Tepat memasuki waktu maghrib, semua santri memasuki aula pesantren untuk salat berjemaah. Tidak ada satu pun santri yang terlambat memasuki aula. Bagi santri yang terlambat akan mendapatkan hukuman dari pengasuh pesantren.

Hari ini semua santri tertib dan tepat waktu memasuki aula kecuali Nadya. Dia baru sampai di aula pesantren 15 menit setelah semua berkumpul. Semua mata tertuju adanya.

“Memangnya dia tidak takut kalau terlambat?” bisik salah satu santri kepada temannya.

“Harusnya takutlah. Tapi dia memang biasa terlambat,” jawab santri yang lain.

“Padahal terlambat satu menit didenda 1.000 rupiah lho, lha kalau 15 menit. Aduh menghabiskan uang orang tua aja,” jawab santri yang lain.

Nadya adalah salah satu santri berprestasi di pesantren ini. Jiwa atletnya sudah mendarah daging dari ayahnya. Banyak yang belum tahu kalau Nadya diberikan kebebasan waktu untuk berlatih. Makanya dia sering kali telat masuk aula pesantren.

Meskipun begitu, perjalanan Nadya tidaklah mulus. Banyak santri lain yang merasa tidak nyaman dengan kebebasan Nadya. Mereka merasa bahwa Nadya belum banyak memberikan sumbangan tropi kepada pesantren.

Jika dihitung hanya 2 kemenangan nasional yang dia sumbangkan kepada pesantren. Para santri lain sering kali membicarakan Nadya sebagai orang yang terlalu diistimewakan.

“Memang dia siapa sih? Setiap hari terlambat. Memangnya anak pengusaha atau orang kaya, bisa membayar denda setiap hari?” ujar santri lainnya.

Semua santri pasti akan menggunjing Nadya. Mereka pasti akan bertanya satu sama lain siapa sebenarnya Nadya. Satu-satunya santri yang selalu terlambat memasuki aula pesantren. Dan jika dihitung memang hampir setiap hari kecuali Minggu.

Dengan wajah cueknya, Nadya langsung duduk di tempat yang masih kosong. Di pojok aula paling kanan dekat sekali dengan pintu masuk. Nadya tidak pernah menggubris apa yang santri lain perbincangkan.

Nadya juga memiliki paras cantik dan menawan. Dia tidak pernah berdandan seperti perempuan biasanya. Tapi sudah menjadi bawaan, cantiknya memang menawan. Banyak pula santri yang sering kali membicarakan kecantikan alami Nadya.

Terkadang kasihan memang si Nadya. Tidak pernah hidup tanpa digunjing santri lainnya. Meskipun setiap hari dia harus mendengarkan gunjingan para santri, Nadya tetap santai menjalankan kegiatan-kegiatan di pesantren.

Suatu malam, panggilan dari mikrofon pusat di kantor pengurus berbunyi. Setiap santri yang dijenguk oleh keluarganya pasti akan dipanggil menggunakan mikrofon itu. Namun kali ini di malam hari. Tidak mungkin ada santri yang dijenguk malam hari.

“Cek, cek,cek.” Suara dari pusat kantor terdengar.

Semua santri tiba-tiba diam. Menunggu pengumuman yang akan terdengar dari kantor pengurus tersebut.

“Ada apa ini?, Ada apa?” teriak salah satu santri.

Semua santri menunggu apa yang sebenarnya akan diumumkan oleh pengurus pesantren.

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.” Suara lirih seorang pengurus.

“Ada apa to?, itu mbak pengurus kenapa sambil nagis.” Ucap salah satu santri.

“sssssstt.....” para santri menjawab.

Semua semakin penasaran. Mengapa tidak segera dilanjutkan. Semua santri menunggu dengan diam dan saling menebak satu sama lain.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.” Lanjut seorang pengurus.

Semua santri riuh saling bertanya siapa yang meninggal. Mereka semakin merinding malam itu. Mereka saling berkumpul satu sama lain.

