa penyediaan alat, benih, pendampingan, hingga bantuan pemasaran produk.

“Inilah komitmen perusahaan, tanggung jawab sosial dalam rangka mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan ke depan.”

Foto bersama para peserta dengan pengelola DMPA Desa Kempas, Jambil (Foto: Qureta)

Sejak diperkenalkan di penghujung tahun 2015, program DMPA ini terus diperbarui. Landasan utamanya adalah pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan bidang agroforestri (wanatani)—sebuah konsep pemberdayaan yang mengkombinasikan upaya pelestarian lingkungan.

Adapun efek nyata yang dirasakan langsung dari program DMPA ini, sebagaimana diakui Ruskim, Ketua Umum DMPA yang sekaligus merupakan Ketua Karya Trans Mandiri, yakni membantu masyarakat, tidak sebatas peningkatan di bidang ekonomi, melainkan pula pembangunan manusia berjangka panjang.

“Sebelumnya kami ada program DMPA seperti ini, tapi masih acak-acakkan. Dan alhamdulillah, dengan adanya binaan dari perusahaan APP Sinarmas, perekonomian masyarakat jadi maju dan lebih terarah.”

Dulu, lanjut Ruskim, masyarakat tahunya hanya sawit, sawit, dan sawit saja. Namun, setelah hadirnya program binaan dari perusahaan, masyarakat pun lalu tahu bahwa bidang holtikultura ternyata juga penting untuk dibudidayakan.

Seturut pengakuan Ruskim, Direktur Kelompok Tani Pupuk Kompos, Supari, pun menegaskan yang sama. Menurutnya, DMPA tersebut sangat berjasa bagi masyarakat, terutama dalam hal menciptakan lapangan kerja.

“Program ini betul-betul mewujudkan masyarakat yang mandiri, berkesinambungan, dan berwawasan lingkungan. Kami akhirnya sadar betapa penting dan perlunya potensi sumber daya lokal itu dioptimalkan dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan yang ada.”

Kiranya ini satu pesona utama yang memang harus mewujud dalam kerja-kerja setiap perusahaan. Bahwa tidak ada gunanya terus-menerus mengeksploitasi alam tanpa memperhatikan lingkungan yang ada, terutama aspek pemanusiaan masyarakat sekitar.

Artikel Terkait