Mahasiswa
2 tahun lalu · 802 view · 6 menit baca · Politik homer-simpson-690x382.jpg
ilustrasi hati nurani. sumber: http://religiondispatches.org/wp-content/uploads/2014/07/homer-simpson-690x382.jpg

Pesan untuk Segenap Generasi Millennial

Penulis menyusun tulisan ini pada tanggal 30 agustus, yang merupakan Hari Internasional untuk Orang Hilang, atau International Day of The Disappeared. Hari tersebut ditujukan bagi segenap korban penghilangan, baik secara paksaan ataupun karena tragedi kemanusiaan lainnya, serta meningkatkan kesadaran dan solidaritas publik tentang nasib keluarga yang ditinggalkan tanpa pesan dan kejelasan oleh otoritas [1].

Hal yang generasi muda atau generasi millennial mungkin tidak tahu, bahwa di Indonesia, peringatan internasional tersebut sangat melekat pada aksi kamisan, aksi keluarga dan kerabat 13 korban penculikan pada detik-detik runtuhnya rezim orde baru. Mereka adalah kerabat dan keluarga dari orang-orang yang menyuarakan hal yang sama sebelum dibungkam, suara tentang pentingnya kebebasan.

Mereka, seperti yang kita tahu, tak pernah dikembalikan. Tidak adanya permintaan maaf serta itikad baik pemerintahan untuk menyelesaikan kasus ini, masih menjadi hutang republik yang belum usai.

Hanya ada satu jawaban umum yang merasuki publik, seakan menginsafi dan memaafkan negara serta aparaturnya: “Mereka semua korban politik." Atau, "Proses ini akan berlangsung lama. Muskilnya perkara ini toh karena pelaku dan korban sama-sama belum ‘dikubur’.”

Predikat "korban politik" menunjukkan sebagian kecil tentang rendahnya penghargaan kita terhadap tiap korban penghilangan. Kebanyakan dari mereka adalah aktivis politik, yang justru digilas sendiri oleh langkah politik penguasa yang tentu terkenal dengan sifat "saling sikat dan tanpa ampun". Penghargaan itu terlampau kecil bila dibandingkan dengan hati keluarga yang ditinggalkan. Dan publik, termasuk generasi milenial, gagal melakukan hal itu. Para pemimpin politik kita sendiri seakan mudah lupa, membiarkan kasus ini mengatung tak menentu. Harusnya mereka mau berpikir, dan mendengar suara dari aksi kamisan tersebut, bahwa bukankah tujuan konstitusi kita adalah melindungi seluruh tumpah darah Indonesia? Ataukah kita lebih menghargai UU pidana atau UU lalu lintas daripada dasar negara kita? dasar kenapa republik ini dibangun?.

Jadi, apakah politik itu jahat?

Gejolak stabilitas beberapa tahun belakangan menunjukan riak dan gemericik nyata tentang pentingnya kebebasan dan kedaulatan sipil, yang seharusnya menampar masyarakat Indonesia. Berpuluh-puluh tahun tenang ditidurkan oleh nyenyaknya buaian penguasa, dengan demokrasi yang disfungsional, api perubahan akhirnya tersulut menyundut pantat rakyat.

Keberanian dan keikhlasan seorang pemuda Tunisia bernama Bouazizi  untuk mengobarkan diri dalam api, mampu menggulingkan kediktatoran zainal abidin yang telah mendudukkan pantatnya yang empuk pada sofa presiden selama 24 tahun[2]. Selebihnya dari Bouazizi dan api demokrasinya, adalah sejarah yang kita kenal dengan nama Arab spring. proses politik berlangsung, dan hingga saat ini negara-negara di jazirah arab sedang menuju tatanan baru, tatanan yang lebih demokratis.

Lantas, apakah politik bisa menjadi baik?

Indonesia, dengan 62,5 juta generasi milennial [3], tentu penulis harapkan akan menyadari serta belajar. Bahwa kebebasan tidak mudah didapatkan. Kebebasan akan ada, atau tidak ada sama sekali, seperti 13 orang hilang yang menjadi dasar aksi kamisan. Buah perjuangan para pendiri bangsa itu adalah kebebasan, hanya itu dan itu terlampau besar.

Melihat negara lain yang bergerak pada arah perubahan, makin meyakinkan mereka untuk mensyukuri kebebasan, yang telah ada ketika kita terlahir tanpa perlu mengharap iba. Dan nantinya, akan ada nafas baru dalam tiap sendi kehidupan kita berdemokrasi. Akan ada godam yang menghantam dinding pikiran yang konservatif, jahil, serta elitisme yang berkedok nasionalisme semu.

Mereka akan menjadi sintesis dari politik yang jujur dan adil, serta simbol bahwa kebebasan dan hukum akan dihargai setinggi-tingginya, dan negara akan hadir dan berfungsi atas nama kebebasan. Maka, dengan sendirinya kutu-kutu penganggu seperti koruptor, dan pelanggar hak asasi manusia seperti penghilang paksa menjadi musuh bersama yang akan ditimpakannya hukum tanpa pandang bulu, kepada semua yang bermufakat di dalamnya.

Namun, generasi milennial sebagai bibit baru politik dan demokrasi kita nampaknya akan mati sebelum berkembang. Kalahnya mereka dengan warisan jahilnya pikiran dan bobroknya moral dari pendahulu mereka menjadikan para anak muda menjadi generasi baru dengan cetakan lama.

Hal tersebut terlihat pada berbagai permasalahan negara ini yang dapat kita lihat dalam keseharian, seperti korupsi dan intolerasi. Dari sebuah harapan dan cita-cita, seorang anak dengan polosnya ingin menjadi koruptor [4]. Dari angkatan pelajar, 50% siswa setuju oleh tindakan radikalisme[5].

