Minggu lalu, seorang kakak tingkat ketika kuliah dulu menanyakan waktuku untuk kelanjutan pekerjaan menulis kami yang tertunda dari beberapa tahun lalu. Untuk pekerjaan ini, kami harus ke Bandung. 

Aku setuju. Kita janjian berangkat dari Jakarta. Kemudian dia menawarkan satu kunjungan lagi mumpung di Bandung, yaitu menghadiri Jambore Kebangsaan di Pesantren Ekologi Ath-thaariq, Garut.

Dia mulai memberikan percikan-percikan ide supaya aku ikut ke Garut bersama mereka, yang akhirnya aku pun setuju ikut. Pukul 05.00 subuh pada hari Minggu, 15 September 2019, kami berangkat dari Bandung menuju Garut.

Tiba di lokasi, Pondok Pesantren Ekologi Ath Thaariq Kampung Citeureup RT/RW 04/12, Kelurahan Sukagalih, Kecamatan Tarogong Kidul, sekitar pukul delapan pagi.

Memarkir mobil di sebuah kampus dekat lokasi, kemudian berjalan melewati rumah penduduk, melewati pematang sawah yang kering karena sedang kemarau, akhirnya kami memasuki lokasi pesantren yang luasnya sekitar 7500 m2 dengan beberapa bangunan di dalamnya.

Kami disambut oleh Ustaz Ir. Ibang Lukmanurdin S.Ag, M.H dan istrinya, Teh Nisya Saadah Wargadipura, yang merupakan pendiri, pemimpin, dan pengasuh pondok pesantren.

Ada sekitar 150 peserta Jambore yang hadir dari berbagai daerah di Indonesia dan berbagai latar belakang agama dan keyakinan. Jambore Kebangsaan yang diselenggarakan untuk kedua kalinya ini mengambil tema “Menjaga Ekologi Indonesia dan Kemanusiaan”. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, Sabtu – Minggu, 14-15 September 2019.

Tema tersebut diambil karena kegelisahan terhadap krisis ekologi secara global dan krisis kemanusiaan yang makin mengkhawatirkan di Indonesia.

Kerusakan ekologi dimulai dari lingkungan kita masing-masing yang memperlakukan alam secara semena-mena. Bertani dengan serakah tanpa memberikan waktu istirahat pada tanah adalah contoh kecil perusakan ekologi yang dilakukan masyarakat tanpa sengaja.

Bila Anda mencari informasi “Pesanten Ekologi Ath-thaariq Garut” di mesin pencari internet, maka akan muncul banyak artikel yang ditulis oleh media yang sudah berkunjung ke sana sejak beberapa tahun yang lewat.

Bahwa pesantren ini mengedepankan kegiatan pertanian yang ramah lingkungan sebagai kegiatan utama selain mengaji ilmu agama Islam dan bersekolah bagi santrinya. Semua kegiatan pertanian yang dilakukan tidak menggunakan bahan kimia seperti pupuk kimia ataupun pestisida. 

Hanya mengandalkan pupuk alam dan pengolahan tanah yang alami. Daun, buah, dan ranting yang jatuh adalah sumber hara terbaik untuk tanah dan tanaman.

Bahkan untuk mengurangi populasi tikus, mereka membuat lubang-lubang untuk ular sehingga ular-ular tersebut yang akan memakan tikus-tikus tersebut. Rantai pangan pun diterapkan untuk menghindari pemakaian bahan kimiawi yang tidak ramah lingkungan.

Bila Anda berkunjung ke pesantren ini, janganlah membawa botol minuman plastik sekali pakai. Itu tidak ramah lingkungan dan tidak disukai komunitas ini. Dan sebaiknya tidak hanya saat berkunjung ke Pesantren ini, di mana pun pasti lebih baik bila kita mengurangi pemakaian sampah plastik.

Pesantren ini sudah mengolah aneka hasil alam untuk dijual, misalnya teh yang dibuat dari aneka daun yang ada di sekitar Pesantren. Membuat sabun, shampoo, body lotion dari bahan alami. Juga membuat aneka selai dan penganan. Semua produk itu dikemas dengan baik dan telah mempunyai pasar hingga ke luar negeri.

Mereka mengusahakan agar pesantren dapat hidup mandiri. Ada aneka dekorasi seperti lukisan yang terbuat dari biji-bijian yang tidak terpakai terpajang di dinding. Lukisan-lukisan tersebut dapat dibeli oleh pengunjung bila tertarik.

