"Sebelum berperang sudah pemenang!", hal ini sangat tepat untuk disematkan kepada para peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negri (UTBK SBMPTN) hari ini. Ribuan orang telah mendaftar sejak sebelum 20 Juni 2020. Tercatat ada 707.588 pendaftar UTBK SBMPTN. 

Kita patut mengapresiasi pencapaian peserta UTBK SBMPTN hingga titik ini, sebab bagaimanapun perjuangan mereka bahkan sudah dimulai sejak mereka duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Bergelut dengan berbagai persoalan kehidupan merah putih abu-abu.

Sebelum dinyatakan lulus mereka harus ujian, setelahnya mereka harus mengikuti bimbel dengan harga jutaan rupiah dan pergi ke luar kota juga mengikuti rangkaian simulasi agar berhasil. Ada yang pergi bimbel ke Surabaya. Tidak sedikit yang bimbel ke kota-kota besar.

Mereka harus merogoh kocek untuk biaya kost, buku, dan makan sehari-hari, jika mereka tidak dapat PP (pulang-pergi). Atau jika tidak cukup beruntung harus belajar secara mandiri setiap hari di rumah, dan harus puas dengan akses buku-buku perpustakaan dan PDF atau buku diakses online. Juga mungkin jika lebih jeli manfaatkan bimbel online seperti ruangguru atau semacamnya. 

Bimbel dan sekolah juga biasanya mengadakan doa bersama dengan para mentor dan kadang juga mengundang pemuka agama. Sekolah dan bimbel juga menyediakan konseling pra-UTBK agar siswa tidak stres mengikuti ujian.

Selain itu, biasanya para siswa mengikuti berbagai mentorship dan seminar pengembangan kepercayaan diri dan motivasi. Contohnya seperti yang pernah diadakan satu paket dengan simulasi UTBK SBMPTN dan motivasi di Gedung Soetardjo pada awal 2020 yang diikuti calon mahasiswa yang datang dari berbagai kota seperti Lumajang, dll.

Perjuangan dalam menempuh pendidikan dan menjadi agent of change tidak mudah. Semua orang dan orang tua yang memiliki anak usia sekolah pasti mengerti beban dan semua lika-liku perjalanan mengantarkan anak-anak menempuh pendidikan dari jenjang SD, SMP, SMA hingga akhirnya ke Perguruan Tinggi. Pun mahasiswa atau para lulusan universitas yang telah melakoninya. 

Tantangan yang harus dihadapi agar sampai di titik ini tidak hanya dari segi finansial dan sebagainya akan tetapi juga mental psikologis. Kesuksesan anak-anak sudah pasti adalah kesuksesan orang tuanya.

Banyak anak-anak yang putus sekolah. Banyak anak-anak yang tidak "survive" dalam menjalani kehidupan dan tantangan kehidupan putih abu-abu. Berbagai persoalan seperti nikah muda atau pernikahan di bawah umur, pernikahan dini sebab married by accident (MBA), juga kenalan remaja, bahkan narkoba.  

Banyak anak yang tidak memiliki keteguhan dan niat yang kuat dalam menjalani pendidikannya. Bahkan ketika finansial dapat dibilang lebih dari cukup. Contohnya adalah yang terjadi pada seorang siswa, ia dibercandai oleh kawan sepermainannya. Ia dikatai banci. 

Terjadi konflik yang dapat dikatakan percikan kecil di antara teman sebaya ini. Ia pulang sembari menangis ketika jam istirahat dan tidak pernah kembali ke sekolah. 

Hal-hal yang kita jumpai sering kali di antara kawan sepermainan. Ia kemudian berganti-ganti sekolah sampai empat kali dari mulai sekolah SMA, Sekolah Madrasah Aliyah, dan bahkan STM. Sejak saat itu ia tidak pernah kembali ke sekolah.

Empat buah motor yang ia miliki dan sebuah mobil milik bapaknya, juga seorang Ibu yang bekerja tidak lantas membuatnya ingin belajar lebih keras lagi. Ia juga tidak bekerja setelahnya. Kepemilikan motor dan binatang ternak kemudian menjadi ukuran kesuksesan baru anak muda kampung yang putus sekolah. 

Bagaimanapun menempuh pendidikan itu tidak mudah. Banyak tantangan, dari mulai yang sepele, biasa-biasa saja, hingga kesulitan yang harus ditanggung oleh satu keluarga. Tentu, menempuh ujian di tengah pandemi atau di kala Covid-19 seperti saat ini, juga merupakan tantangan yang lain, yang bisa dikatakan lebih seperti beban. 

Mengenai UTBK SBMPTN di Universitas Jember, untuk menjalani masa ujian hari pertama hari ini 5 Juli 2020 saja harus banyak prosedur yang mesti dilalui dengan sabar. Ujian ini juga masih akan berlangsung hingga 14 Juli 2020. 

Di masa pandemi Covid-19 di tahun 2020 ini saja terdapat panduan atau protokol UTBK Universitas Jember yang harus dipatuhi peserta ujian, yakni:

1. Periksa suhu tubuh tidak lebih dari 37,5 derajat celcius

2. Semua yang masuk Universitas Jember wajib menggunakan masker 

3. Peserta atau pengantar peserta sesi, diberi stiker warna hijau

4. Gojek online diberi stiker warna merah

5. Pengantar hanya diperbolehkan mengantar sampai batas yang ditentukan panitia. 

6. Peserta melakukan cuci tangan dengan sabun di wastafel yang disediakan panitia

7. Pemeriksaan kartu peserta

8. Menyimpan jam tangan, smartphone, ke dalam tas

9. Panitia menyemprot disinfektan ke tubuh peserta

10. Peserta menempati tempat masing-masing

11. Peserta keluar dengan jalan yang berbeda ketika masuk

12. Peserta langsung pulang ke tempat masing-masing  dan tidak singgah ke tempat lain

Daftar di atas salah satunya dapat dilihat di YouTube UNEJ official. 

Di Universitas Jember sendiri, menurut website resmi Unej, ada 5000 mahasiswa yang saat ini sedang berstudi di Universitas Jember. Juga 2000 orang yang sudah siap lulus menjadi wisudawan dan wisudawati.

Tentu mereka adalah orang-orang pilihan yang telah tersaring dengan sangat matang. Juga merupakan orang-orang yang sudah melalui level-level tertentu dalam pengalaman mengarungi tantangan menempuh riwayat pendidikan. 

Pastinya sebelum mengatakan dan mengucapkan Selamat Datang kepada adik-adik calon yang akan menjadi mahasiswa di Universitas Jember. Adik-adik harus melalui terlebih dahulu serangkaian ujian setelah hari pertama ini.

Akan tetapi semoga artikel ini bisa memberi sedikit semangat dan dorongan bahwa "Anda telah Menang Sebelum Berperang!" dan sebab kemauan untuk berpikir itu sebenarnya telah menjadi penanda manusia-manusia yang unggul. Sebab seperti Descartes cogito ergo sum: "Aku berpikir, maka aku ada!".