وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ - ١٠٤

Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS.Al-Imron: 104)

Ayat tersebut begitu fenomenal bagi kita sebagai kaum muslimin, karena ayat tersebut adalah ayat pamungkas sebagai landasan ideal dakwah guna melestarikan pemikiran, ucapan serta gerakan untuk selalu dinamis menegakkan Islam itu sendiri sebagai agama yang mengoyak kebathilan dan menjunjung tinggi kebenaran, tanpa itu bumi ini akan rapuh karena keberadaan khalifah akan nihil.

Para ulama’ berbeda pendapat tentang penafsiran surat Al-Imron ayat 104 tersebut, menurut Abu Zahro maksud dari ayat tersebut adalah kewajiban dakwah atas seluruh umat, kata ‘’minkum’’ menunjukkan kepada salah satu dari kedua makna:

Pertama: “an takuna bayaniyah” dalam pengertian “min” untuk penjelasan. Jika demikian maka maksud dari ayat tersebut adalah hendaklah semua kaum muslim menjadi umat yang memerintah kebaikan dan mencegah kemungkaran. Kemudian ‘’min’’ juga menunjukkan perintah untuk menyeru kepada umat untuk menyampaikan risalah Muhammad.

Kedua: “minkum’’ menunjukkan “min li at-tab’idh”, menunjukkan sebagian, maka maksud dari ayat tersebut adalah hendaklah sebagian dari kalian memerintah kebaikan dan mencegah kemungkaran, hal ini sesuai dengan surat At-Taubah:122 :

و ما كان المؤمنون لينفروا كافة فلولا نفر من كل فرقة منهم طائفة ليتفقهوا فى الدين و لينذروا قومهم اذا رجعوا اليهم لغلهم يحذرون

"tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”(QS.At-Taubah : 122)

Lalu manakah kiranya yang benar, dakwah hanya untuk sebagian umat dari kita atau semuanya?. Sebenarnya kedua penafsiran tersebut tidak bertentangan, karena ternyata keduanya bisa dipersatukan.

Hukum dakwah bisa fardhu ain dan fardhu kifayah. Dakwah hukumnya wajib dilakukan oleh setiap orang, manakala yang dimaksud dengan dakwah dalam arti umum, yaitu dilakukan kapan saja, dimana saja, dengan cara apa saja, oleh siapa saja sesuai keadaan dan kemampuan yang bersangkutan. Dakwah hukumnya fardhu kifayah, manakala yang dimaksud dengan dakwah dalam arti khusus, yaitu dakwah yang terprogram secara sistematis dan berkesinambungan, ruang lingkup, sasaran dan tujuan yang khusus, serta memerlukan keahlian khusus pula bagi orang yang melakukan.

Dalam konteks kepesantrenan tentu dakwah berkaitan dengan bagaimana mengelola sebuah lahan pertanian yang kelak mampu menumbuhkan aneka macam tumbuhan yang bermacam-macam akan tetapi mempunyai satu kesamaan yaitu tumbuhan itu memberikan manfaat yang luar biasa bagi kelanjutan kemanusian yang dipagari oleh nilai-nilai agama. Mundzirul Qoum sesuai profesinya masing-masing.

Maka “minkum” adalah sebuah komunitas atau entitas (khowasul ummah), komunitas atau entitas berbasis nilai (value based entity). Yang dimaksud dengan nilai adalah nilai-nilai “al-khair” atau nilai-nilai keutamaan (virtue) yang menjadi fundamen atau orientasi. Dari situ dapat dirumuskan suatu visi.

Sebagai buah dari visi tersebut lalu menghasilkan sebuah misi yang terkandung dalam anak kalimat “ya’muruna bil ma’rufi, wa yanhauna ‘anil munkar”: menegakkan kebaikan dan meluruskan kemungkaran.

Nilai-nilai Kepesantrenan

Kalaupun kita bermunajat selama seribu tahun untuk mengetahui secara pasti apa saja nilai-nilai pesantren itu, niscaya munajat itu memerlukan tambahan beberapa ribu tahun lagi agar terbuka tabir secara sempurna.

Mulai dari Zainul Milal Bizawie, Munawir Aziz, Zamakhsyari Dhofir hingga Clifford Geertz, para pakar kepesantrenan dijamin akan sangat jujur mengatakan bahwa pesantren adalah lembaga yang penuh nilai, dan nilai itu seakan tak terbatas. Jika tidak demikian, sungguh mereka akan kehabisan kata-kata dan karya, buktinya buku mereka masih terus berenkarnasi.

Maka sungguh mustahil dalam tulisan ini mampu menyebutkan apa saja nilai-nilai kepesantrenan kecuali dalam pengertian nilai kepesantrenan secara umum dalam konteks yang lebih sempit, yaitu pesantren Al-Iman.

Selama kurang lebih 7 tahun nyantri di pondok pesantren Al-Iman, sungguh selalu dilanda rasa rindu dan kegalauan, karena mulai dari bangun pagi hingga mata terlelap di malam hari, tidak ada satu hal pun yang tidak memiliki nilai. Sehingga bapak Kyai pun sering berpesan: “coba renungkan apa yang kau lihat, dengar dan rasakan di pesantren”.

Maka nilai itu adalah nilai pengamatan dan kepedulian (apa yang dilihat), nilai kedewasaan dan keloyalan (apa yang didengar), serta nilai empati, simpati, dan kepekaan (apa yang dirasakan) sehingga kelak menjadi manusia yang penuh potensi dan bakti (rojulun fa’al) terhadap umat.

Selebihnya adalah nilai-nilai luar subjektif penuh misteri sesuai pengalaman pribadi yang penuh arti. Dan nilai-nilai tersebut akan semakin matang karena kasus dan konflik, kasus keorganisasian, kasus kemandirian, punishment, kepramukaan, kepengasuhan, keolahragaan, kesekretariatan dan lain sebagainya. Yang jelas pesantren itu sendiri adalah nilai. Dan figur nilai itu adalah Kyai sebagai centralnya, sungguh rugi jika santri jauh dari Kyai.