Pertanian di pesantren ini dilakukan secara paripurna, mulai dari pembibitan, menghasilkan bibit unggul, penanaman, hingga panen dilakukan secara swadaya. Aneka biji tanaman menjadi koleksi mereka. Demikian juga aneka daun teh tersedia dalam kemasan yang diproduksi oleh para santri.

Uztaz Ibang dan Teh Nisya tidak memiliki latar belakang pendidikan pertanian. Mereka hanya belajar autodikdak, tapi usaha mereka di bidang pertanian mendapat penghargaan dari berbagai instansi, baik dalam maupun luar negeri. Peneliti asing seperti dari Thailand dan Filipina pernah “nyantri” di pondok ini untuk belajar argoekologi.

Pada saat saya berbincang-bincang dengan peserta Jambore, banyak diantara mereka merupakan mahasiswa S2 dari UGM ataupun Prater dari gereja Katolik Jesuit.

Pesantren yang telah berdiri sejak tahun 2009 ini memberi keunikan tersendiri dari pesantren-pesantren pada umumnya. Ath-thaariq sangat terbuka terhadap kedatangan semua orang dengan latar belakang organisasi dan agama yang berbeda.

Teh Nisya bercerita tentang keterlibatan para Romo dari gereja Katolik dalam pesantren tersebut. Para Romo dan Prater tertarik pada kegiatan ekologi yang dikembangkan oleh Pesantren Ath-thaariq. Mereka melihat bahwa Ensiklik Laudato Si dari Paus diterapkan sangat sempurna di Pesantren ini.

Ensiklik Laudato Si itu berisi tentang seruan Paus kepada umat Katolik sedunia untuk melakukan pertobatan ekologis global. Kehancuran alam sudah menjadi perhatian yang serius dari para Paus dari sejak lebih dari lima puluh tahun lalu. Pertobatan ekologis yang diserukan Paus itu ternyata dilakukan dengan sempurna di Pesantren Ath-thaariq.

Dari sana, para Romo sering membawa mahasiswanya untuk belajar di Pesantren ini. Perkembangannya tidak hanya Para Romo yang terpincut, juga komunitas dari Gereja HKBP, ada juga dari golongan Hindu, Buddha, dan komunitas-komunitas kesenian lainnya.

Saya melihat bahwa Pesantren ini adalah cermin Indonesia yang terbaik, berbeda-beda tetapi saling merangkul. Seperti saat jambore ini, salah satu materi yang dibicarakan adalah Pandangan terhadap Ekologi dan Kemanusiaan serta Kebangsaan dari Perspektif Agama dengan pembicara seperti Kiai Ibang Lukmanurdin S.Ag. M.H (Pesantren Ekologi Ath Thaariq), Romo Adrianus Suyadi, SJ –Kolese Hermanum Serikat Jesus, dan Watiek (PMK Huria Kristen Batak Protestan HKBP Jakarta).

Saat acara berlangsung, tidak tampak ada jarak antara peserta dari Islam dan Kristen/Katolik. Semua berbaur dan berbicang tanpa sekat. Tidak tampak ada prasangka, yang ada hanya kebersamaan. Bersama kita bisa membuat Indonesia makin melalui pertanian, ekologi, dan kemanusiaan.

Saat menikmati kopi buatan anak-anak pesantren di sebuah saung yang teduh di dalam kawasan Pesantren itu, aku membayangkan bila setiap provinsi di Indonesia memiliki pesantren yang terbuka seperti ini, mungkin polarisasi berdasarkan agama dapat kita bendung, bahkan mungkin dapat kita hilangkan. Semoga yang kubayangkan ini bisa menjadi kenyataan kelak.

Akhir kata, hormatku yang setinggi-tingginya kepada pasangan yang luar biasa ini, Ustaz Ibang dan Teh Nisya. Terima kasih telah menerimaku berbincang-bincang di pondok yang nyaman dan sejuk itu. 

Semoga suatu hari nanti cita-cita kalian tercapai, yakni “menyebarkan pengetahuan dan mencetak kader agro ekologi yang berpandangan pada penyelamatan dan kepedulian terhadap bumi, manusia dan masa depan.”

Bravo, Pesantren Ekologi Ath-thaariq Garut!