Lalu, menjadi ironi ketika indeks pembangunan manusia Indonesia justru mengalami peningkatan[6]. Ditambah dengan hasil survey yang menyatakan bahwa mayoritas masyarakat indonesia berpendapat bahwa negara ini telah berada di jalur yang benar [7], sehingga, teori yang menyatakan sulitnya ekonomi dan pendidikan yang menjadi akar korupsi, dan intoleransi,  serta tindakan bobrok lainnya menjadi pertanyaan kembali.

Generasi milennial terkesan diam, atau mendiamkan arah demokrasi kita yang sekarang tengah disetir entah ke mana. Tidakkah kalian timbul pertanyaan: "Kembalikah kita ke zaman itu, zaman yang sebentar sekali saya rasakan?” Atau, “Gagalkah kita sebagai negara?", wahai generasi muda?

Masalah tersebut diperparah dengan kembali terancamnya demokrasi yang kembali diutak-atik oleh para kaum tua yang masih mencari eksistensi. Pesan Bung Karno terkait permusyawaratan dan perwakilan tampak diseret ke ruangan lainnya, menuju UU MD3.

Bagaimana mungkin, wakil rakyat seperti anggota DPR dapat memperjuangkan aspirasi rakyat jika para pemilih hanya disuguhkan logo partai politik, yang sudah jelas sangat rendah tingkat kepercayaannya di mata publik? [8]. Bagaimana dengan prinsip desentralisasi serta otonomi daerah yang telah kita sepakati bersama, ketika sejumlah undang-undang, kurang ajarnya, tanpa awasnya publik, bisa diketuk tanpa ragu?.

DPR, dengan kaum tua yang masih bercokol, kembali membuat kita seakan berjalan mendaki tingginya bukit pasir: maju 3 langkah, mundur 4 langkah. Sekarang kita hujat, lalu bagaimana nanti? Bagaimana nasib  negara ketika kau berkuasa? Wahai generasi-baru-cetakan-lama?.

Menurut penulis, hal yang terpenting dalam berpolitik adalah dengan menggunakan hati nurani. politik yang diwariskan dari generasi tua, tidak menghadirkan nurani dalam berpolitik. Maka, muncul politisi dengan berbagai predikat, seperti tikus kantor, mafia proyek, career politician, dan lain sebagainya. dan kesemuanya mempengaruhi tiap gerigi demokrasi kita, yang sedari dulu sudah aus kurang oli. 

Mereka pun bergerak dinamis dengan politik praktis demi mencapai tujuan politik, yang seringkali bersebrangan dengan demokrasi negara ini. Penulis sangat berharap, agar politik ke depan dipegang oleh generasi milennial yang mengerti hati nurani. Penulis yakin mereka akan menjadi generasi terbaik, melebih pendahulu mereka, generasi X, jika mereka mau mendengar; mendengarkan nasihat pendiri bangsa, serta mendengar hati nurani mereka. generasi yang melihat politik dengan hati nurani, akan menjadi aset terbesar negeri ini.

Roh penggerak demokrasi, menurut Mahatma Gandhi, bukanlah sesuatu yang mekanis, yang bisa disesuaikan hanya dengan penghapusan atau penambahan undang-undang semata. Roh demokrasi memerlukan perubahan hati nurani kita [9]. Seberapa jernih generasi milennial melihat permasalahan bangsa ini, tentu akan menentukan seberapa luhur mereka akan membentuk demokrasi.

Sedangkan, Bung Karno menyatakan bahwa kalau kita mencari demokrasi, hendaknya bukan demokrasi barat semata, tapi permusyawaratan yang memberi hidup, yang mampu mendatangkan kesejahteraan [10].  Biarkan hati nuranimu bekerja, anak muda. Dan berikan rakyat, mereka yang kalian wakilkan, waktu untuk untuk kalian dengar nanti. mereka dapat dengan mudah menumpulkan kesombonganmu, egomu, dan nafsumu untuk "bermain" dalam politik.

Indonesia dengan keberagaman dan berbagai kearifan lokalnya, menurut penulis, telah lebih dari cukup untuk menuntun kita, tentang bagaimana berpolitik menuju demokrasi dan kebebasan sebaik-baiknya.

Hal yang selanjutnya harus menjadi perhatian generasi milennial adalah bagaimana mengusung jalan politik beralaskan hati nurani, agar dapat menyatukan tiap anak bangsa dalam satu tubuh yang sama, yang berdasarkan rahmat Tuhan YME terikat dalam kondisi geopolitik yang sama, dan saling menguatkan.

#LombaEsaiPolitik

Sumber:

1. https://en.wikipedia.org/wiki/International_Day_of_the_Disappeared
2. http://content.time.com/time/magazine/article/0,9171,2044723,00.html
3. news/detail/7043/memanfaatkan-peluang-dari-generasi-muda-di-indonesia#.V8U9kJN950c
4. http://www.jpnn.com/read/2016/08/28/463632/Kaget!-Ditanya-Apa-Cita-citanya-si-Bocah:-Ingin-jadi-Koruptor-5.http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/02/160218_indonesia_radikalisme_anak_muda
6.. http://www.voaindonesia.com/a/undp-indeks-pembangunan-manusia-indonesia-alami-kemajuan/3110936.html
7. http://www.saifulmujani.com/blog/2016/01/20/jokowi-memiliki-modal-besar-72-persen-warga-menganggap-indonesia-berada-di-jalan
8. http://www.saifulmujani.com/blog/2016/01/12/survei-nasional-smrc-kepuasan-publik-terhadap-kepemimpinan-jokowi-meningkat
9. The Essential Gandhi: An Anthology of His Writings on His Life, Work, and Ideas hal192
10. Nasionalisme dan revolusi Indonesia, hal.178.