Terorisme terus menjadi momok yang terus menebar ketakutan. Sangat beralasan, sebab sasaran bidik jejaring teror tak lagi mengenal tempat dan waktu, apalagi kategorisasi calon korban. Jangan dianggap enteng. Entah muslim maupun non-muslim, laki atau perempuan, anak-anak hingga tetua, pasutri sampai jomblo, semuanya dihantam.

Kasus terbaru, dikutip dari news.detik.com, bahwa polisi telah menangkap delapan orang tersangka terorisme pada Jumat (27/7/2018) kemarin. Tujuh di antaranya adalah peserta pelatihan terorisme di Pandeglang, Banten, tahun 2017. Diduga mereka tergabung dalam kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD), ada pula yang berbaiat ke ISIS.

Salah satu tantangan bagi bangsa Indonesia adalah bagaimana menangkal terorisme yang berakar dari benih-benih radikalisme. Dalam kajian akademik, hal ini disebut terorisme agama (religious terrorism), suatu tindakan terorisme berdasarkan ideologi agama dengan menggunakan kekerasan untuk memaksakan kehendak atau cara pikir golongan tertentu.

Para teroris, sejatinya adalah penyembah berhala kekerasan. Di tangan mereka, agama dipermalukan. Kesucian agama sebagai sumber stabilisator temperatur batin, justru menjelma jadi amuk batin.

Lazimnya, para pelaku teror seperti pelaku bom bunuh diri (pengantin), bermula dari kedangkalan dalam pemahaman beragama. Lantas mentornya menggiring orang lugu (plus puber ideologis) itu menuju alam kegelapan, karena taklid buta, akhirnya buta peta hingga membawa petaka bagi orang lain.

Maka sangat disayangkan imaji sebagian penganut teori konspirasi seolah-olah aksi terorisme itu dirancang oleh sebuah kekuatan tersembunyi, bahkan ada tuduhan yang beredar bahwa teror bom itu sebagai settingan aparat pemerintah. Alamak! Kalau memang punya bukti, silakan kau laporkan ke aparat yang berwenang, jangan diam.

Gaya beragama ala ISIS, JAD, Boko Haram dan sejenisnya mesti diatasi dengan pemahaman agama yang benar, baik, kaffah. Kaum moderat sebagai arus utama mesti turun gunung, mengabarkan ayat-ayat Tuhan yang menyejukkan hati penduduk bumi. Bukan tampilan wajah garang kelompok radikal, ekstrem, intoleran dan pro kekerasan.

Peringatan Buya Syafii Maarif, bahwa radikalisme merupakan satu langkah menuju terorisme senantiasa relevan, sebab aksi terorisme berangkat dari cara berpikir yang merasa mutlak benar sendiri, sombong, lalu memberikan labeling thaghut kepada siapapun yang tidak sealiran dengan mereka. 

Gaya komunikasi politik kelompok teroris inilah yang menyebabkan narasi keagamaan garis keras cepat menghipnotis massa-domba. Karena itu, para elite spiritual perlu memberikan pencerahan kepada umat agar tidak terpapar radikalisme.

“Pemahaman Islam yang tidak wasathiyah (moderasi Islam) atau ekstrem yang langkah terakhir itu bisa mengarah ke terorisme,” kata Tuan Guru Bajang (TGB), sapaan Zainul, di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat, 20 Juli 2018. (Dikutip dari medcom.id, 20 Juli 2018).

Sebelum bibit-bibit radikal bertransformasi jadi teror, maka radikalisme mesti dijinakkan lewat deradikalisasi, khususnya deradikalisasi ideologi sebagai bagian dari pendekatan lunak (soft-approach) dalam strategi pencegahan terorisme. Intinya adalah bagaimana menghilangkan pemikiran, sikap dan tindakan radikal dan melepas keyakinan ideologi yang dipercaya oleh para teroris, pendukung dan simpatisannya untuk kembali ke ideologi negara Pancasila.

Berkaitan dengan strategi penangkalan ekstremisme, radikalisme dan terorisme, ada baiknya kita menyerap percikan pesan Gubernur NTB, TGB Muhammad Zainul Majdi. Sebelumnya, NTB sempat mendapat sorotan karena beberapa kali terjadi aksi radikalisme-terorisme. Namun, kondisi keamanan di NTB relatif mulai kondusif, bahkan statusnya telah turun dari zona merah ke zona hijau.

