Mahasiswa
1 tahun lalu · 808 view · 3 menit baca · Budaya 20127_27132.jpg

Pesek Pun Mahakarya Tuhan

Kontroversi Pelepasan Hijab Rina Nose

Kicauan warganet di dunia maya terus bergulir. Komentar negatif dan defensif cepat berlalu lalang memenuhi postingan Rina Nose, seorang aktris berbakat penuh sensasional.

Sejak keputusan ia tidak lagi memakai kerudung, memang membuat saya sedikit tertegun. Kiranya saya tidak sendiri karena ada jutaan penggemarnya ikut shock dengan fenomena biasa ini.

Beragam reaksi netizen pun tersulut memenuhi sekitar 250.000 lebih komentar di Instagram-nya. Wow! Keputusan seperti ini, apalagi yang menyangkut soal fenomena berbau agama, sangat cepat menarik perhatian masyarakat Indonesia.

Apalagi setelah saya tengok ungkapan para netizen yang hampir melulu menyesalkan hilangnya nuansa hijab di wanita kelahiran Bandung, 16 Januari 1984 yang sejatinya merupakan kebanggan wanita Muslimah di dunia. Apa sih yang kalian kesalkan?

Saya sempat berpikir, mengambil keputusan untuk kembali tidak memakai hijab pastilah ada alasan yang kuat yang mendasarinya. Putusan itu bukan untuk kita hujat, kita hina, kita kesalkan walaupun ada beberapa putusan menyilaukan penglihatan mata atau batin kita. Tapi itu bukan tugas kita.

Lalu, peluang ini pun tak disia-siakan oleh individu yang kreatif akan hujatanisme. Dengan dalih sudah melanggar perintah Tuhan, pastilah rasa optimis makin tinggi hanya untuk berdebat antara keputusan yang diambil mencoreng nilai agama atau keputusan sebagai individu yang berhak atas hak asasi diri. Ya, inilah salah satu realita di negeri kita tercinta ini. Dan Rina Nose pun kini akhirnya paham sifat para pendukung bumi datar.

Twitter saya tiba-tiba banjir cuitan mengenai sosok wanita berhidung pesek ini, tetapi ini datang karena disebabkan oleh seorang ustaz ternama asal Riau, Ustaz Abdul Somad yang melakukan ceramah di Masjid Agung Binjai, bertepatan pada Kamis, 16 November lalu.

Yang menarik dari ceramah beliau yang biasanya terkesan riang, kali ini ia dengan terang-terangan menyindir bahkan menjelekkan seorang makhluk ciptaan Allah, yakni Rina Nose di depan jemaahnya. Tak lebih isinya mengatakan bawa Rina itu pesek, jelek, buruk, juga ia menanyakan apakah ada kebisaan atau talenta yang dimiliki Rina.

Sepertinya jawaban beliau bukan mengarah sebagai figur pemuka agama yang diwajibkan untuk selalu bertutur sopan, baik perkataan maupun perbuatannya. Melainkan yang saya tangkap ialah rasa kebencian yg tertahan mungkin dengan konsepsi beliau sebagai ustaz yang mengajarkan kebenaran melihat tragedi ini sebagai bentuk pencorengan terhadap nilai suci Islam. Mungkin. Tidak tahu alasan aslinya.

Ustaz juga manusia, Rina juga manusia. Apakah tugas kita melulu untuk mengorganisir hidup orang lain? Tentu saja tidak. Apalagi sampai berani untuk merendahkan marwah orang lain di depan umum, saya rasa sungguh tidak etis bagi seorang penceramah yang ilmu agamanya cukup mumpuni tersebut.

Saya tidak merasa ilmu agama saya sudah terlampau tinggi sehingga bisa menilai ini sebagai suatu kedzhaliman bersifat wujud bernalar ini. Sebab, tidak ada batasan apakah Anda berilmu agama yang kurang mumpuni bisa menilai suatu pandangan benar atau salah.

Terlepas dari tudingan super kontroversi dari ustaz kondang Abdul Somad itu, sang the Queen yang tengah dibincangkan ini pun angkat bicara melalui postingannya di Instagram yang berbunyi:

"Saya memang pesek, buruk, jelek, dan tidak memiliki kelebihan apa-apa. Tetapi dengan keterbatasan ilmu saya, saya tidak sampai hati mengatakan hal buruk terhadap orang lain."

Satu kata buat balasan ini: Hebat! Mengapa? Ini rasanya setimpal untuk menyerang dengan cara yang elegan. Rina tidak terkesan merongrong, namun penuh keyakinan atas apa yang disebarkannya. Saya hendak mengutip salah satu ayat di kitab suci Al-Qur'an surah Al Hujurat ayat 11 yang berbunyi:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."

Sudah jelas terfirman bahwa larangan untuk menghina sesama ciptaan Allah itu benar taklidnya. Saya rasa, Bapak Ustaz Somad betul paham tafsiran ayat ini. Bukan maksud menggurui, tetapi inilah yang kiranya menjadi pertimbangan kita umat beragama untuk hendaknya saling menghormati perbedaan yang jelas terpampang di dunia.

Pem-bully-an berbentuk fisik seharusnya tak lagi dibiarkan. Jikalau kita tidak menghargai sebuah karya Tuhan yang luar biasa, bukankah artinya sungguh arogan diri kita insan yang hanya tercipta dari air mani seorang ayah? Apa patut kita merasa hebat di atas segalanya? Wallahualam.

Tetap semangat Rina Nose. Apa pun keputusan hidupmu selama engkau melakukannya dengan segenap keyakinan, jalanilah saja. Anjing selalu bergonggong, dan kita tahu tong kosong selalu nyaring bunyinya. Jangan pernah menjawab pertanyaan orang-orang yang ragu tentang apa kehebatan kita, sebab 'Nobody's Perfect'.

Dan terakhir saya ingin mengutip sebuah kalimat hebat dari Alm. Kyai H. Abdurrahman Wahid yang berbunyi:

"Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya, merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya."

Salam damai dari pecinta keharmonisan, serta pumusuh bagi ujaran kebencian, radikalisme, serta pem-bully-an.

Artikel Terkait