Mahasiswa
1 bulan lalu · 321 view · 3 min baca menit baca · Politik 55533_46748.jpg
Prabowo

Pesan untuk Prabowo yang Baik Hati

Dulu saya termasuk dalam 46,85% masyarakat yang memilih Prabowo bersama Hatta Rajasa pada pemilu 2014. Waktu itu Prabowo kalah dengan orang yang sama dengan sekarang, yaitu Joko Widodo, namun beda wakilnya saja; kala itu yang menjadi calon Wakil Presiden-nya adalah Jusuf Kalla.

Pasti banyak yang bertanya alasan memilih Prabowo pada 2014. Saya memilihnya karena latar belakangnya dari militer. Saingannya hanya seorang sipil. Dengan pangkat Letnan Jenderal, sudah tampak bahwa Indonesia akan ditakuti di dunia. Indonesia akan menjadi macan Asia di bawah kepemimpinan Prabowo.

Image Prabowo sebagai ‘Juru Selamat’ Indonesia dari gerombolan orang PKI (katanya) juga menjadi alasan memilihnya. Gencarnya isu bangkitnya PKI membuat waswas banyak orang, apalagi saya dari kecil sudah banyak dapat materi keganasannya, sedari kecil pula sudah didoktrin bahwa PKI itu menakutkan, PKI itu tukang bunuh, PKI itu tidak beragama. 

Darah militer mengalir dalam diri Prabowo membuat mulai tumbuhnya kepercayaan bahwa PKI tidak akan bangkit lagi.

Lawannya Prabowo saat itu saya anggap hanya sebagai boneka partai, walaupun mungkin sekarang memang boneka partai. Jokowi, sebelum maju sebagai Presiden, ia merupakan Gubernur DKI Jakarta. Maju sebagi Gubernur berkat Prabowo dan Gerindra. 

Ketika Jokowi maju sebagai calon presiden, ia masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. “Oh Tuhan, memang orang yang tidak bertanggung jawab atas amanah!” gumam saya waktu melihat dia mencalonkan diri.


Selasa, 22 Juni 2014, KPU menetapkan Prabowo kalah dari Jokowi. Saya percaya ini pasti hasil kecurangan dari kubu sebelah. Padahal saat itu lembaga survei ada yang memenangkan Prabowo. Dari situ makin yakin ada kontrasepsi konspirasi di balik ini semua. Beda dengan sekarang, sudah jelas Prabowo kalah telak di semua lembaga survei.

Dengan hasil kemenangan di beberapa lembaga survei, ditambah banyak bukti kecurangan telah timses Prabowo sebutkan, bahkan sampai bertruk-truk, akhirnya kasus ini dibawa ke Mahkamah Konstitusi. Tujuannya jelas, ingin memenangkan pemilu. Banyak pendukung yang men-support keinginan untuk melapor ke Mahkamah Konstitusi dan yakin akan mengalahkan semua kecurangan yang terjadi, termasuk saya.

Saya tidak tahu apa di benak Mahkamah Konstitusi sampai menepis semua kecurangan yang terjadi dan menetapkan Jokowi sebagai presiden. Padahal, kalau Prabowo menang, wah, saya yakin kita sudah menjadi macan sekarang. Iya, macan, trio macan!

Setelah Jokowi menjadi Presiden Indonesia selama 5 tahun, saya merasakan banyak perubahan. Mungkin bukan saya saja, semua masyarakat Indonesia. Papua yang dulu hanya dikeruk kekayaannya saja, sekarang sudah bisa menikmati hasil kekayaan sendiri; dulu hasil kekayaan alam Papua, namun yang merasakan hasilnya daerah di Jawa.

Lombok, daerah saya, dulu bisa dibilang terbelakang. Bioskop saja baru saya rasakan tahun 2015, namun sekarang sudah maju pesat. Bahkan sirkuit Moto GP sudah dibangun di sini. Insyaallah, selesai tahun 2020. Padahal, di sini Prabowo kalah telak. Hasil KPU sekarang juga tetap kalah telak.

Rabu, 17 April 2019, saya meyakinkan diri untuk menetapkan pilihan pada Jokowi. Walau saya tidak setuju dengan pemilihan wakilnya, tidak mengapa, Jokowi pasti bisa mengatur itu. Pilihan ini sangat berat; bertahun-tahun meyakinkan bahwa Prabowo sebagai pemimpin yang cocok, bertahun-tahun meyakini bahwa Prabowo dicurangi.

Pilihan saya sudah berubah pada Jokowi, tapi saya berharap suatu saat Prabowo akan menjadi pemimpin. Maka dari itu, saya menitipkan pesan untuknya agar makin legawa.

Pak, Bapak tahu, kan, kalau Jokowi itu memulai kariernya sebagai pemimpin tidak langsung mencalonkan menjadi presiden? Ia mulai dari menjabat Walikota Solo. Cobalah untuk mengikuti jejak Jokowi untuk menggapai ‘kamar’ di Istana Negara.

Walau pernah menjabat sebagai Komandan Kopassus, tapi itu beda, Pak. Jangan samakan dengan sipil. Saat menjabat sebagai Komandan, anak buah Bapak tidak mungkin melawan atas kebijakan yang ditawarkan, tidak ada yang berani. Cobalah memulai karier pemimpin dari yang terendah. Bisa dimulai dari ketua RT. Kalau tetap kalah, ya nyadar diri, dong!

Pak, bapak, kan, penyayang binatang. Bahkan, ajudan bapak pernah memberi pernyataan kalau bapak bisa berkomunikasi dengan binatang. Semut dan nyamuk nurut ketika diperintah, sampai kucing pun pernah ngambek karena tidak diajak main. Memimpin binatang saja bisa, sepatutnya memimpin manusia yang paling berakal bisa, dong.


Tapi buktinya, dua kali kalah pemilihan presiden, sekali kalah menjadi wakil presiden. Kalau begitu, siapa salah ketika tidak ada yang memilih menjadi pemimpin di Indonesia? Ya, bapak sendirilah! Harusnya bapak nyadar, sudah banyak cara bapak lakukan tapi tetap saja kalah.

Orang-orang menilai bapak sebagai orang yang keras kepala, orang yang emosian. Tapi saya yakin, bapak adalah orang yang baik hati. Buktinya, ketika sedang orasi, bapak pukul meja. Niat Bapak pasti ingin mengiringi musik sambil pukul meja, kan? Ala-ala Ahmad Dhani begitu.

Bapak juga rela bersalaman dengan sapu tangan. Saya tahu niatnya agar masyarakat tidak tertular kuman dari tangan bapak, kan? Sering blusukan membuat tangan bapak berlumuran kuman. Saya sangat tahu, pak, tahu banget.

Bapak itu sangat asyik ketika tidak terlalu memaksakan kehendak.

Pak, bapak, kan, punya Tuhan, pasti percaya takdir, kan? Legawalah, pak. Percaya sama takdir Tuhan.

Artikel Terkait