Seniman
3 tahun lalu · 1543 view · 2 min baca · Gaya Hidup nyamuk-di-kepala.jpg
[Foto: tercerahkan.com]

Pesan Terakhir Si Nyamuk Nakal

Tentang Rasa Sakit dan Kesadaran Diri

Sore yang sunyi, listrik pun mati. Tiada cara lain untuk menghilangkan sepi selain ambil gitar dan mulai memainkan, lagu lama yang biasa kita nyanyikan (Tettt.. Slank, Terlalu Manis!)

Lagi asik gejrang gejreng, tiba-tiba… Plak! Saya menepuk punggung. Ada nyamuk yang menggigit. Binatang itu berhasil saya lumpuhkan.

Setelah saya perhatikan dengan seksama, ternyata ia tidak seketika tewas. Nyamuk itu sekarat. Kasihan. Saya meletakkan tubuh nyamuk yang sudah tak berdaya di telapak tangan. Ia bernafas terengah-engah. Saya tak kuasa menatapnya. Penyesalan mencuat, tapi apa daya nasi sudah jadi bubur.

Tiba-tiba ada kejadian fenomenal yang saya saksikan, nyamuk yang sekarat itu bicara (pake bahasa nyamuk tentunya. Cuma untuk memudahkan dalam bercerita, saya sudah terjemahkan ke Bahasa Indonesia)

“Senang ya sudah berhasil menepuk saya?”

Saya bingung. Nyamuk kok bisa ngomong? Apakah ini nyata??

“Ja..ja..jangan bingung dan ja..ja..jangan gundah gu..gu..gulana. Kenapa kamu begitu tega membunuh saya?” suara nyamuk terbata-bata.

“Ya kan sakit pas situ ngisap darah saya. Abisnya juga gatal,” saya membela diri.

“Terus, apa kamu mau saya ngisap darah tapi nggak sakit dan nggak ninggalin rasa gatal?”

“Ya, kalau begitu kan sama-sama enak. Ambil saja darah saya, tapi jangan dibikin sakit dan gatal.”

“Hahahaha.. Dasar manusia. Maunya yang enak terus. Jadi kamu mau ada ribuan nyamuk yang menggigit tubuhmu, tapi kamu tidak merasakan sakit dan gatal? Lalu tanpa sadar darahmu habis dan jatuh pingsan? Sengaja ada sedikit rasa sakit, lalu diikuti dengan rasa gatal, biar manusia tahu kalau dia digigit nyamuk. Coba bayangkan kalau tidak ada rasa sakit pas digigit, dan tak ada gatal setelah usai digigit? Apakah manusia bakal sadar kalau di kamar ini banyak nyamuk?” cerca si nyamuk.

Nyamuk yang sekarat itu semakin lantang berceramah. Katanya, setiap rasa sakit, setiap gatal (atau efek dari kesakitan) pasti ada sebuah pesan. Tidak ada yang terjadi begitu saja.

Nah, di sini pentingnya kesadaran diri. Coba bayangkan jika ada mahkluk lain yang sedang mencuri sesuatu yang berharga dari diri manusia tapi tanpa ada efek sakit, gatal atau keadaan yang tidak mengenakkan lainnya, apakah manusia bisa sadar dan mengetahuinya?

Kata nyamuk, banyak ‘nyamuk’ atau mahkluk lain yang suka menggigit manusia. Cuma saja ‘nyamuk’ itu tidak memberikan rasa sakit ataupun gatal, sehingga manusia tak sadar kalau ia sedang digigit.

Menurut nyamuk, jika manusia memiliki tingkat kesadaran diri yang tinggi, mereka akan sadar bahwa di setiap hari yang dilewati, banyak sekali ‘nyamuk-nyamuk’ yang menggigiti dan menggerogoti jiwa-raganya, sehingga banyak hal berharga yang hilang begitu saja.

Apalagi di zaman modern ini, telah banyak ‘nyamuk-nyamuk’ nakal yang hadir di tengah manusia. Bentuknya pun beragam. Kadang ada juga yang berpenampilan klimis, memakai jas serta dasi. Eh?

“Kenapa nyamuk curang?” tanya saya. “Ya, kenapa nyamuk datangnya malam hari ketika manusia sudah terlelap. Itu kan nggak fair.”

Nyamuk menjawab, soalnya pas tidur, jiwa manusia berada di dimensi lain. Jadi biar nggak kebablasan, maka harus ada sedikit percikan perih di kulit. (Dasar nyamuk, tukang modus!)

Beberapa detik kemudian si nyamuk menghembuskan napas terakhir. Ia pergi dengan wajah tersenyum, tapi matanya melotot. Saya berharap keluarga nyamuk ini tidak berniat membalas dendam atas kematiannya.

Plak!!! Satu lagi nyamuk berhasil saya tepuk. Darahnya bercucuran. Ia mati seketika. Ahh, tak sempat saya ajak ngobrol.

Artikel Terkait