“Telah meninggal dunia Kyai Zain bin Muhammad, ayahanda dari saudari Nadya atau adik kandung dari bapak Kyai kita semua malam ini pukul 20.00 WIB. Semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah swt.” Lanjut seorang pengurus.

“Semua santri dimohon agar segera mengambil air wudhu dan mengambil alat sholat untuk melaksanakan sholat ghaib berjamaah. Terima kasih.” Lanjut seorang pengurus.

Semua sontak kaget bukan main. Nadya yang selama ini mereka gunjingkan adalah keluarga bapak kyai. Mereka masih kebingungan. Rasanya antara tidak percaya dan merasa berdosa.

“Lho mbak, ternyata Nadya itu keluarga ndalem?” salah satu santri bertanya-tanya.

“Astaghfirullah, aku juga tidak tahu.” Santri lain menjawab.

“Dari kemarin aku hanya berfikir kalau dia itu keluarga ndalem. Diakan cantik seperti putri-putri kyai gitu. Dan dia juga dapat hak istimewa di sini. Tapi aku belum yakin sih.” Santri lain menimpali.

Semua santri masih saling bertanya sambil bersiap untuk sholat ghaib berjamaah.

“Semua santri agar segera berkumpul di aula pesantren dalam hitung 10 mundur.” Kata seorang pengurus dengan mikrofonnya.

Semua santri tanpa terkecuali telah memasuki aula pesantren. Sholat ghaib dilaksanakan dengan khidmat. Setelah selesai sholat, semua santri diberikan penjelasan oleh pengurus tentang siapa sebenarnya Nadya.

“Para santri semua. Malam ini, ayahanda salah satu santri yang juga keluarga ndalem telah tiada. Kami memohon kepada para santri agar sholat ghaib ini diniatkan dengan ikhlas membantu mendoakan ayahanda saudari Nadya.” Pengurus mulai menjelaskan.

“Sebenarnya, keterlambatan mbak Nadya setiap sore itu tidak lain karena dia harus bolak-balik dari pesantren ke rumah sakit. Sudah lebih dari 10 bulan, ayahanda mbak Nadya dirawat dan harus ditemani mbak Nadya setiap hari.”

“ Jika mbak-mbak santri semua sudah mengenal mbak Nadya lebih dekat, dia bukan sosok yang mungkin menyebalkan seperti yang kalian perbincangkan. Setiapkali terlambat memasuki aula, dia selalu menyodorkan uang dendanya. Tapi kami tolak.”

“Kami tahu betul bagaimana mbak Nadya berusaha untuk sportif tidak terlambat namun juga tetap bisa lama di rumah sakit untuk menemani ayahnya. Untuk teman-teman santri semua, mohon dimengerti atas keterlambatan mbak Nadya kemarin.”

“Sebenarnya beliau tidak berkenan jika hal seperti ini diketahui banyak orang. Namun kami merasa ini penting untuk  menjaga perasaan beliau. Jadi untuk semua santri agar berhati-hati dalam bertindak. Jangan menggunjing sembarangan.”

“Untuk itu semua santri bisa mulai intropeksi diri atas kesalahan yang pernah teman-teman santri lakukan terhadap mbak Nadya. Beliau sudah memaafkan teman-teman semua. Menurut beliau semua itu wajar jika menjadi bahan gunjingan.”

Semua santri kemudian diperbolehkan meninggalkan aula. Mereka saling berbincang satu sama lain. Mereka sangat merasa berdosa setelah mendengar penjelasan pengurus.

Memang kita semua makhluk yang diciptakan Tuhan. Janganlah saling menjelek-jelekkan. Janganlah menceritakan kesalahan orang lain jika belum tahu kebenarannya.

Janganlah su’udzon dengan keadaan orang lain karena belum tentu kita lebih baik darinya. Yuk, saling intropeksi diri kita masing-masing sebagai sesama makhluk Tuhan.

Itulah pesantren. Tidak hanya tempat mencari ilmu agama namun juga menjadi tempat belajar tentang kehidupan. Belajar hidup bersama dengan orang lain dalam waktu yang tidak ditentukan.