Hari Senin, tanggal 23 Juli 2018, saat menerima silaturahim Sekretaris Utama BNPT Marsekal Muda TNI Asep Andang Supriyadi di Pendopo Gubernur NTB, Mataram, ada inti pesan TGB bahwa fenomena radikalisme, baik di NTB maupun di daerah lain disebabkan faktor yang cukup beragam. Ketika paham radikalisme itu disebabkan oleh kesalahpahaman terhadap agama, dia mengatakan, maka yang diturunkan untuk menyelesaikannya adalah para dai atau tokoh agama.

Dalam beberapa bulan terakhir, ada fenomena yang patut disyukuri, sejumlah ustaz, ulama dan tuan guru di NTB semakin kencang bersuara melawan radikalisme-terorisme. Sebut saja, dilansir dari lombokita.com, Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Madinah Kabupaten Bima, Ustadz Zabir menegaskan mendukung Polri tolak faham radikalisme dan terorisme di NTB. 

“Kita tidak menginginkan lupa terhadap ajaran Islam, yang mana apabila masyarakat tidak faham Islam pasti mereka melakukan keonaran,” ucap Ustaz Zabir di Bima, Selasa (19/6/2018).

Dari sumber yang sama, Pimpinan dan Laskar Ponpes Daarusy Syifaa, menyatakan sikap mendukung Polri menolak paham radikalisme dan aksi terorisme. Sebab, aksi teror seperti kejadian di Surabaya itu tidak dibenarkan oleh ajaran agama Islam. Hal itu dikatakan Pimpinan dan Laskar Ponpes Daarusy Syifaa Ustadz Tafaul Hamry Jaya, di Lombok Timur, Minggu (3/6/2018).

"Tindakan yang dilakukan oleh kelompok tersebut tidak dibenarkan atau mereka bukan orang yang memiliki pemahaman agama Islam sebenarnya,” tegas Ustaz Tafaul Hamry Jaya, menanggapi aksi teror bom di Surabaya yang terjadi belum lama ini.

Selanjutnya, Pimpinan Ponpes Al Husainy Kota Bima TGH. Ramli Ahmad, menolak keras paham radikalisme bersama 800 santrinya.

"Ratusan santri yang sedang menimba ilmu di pondok pesantren, terus gencar memberikan bimbingan agama kepada kalangan santri,” kata TGH Ramli Ahmad menuturkan, pada Jumat (8/6/2018). 

Ia menghimbau kalangan santri harus punya misi yang baik dan benar untuk umat dan bangsa ini. Misi itu adalah Al Quran dan Al Hadist, belajar dan mengajarkan orang. Menjadi santri harus berkhidmat kepada guru dan kyai. 

“Paham radikalisme dan terorisme harus disingkirkan. Namun untuk memerangi paham semacam itu, butuh kerja sama semua elemen. Terutama masyarakat harus membantu untuk mencapai keamanan bersama,” harapnya.

Seruan perdamaian dari para Tuan Guru NTB yang membumikan nilai-nilai Islam lewat komunikasi dakwah penuh hikmah di hadapan umat, memberikan dukungan moril, dengan harapan radikalisme dapat ditangkal agar tidak berkecambah menjasad ke dalam rupa terorisme. Harapan yang sama kepada para ulama, kyai, anregurutta, ajengan, buya maupun pemuka agama lain guna menyuarakan hal yang sama, melawan radikalisme-terorisme.

Sudah saatnya mimbar-mimbar ceramah, khutbah dan pengajian dikendalikan oleh para da’i moderat. Begitu pula di jagad media sosial, kita mesti membangun kontra-narasi terhadap kepungan ide-ide berhaluan garis keras.

Hal ini selaras pula dengan salah satu Lombok Message TGB bersama sejumlah ulama internasional dan alumni Al Azhar di NTB, 26-29 Juli 2018, antara lain bahwa kita perlu memanfaatkan berbagai media sosial dalam melakukan propaganda wasathiyyah dan counter pemikiran ekstrem. Selain itu juga perlu memberikan bimbingan bagi pemuda Muslim terkait situs-situs internet yang menyebarkan pemikiran ekstrem dan kekerasan.

Kalau segenap Ormas Islam moderat seperti NU, Muhammadiyah, Nahdlatul Wathan dan lainnya bahu-membahu, membangun koalisi besar menebarkan pesan-pesan cinta damai, maka Indonesia akan terus menjadi zamrud khatulistiwa yang asyik dihuni oleh siapa pun. Laksana surga, tanpa ‘neraka’ terorisme.