Sepertinya apa yang diperankan Leonardo DiCaprio di film Shutter Island terjadi pada kehidupan nyata si aktor peraih oscar ini. Ya, cuma Shutter Island-nya bukan rumah sakit jiwa, tapi di Indonesia. Lah, bagaimana ceritanya? Ini dia!

Sebelum bercerita lebih lanjut, bagi yang belum nonton Shutter Island, biar sedikit saya paparkan. Jadi, ceritanya di film itu Leonardo DiCaprio berperan sebagai Teddy Daniels (seorang anggota federal U.S Marshall).

Teddy Daniels melakukan penyelidikan di sebuah rumah sakit jiwa. Soalnya ada pasien parah yang raib tak tahu kemana. Nah ujung-ujungnya, penonton dibuat bingung, ini apa Teddy Daniels yang gila, kepala rumah sakit jiwanya yang kejam dan berniat melakukan konspirasi, atau semua pasien di sanalah yang waras?

So, secara geometris (apa pula ini?!) saya merasakan kecocokan film Shutter Island dengan kunjungan Leonardo DiCaprio ke Taman Nasional Gunung Leuser, Aceh pada Minggu, 27 Maret lalu.

Ya, aktor peraih oscar itu mau-maunya memilih liburan ke Indonesia untuk melihat habitat asli Orangutan. Walau kadang merasa tersindir juga, kenapa kok malah bule-bule yang lebih peduli dengan alam negeri ini.

Cuma, masalahnya bukan itu. Lima hari berlalu setelah kedatangan Leo ke Aceh, saya baca berita di situs terpercaya, katanya pemeran utama di film Revenant ini terancam dideportasi dari Indonesia. Nah lho?!

Kabarnya sih, Leonardo dinilai melakukan kampanye hitam terhadap perkebunan kelapa sawit ketika berkunjung ke taman nasional itu. Eh?

Atas kejadian itu, Dirjen Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Ronny F Sompie pun angkat bicara.

Kata beliau sih visa yang diajukan Leonardo hanya untuk kunjungan wisata, sehingga kalau ada keperluan lain dengan melakukan aktivitas yang mengganggu ketertiban umum atau mengganggu kepentingan Indonesia, maka pihak Imigrasi siap mendeportasi.

Ternyata benar, Leonardo memang menyentil perkebunan sawit. Ia menuding ekspansi perkebunan kelapa sawit telah menjadi penyebab rusaknya ekosistem hutan yang juga menjadi sumber rantai makanan hewan-hewan langka seperti Gajah Sumatera.

Sampai-sampai atas pernyataan Leonardo tersebut, salah seorang pengusaha sawit di kawasan itu kebakaran jenggot. Menurutnya, Leonardo salah sasaran. Mestinya kampanye pelestarian lingkungan jangan di Indonesia, tapi di Amazon sana. Apa biar sekalian disantap suku kanibal gitu? Saya juga gagal paham.

Hadeh! Ternyata begitu toh masalahnya. Ah! Leonardo, situ sih ada-ada aja. Sini saya kasih tahu.

Pertama, cara situ liburan di Indonesia teramat salah dan sangat tabu. Harusnya kalo memang mau liburan, contohlah gaya masyarakat di sini. Menikmati pemandangan, ketawa-ketiwi, selfie-selfiean, injak tanaman dan mesum dikit tak apalah. Ini malah sok-sokan peduli lingkungan. Ya iyalah terancam dideportasi.

Kedua, kok berani-beraninya situ bilang kalo ekspansi perkebunan kelapa sawit adalah penyebab rusaknya ekosistem hutan?

Sini saya kasih tahu ya. Pada 2014 lalu saja, ekspor produk kelapa sawit telah menghasilkan devisa US$ 19,56 miliar atau kira-kira Rp 250 triliun. Bayangkan wahai Leo! Tidak ada apa-apanya dengan bayaran situ yang cuma US$ 20 juta per filmnya.

Jangan sok-sokan peduli alam Indonesia. Kami saja nggak peduli, ngapain situ nyinyirin kondisi hutan negeri ini?

