Perkembangan dunia dan teknologi makin tidak terbendung dan sudah barang pasti membawa pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Utamanya adalah akses keilmuan dan informasi yang mengalir deras tersebar luas dan dapat diakses di mana pun dan kapan pun kita berada.

Setiap hal baru sangat mudah kita akses. Dengan smartphone, kita bisa melihat secara langsung keadaan di belahan dunia lain. Dengan usapan jari di layar tablet, kita sudah bisa asyik masyuk menikmati luasnya samudra ilmu, atau bahkan dengan wasilah perangkat lain yang terus menambah ilmu dan pengetahuan di otak kita.

Ditambah lagi, menurut data Badan Pusat Statistik, jumlah pemuda di Indonesia sebesar 63,36 juta jiwa atau 1 dari 4 orang Indonesia adalah pemuda. Jumlah yang sangat signifikan, atau 2.6 kali lipat total populasi Australia atau dua kali lipat total populasi Malaysia di segala kelompok usia.

Dengan didominasinya usia produktif membuat mereka terlibat aktif dalam merespons perkembangan zaman. Dampak sosial dari permasalahan ini sudah dapat kita rasakan. Hal ini dapat dilihat dari sebuah realitas nyata, yang menunjukkan pergeseran tingkah laku manusia, salah satunya menjamurnya budaya instan yang menjangkit manusia.

Menurut Juneman Abraham, psikolog sosial dari Universitas Bina Nusantara, asbab musabab yang memicu budaya instan adalah serbuan tuntutan hidup, kompetisi, serta semarak dan serba cepatnya perubahan di lingkungan. Sementara itu, manusia secara biologis maupun psikologis memiliki kapasitas yang terbatas untuk mengolah informasi, melakukan refleksi/permenungan, dan merencanakan adaptasi. 

Jalan pintas lalu tampak menjadi pilihan yang "realistik dan rasional" di saat orang tidak mampu mengimbangi serbuan perubahan tersebut.

Hal ini menjadi celah yang mengkhawatirkan bagi tunas-tunas bangsa, mengingat arus informasi yang tidak terbendung yang tidak diimbangi dengan budaya tabayun (klarifikasi) dan budaya berguru langsung kepada seseorang yang mempunyai kapabilitas dalam menyampaikan suatu ilmu, sangat mudah disusupi oleh pemahaman-pemahaman menyimpang, yang menjadi titik awal radikalisme.

Dari sini kita harus jernih dalam melihat dan mengidentifikasi persoalan bahwa banyak milenial belajar agama melalui media virtual yang jauh dari tradisi keilmuan agama. Proses instan membuat  Mereka secara otodidak merujuk langsung melalui Google, melalui media social dan media lainnya.

Hal ini berbanding terbalik dari tradisi keagamaan para santri, yang umumnya wajib langsung berguru kepada Kiai/Ustaz, bertahun-tahun mengambil ilmu dan teladan langsung dari Kiai sehingga yang terjadi adalah tersambung sanad keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan antara guru dan murid yang di mana sanad kiai dengan kitab yang diajarkan tersambung dengan Rasukullah.

Hal inilah yang menjadi fondasi awal sebagai proses validasi ideal bagi seseorang yang belajar agama. Imam Abdullah Ibn Mubarok berkata:

الاسناد من الدين ولو لا الإسناد لقال من شاء ما شاء

“Tersambungnya sanad adalah bagian dari agama; kalua bukan karena isnad, maka setiap orang akan berbicara sesuai dengan kehendaknya.”

Di sisi lain, hal ini juga menjadi autokritik bagi pesantren agar tidak terkesan ekslusif bagi orang awam. Oleh karena itu, pesantren harus terus bersolek demi meraih masa kaum muda yang dirasa makin tidak mengenal pesantren karena dianggap jauh dari kata modern, sehingga terjadi gap yang jauh antara kaum milenial dan pesantren.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia mempunyai peran penting dalam mengawal dan membentuk karakter bangsa Indonesia. KH. Mustofa Bisrim, ulama karismatik asal Rembang, menjelaskan pesantren memiliki keistimewaan tersendiri dalam menerapkan kurikulum pendidikannya, yaitu pesantren tidak hanya memberikan agenda pengajaran (ta’lim) tentang keilmuan, akan tetapi pesantren juga ikut serta dalam mendidik (tarbiyah) akhlak dan bagaimana mengaplikasikan ilmu yang sudah dipelajari agar bermanfaat.

Barangkali hal ini yang terlihat dari persona Gus Mus yang tidak hanya menyampaikan pesan-pesan sejuk ilmu agama dengan tutur kata atau tulisan, namun lebih dari itu beliau berdakwah dengan akhlak al-karimah, menebar kasih sayang terhadap sesama dengan memanusiakan manusia.

Berangkat dari faktor di atas, tentu kita tidak bisa memaksa kaum milenial untuk belajar langsung bertahun-tahun di pesantren untuk mendalam agama, melainkan pesantren sebagai poros utama dalam mempelajari ilmu agama dan akhlak harus terjun langsung, jihad melawan pemikiran-pemikiran ekstrem yang menyalahi kodrat dari agama itu sendiri, yaitu rahmatan lil alamin.

Dengan khazanah kelimuan pesantren, yang kaya akan ilmu pengetahuan dan akhlak budi pekerti, dapat dijadikan brand utama dalam menyuarakan pemahaman Islam yang moderat sesuai dengan nilai-nilai pokok Ahlus Sunnah wal jama’ah. Dan sisanya adalah bagaimana kita membungkus pemahaman ini dengan kemasan kekinian agar pesantren digital diminati kaum milenial yang selama hidupnya tidak pernah mengenal pesantren.

Maka dari itu, sudah saatnya pesantren turun gunung bergegas dari zona nyaman ikut babat alas membasmi hama-hama yang ada di dunia digital dengan menanamkan benih-benih dan ruh pesantren yang moderat dengan pemahaman ahlus Sunnah wal jama’ah.

Jika dulu KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan resolusi jihad untuk melawan penjajah, maka sudah saantya para penerus generasi muda melanjutkan perjuangan beliau dengan turut aktif berjihad di dunia digital, menebarkan Islam yang ramah, santun, bermartabat dan Insyaallah kelak akan terwujud media digital yang rahmatan lil alamin.