Istilah radikal sebenarnya memiliki makna yang cukup beragam. Ia bisa dimaknai sebagai fundamental, esensial, mendasar, reformis, dan terbuka. Radikal juga bisa dipahami sebagai ekstrem, militan, parsial, dan sikap yang keras dalam memperjuangkan sesuatu. Isme yang dilekatkan pada istilah radikal lebih mengacu pada suatu paham yang ekstrem dan berlebih-lebihan sampai melampaui batas.

Keragaman makna radikal ini pada dasarnya memiliki makna dua arah, yakni positif sekaligus negatif. Makna positif dari radikal biasanya mengacu pada suatu pandangan keterbukaan dan sikap moderat dalam memahami segala sesuatu. Sikap ini bisa terjadi dan dilakukan dalam konteks pemahaman terhadap apa saja, karena ia merupakan sebuah sudut pandang.

Makna positif dari radikal sering diarahkan pada kecenderungan terhadap kemajuan merumuskan sebuah jawaban dari problem-problem yang dihadapi sampai pada akar-akarnya. Kelompok radikal yang positif lebih mengedepankan sikap jalan tengah dan juga mencari titik temu antara dua kecenderungan yang dianggap sering berlawanan, misalnya antara posisi agama dan politik, sekuler dan konservatif, atau modern dan tradisional. Mereka percaya bahwa setiap dua hal yang berbeda tidak selalu harus dipertentangkan.

Radikal dalam konteks negatif biasanya mengarah pada satu pemahaman tentang sikap dan pandangan yang militan, kuat, dan keras dalam memperjuangkan aspirasi pendapatnya. Makna negatif sering kali diarahkan dan dikonotasikan kepada satu istilah yang disebut radikalisme. 

Pemahaman yang paling umum tentang radikalisme mengarah pada suatu gerakan politik yang menjadikan agama sebagai basis ideologis. Kekuatan militansinya terletak pada satu kecenderungan untuk menetapkan doktrin agama sebagai sebuah prinsip universal dalam mengatur tatanan yang ada.

Pemahaman yang salah kaprah, mayoritas orang percaya bahwa pesantren merupakan tempat yang subur dalam menanamkan paham radikal, beralaskan karena pesantren adalah tempat yang sangat identik dengan pengajaran dan pengkajian keislaman secara ketat. Pemahaman ini tidak hanya keliru, melainkan juga menunjukkan pola pikir yang begitu sempit terkait nilai-nilai Islam yang berkembang di Nusantara.

Pesantren bukanlah tempat untuk membentuk generasi radikal. Pesantren merupakan salah-satu cagar budaya dan tempat bersemayam bagi para kader ulama yang berkualitas. Faktanya, dalam dunia pesantren, para santri diajarkan dengan kajian-kajian keislaman yang begitu kompleks. Melalui pesantrenlah nilai-nilai dan dasar-dasar moral ditanamkan.

Realitas saat ini, banyak sekali “ustaz karbitan" yang bermunculan di tengah masyarakat. Padahal ia tidak pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Hal ini bukan hanya ironi, melainkan dapat membahayakan keagamaan masyarakat yang sebenarnya mereka lebih membutuhkan asupan keagamaan. Tentunya dalam memberikan pengajaran keislaman masyarakat membutuhkan figur ulama yang sekiranya memumpuni, sehingga masyarakat tidak keliru dalam mempelajari Islam.

Pesantren memperhatikan betul fenomena radikal agama. ini merupakan tugas berat yang harus dipikul oleh pesantren, seperti halnya memberikan pelurusan mengenai pemahaman akan sejarah. Kaum radikal kurang mengerti aspek kesejarahan pada Islam sebenarnya, mereka cenderung bersikap ahistoris yang artinya mereka menganggap bahwa masa lampau dan sekarang adalah sama saja, mereka hanya membutuhkan Islam yang sudah baku.

Hal ini lagi-lagi menjadi permasalahan yang serius dalam epistemologis. Dalam banyak hal kelompok radikal kurang mengerti atau keliru dalam memahami Islam. Mereka cenderung menganggap bahwa kondisi lampau dan saat ini tidak mengalami perubahan, dengan begitu sistem penerapan syariat dapat diterapkan dalam keadaan atau kondisi apa saja.

Kita tentu sudah sepakat bahwa Indonesia adalah negara yang berasaskan Pancasila. Pesanten merupakan garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai keislaman yang menyandingkan dengan nasionalisme. Pesantren memiliki peran yang begitu penting dalam menangkal radikalisme beralaskan Islam. Jika terdapat pemahaman keagamaan pada kaum radikal yang keliru, maka pesantrenlah yang pertama kali dapat meluruskannya.

Di sisi lain, pesantren sebagai lembaga keagamaan yang lebih dekat dengan masyarakat di sekitarnya ketimbang lembaga pendidikan formal, bisa jadi karena pesantren lebih mengedepankan budaya atau kultur. Dengan demikian, itu artinya pesantren lebih mudah berintraksi secara langsung dengan masyarakat dalam mengajarkan Islam secara terbuka.

Pesantren sebenarnya memiliki jaringan para ulama yang begitu luas, komunikasi antar pesantren juga merupakan mediasi penting yang dapat menyatukan pandangan yang seragam kepada masyarakat. Melakukan dialog, juga merupakan media yang sangat penting.

Pesantren memiliki gerakan pada dua arah yang berbeda. Pertama, mengembangkan kajian keislaman yang kaya dan inklusif dalam memahami Islam. Jika nantinya keragaman aliran dalam Islam sendiri tidak bisa dihindari, tentunya dengan sikap inklusif maka Islam dapat bersatu menjadi agama yang damai dan terhindar konflik antar sesama, dengan inilah Islam nantinya menjadi suri teladan atau contoh untuk agama lain.

Tidak ada yang lebih penting daripada dapat mengakui dan menghargai perbedaan sebagai sesuatu yang sama pentingnya dengan apa yang diyakini oleh setiap individu. Perbedaan pendapat haruslah mendapat perlindungan melalui hak-hak asasi, tidak ada alasan apapun yang dapat menjastifikasi atau menyalahkannya. 

Melalui pesantren, Islam dapat dihadirkan sebagai agama yang cinta damai, menghargai perbedaan, dan meletakkan perbedaan sebagai rahmat dari Tuhan yang Maha Esa.