Pelajar
3 tahun lalu · 2988 view · 4 menit baca · Politik tan_malaka_by_bonitatasman-d32iyk4.jpg
[Foto: bonitatasman.deviantart.com]

Tan Malaka tentang Revolusi

Tan Malaka sungguh seorang revolusioner yang jenius. Pikirannya luas, terang dan fokus. Ia penuh semangat berapi-api dalam berjuang dan berpikir. Ia petualang sejati, melintasi berbagai belahan bumi dalam masa perjuangan politik revolusionernya.

Ia lahir di bumi Minangkabau, Sumatera Barat. Lalu studi di Belanda, pernah berpidato di pertemuan Komunis Internasional di Rusia. Ia bergaul dengan kaum buruh di Indonesia dan di bawah tanah Tiongkok dan Tokyo, dan mengajar bahasa Inggris dan matematika untuk bertahan hidup di Singapura. Namun, dari semua yang paling agung, ia seorang kritikus, mujtahid kiri dan petarung sejati.

Sebagai kritikus, ia tak setuju dengan pandangan politik yang sempit. Ia nasionalis sekaligus internasionalis. Ia mengajukan tesis-tesis pemikiran Marxisme-Komunisme yang lebih canggih dalam menganalisis persoalan dan perjuangan politik di Indonesia.

Ia mengenyampingkan pemikiran-pemikiran mistis dan filsafat idealisme. Tetapi, ia tetap fasih melapalkan pemikiran mereka. Ia memilih menjadi pemikir kiri yang profesional. Ia mengembangkan Madilog sebagai cara berpikir alternatifnya.

Perjuangannya mengakar pada analisis situasi nasional dan internasional dari perkembangan kapitalisme dunia. Ia memprovokasi lahirnya partai revolusioner di Indonesia.

Perjuangan, kata Tan Malaka, harus diarahkan oleh partai yang terorganisir. Perjuangan hanya bisa dilakukan secara revolusioner dengan aksi massa rakyat. Perjuangan yang tak semata-mata ingin meraih kekuasaan politik, tetapi harus bisa menghancurkan kapitalisme.

Dalam pandangan Tan Malaka, pertentangan kelas adalah watak sejarah yang menciptakan revolusi. Pertentangan kelas di Prancis, Inggris, Rusia pada akhir dan awal abad 18-19 telah melahirkan revolusi besar yang menentukan gerak maju sejarah awal pertentangan kelas dalam kapitalisme modern. Revolusi besar ini bisa menjadi pelajaran bagi masa depan republik Indonesia yang masih ditindas oleh Belanda saat itu.

Tan Malaka memiliki visi politik yang membumi dan kontekstual untuk Indonesia. Analisisnya begitu tajam melawan imperialisme yang mengakar pada spirit ketamakan kapitalisme Barat. Dalam pandangan Tan Malaka juga, ada perbedaan besar antara watak masyarakat di Indonesia, India, dan Filipina yang terletak pada keberadaan borjuasi pribuminya dan perilaku penjajah dan borjuisnya.

Ia sering menggerutu betapa tamaknya para kolonialis-borjuis yang sedang tidur-tiduran menikmati kekayaan Indonesia di negeri Belanda sedang rakyat Indonesia berada dalam kemelaratan.

Mengapa Tan Malaka harus diperhitungkan dalam pergulatan pemikiran dan politik di Indonesia? Karena Tan Malaka tak hanya berpolitik dengan visi tetapi juga menulis dengan cerdas dan berapi-api tentang watak sejarah dan para elit borjuis di masa kolonial yang tak jauh berbeda dengan hari ini.

Tan Malaka menulis sebagai bagian dari perjalanan dan pertarungan politiknya. Sangat jelas betapa Tan Malaka memiliki pandangan yang sangat maju di zamannya. Ia ingin melihat kemerdekaan Indonesia harus siap dengan rencana yang rapi. Ia sangat percaya kepada pemikiran Marxisme-komunisme sebagai alat perjuangan nasional dan internasional.