Bayangkan, Rp. 250 triliun! Apa situ mau pengusaha-pengusaha besar kelapa sawit itu jatuh miskin? Sudahlah. Jangan sok kritis. Lagian juga sebagian besar lahan dimiliki oleh perusahaan besar swasta dan hanya belasan persen yang menjadi milik perusahaan besar negara kok.

Leo, produksi kelapa sawit kami lebih besar sembilan kali lipat dari negara lain. Hebat kan?! Bukan itu saja, Indonesia juga punya rekor sebagai negara dengan laju penebangan hutan terbesar di dunia. Plok..plok..plok!

Laju kerusakan pun mencapai dua juta hektar per tahunnya! Tapi tenang, laju kerusakan makin berkurang kok, soalnya hutannya juga makin berkurang.

Leo, terus situ mau bilang apa lagi tentang pelestarian lingkungan dan hutan di Indonesia? Situ tahu tidak, sejumlah pihak dan organisasi yang peduli lingkungan juga sudah berbusa-busa dalam aksi dan orasi.

Mereka sudah berteriak-teriak kalau tanah-tanah telah tercemar limbah aktivitas pengolahan produksi kelapa sawit, dan juga mengakibatkan kerusakan struktur sehingga menurunnya daya ikat tanah terhadap air. Semua sudah diteriakkan kok!

Leo, ngomong-ngomong situ pernah dengar belum kalo penambahan luas lahan sawit juga dilakukan dengan cara ala barbar, yakni pembakaran hutan, pengusiran penduduk dan pembantaian satwa?

Tapi sekali lagi saya bilang, pikir-pikir lagilah kalo mau beraksi dan orasi terkait dengan kepedulian terhadap alam di negara ini. Kami di sini lebih mentingin ekspor, ekspor dan ekspor! Biar orang-orang di atas sana makin kaya. Kasihan soalnya, mereka kan belum pernah merasakan miskin.

Kami tahu dan sadar, hilangnya keaneka ragaman hayati akan memicu kerentanan kondisi alam berupa menurunnya kualitas lahan disertai erosi, hama dan penyakit.

Kami juga tahu kalo Pencemaran yang diakibatkan oleh asap hasil dari pembukaan lahan dengan cara pembakaran dan  pembuangan limbah, bakal meracuni makhluk hidup dalam jangka waktu yang lama.  

Kami juga tahu, perkebunan sawit itu akan menimbulkan hama baru (penyebab utamanya karena penerapan sistem lahan monokulturasi). Kami tahu kok! Tapi ya sampai di situ saja sih. Istilahnya, ya cukup tau aja.

Tapi tenanglah, Leo, kabarnya Kementerian Perindustrian Indonesia tengah mempersiapkan standarisasi industri hijau untuk industri kelapa sawit terkait hasil Konferensi Internasional untuk Kelapa Sawit dan Lingkungan (ICOPE) ke-5 di Bali Pertengahan Maret lalu. Semoga kita sama-sama tentram dan damai. Capek ribut-ribut melulu.

Walau ada banyak negatifnya, perkebunan sawit ada nilai positifnya juga kok. Misalnya, meningkatnya pembangunan di daerah, pendapatan per kapita daerah semakin naik dan untuk menjaga kesehatan dan kesejahteraan para pekerja, seringkali pihak perkebunan juga mendirikan pusat layanan kesehatan dan pendidikan terpadu. Hayoo, pilih mana??

Nah, jadi demikian ceritanya. Kira-kira Leo yang terancam deportasi memang mirip Shutter Island atau tidak ya?

Ya, walaupun ada kabar terbaru kalo Kepala Bagian Humas Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM, Heru Santoso membantah soal ancaman deportasi si Leo. Cuma ya hati-hati saja. Leo itu pemegang piala Oscar.

Apalagi dia ngetop selingkaran bumi dan seorang aktivis lingkungan yang cukup disegani pula. Kalau memang dideportasi, dunia bakalan heboh. Tak terbayang gimana kecaman untuk Indonesia yang bakal datang dari segala penjuru. Ih.. Serem.