Empat buah karya terpenting Tan Malaka adalah Naar de Republiek Indonesia atau Menuju Republik Indonesia yang selesai ditulis di Tiongkok pada April 1925, Aksi Massa ditulis di Singapura pada 1926, Semangat Muda ditulis di Tokyo Januari 1926, dan Madilog ditulis di Indonesia 1946.

Membaca empat karya tersebut sangat penting untuk memahami pemikiran dan perjuangan Tan Malaka sebagai revolusioner sejati di samping beberapa karya lainnya.

Menuju Republik Indonesia adalah karya yang hadir dalam masa perjuangan politik bangsa Indonesia di tengah mulai tumbuhnya kesadaran politik dan aksi revolusioner rakyat Indonesia.

Tan Malaka memulai karyanya ini dengan menggambarkan situasi global dunia pasca perang dunia 1914-1918 yang tak hanya melahirkan pemenang-kalah, persaingan antara pemenang, tetapi harus disikapi oleh kaum komunis sebagai bagian dari watak sejarah yang dirumuskan Karl Marx.

Kata Tan Malaka:

Kaum komunis menyiapkan diri untuk berjuang dan melakukan perjuangan itu bukannya karena mereka percaya pada komunisme sebagai satu kegaiban dunia, akan tetapi karena menurut materialisme dialektika Marx, yakni perjuangan kasta, yang telah dapat membawa peri penghidupan yang semula sangat primitif kepada tata hidup kapitalisme dengan mutlak harus membawa peri penghidupan masyarakat kita dewasa ini kepada bentuk yang lebih tinggi, yaitu komunisme.

Tan Malaka menjelaskan situasi di Indonesia sebagai wilayah yang diekploitasi oleh imperialis Belanda. Perlakuan kapitalisme kolonial Belanda sangat zalim jika dibandingkan dengan perlakuan kolonialis di India dan Filipina yang ditopang oleh daya tawar borjuasi pribuminya yang relatif terbentuk.

Keadaan rakyat Indonesia berbeda, melarat dan ditindas sewenang-wenang oleh Belanda, negeri yang dikritiknya sebagai negara kecil yang bisa tenggelam oleh ludah bangsa Indonesia, yang tak punya visi di negeri jajahan selain menindas. 

Tan Malaka menyerukan perlawanan kepada mereka dengan spirit Marxist, “Kamu tak akan kehilangan sesuatu milikmu kecuali belenggu budakmu.”

Yang paling menarik dari karya ini adalah bagian yang menggorganisir perjuangan menyambut hancurnya kapitalisme kolonial Belanda dengan mempersiapkan sejumlah program partai revolusioner, Partai Komunis Indonesia yaitu program ekonomi, politik, sosial, pendidikan, militer, polisi, dan rencana aksi.

Karya Menuju Republik Indonesia ini sangat berkaitan dengan karya aksi massa dan semangat muda. Dalam Aksi massa, Tan Malaka meniscayakan aksi massa revolusioner, misalnya dengan memulai aksi BMD (boikot, mogok, dan demonstrasi) yang hanya bisa dilakukan dengan kepeloporan partai revolusioner yang melancarkan politik kelas mengusir imperialisme dan menghancurkan kapitalisme itu sendiri.

Tan Malaka tak pernah yakin dengan partai borjuis yang lepas dari massa proletar. Karena itu, Tan Malaka mengeritik lemahnya visi perjuangan gerakan-gerakan nasionalis seperti Budi Utomo, Indische Party dan Serikat Islam yang bukan hanya berpandangan sempit, jauh dari rakyat,  tetapi juga sekedar mengejar kemenangan politik.

Kata Tan Malaka tentang organisasi ini,

Mereka dibesarkan oleh pendidikan borjuis secara Barat sehingga tidak tercerabut massa Indonesia dan tidak berperasaan akan mencari logika untuk mendapat program nasional yang proletaris.

Sementara dalam semangat muda, Tan Malaka kembali mengulas filsafat perkembangan masyarakat, situasi Indonesia secara ekonomi politik dan social yang harus menjadi landasan pergerakan revolusioner partai komunis Indonesia.

Tan Malaka juga menuliskan dan meletakkan dasar ijtihad pemikirannya dalam konteks Indonesia yang disebut Madilog, Materialisme-Logika-Dialektika yang berwawasan ilmiah dan bisa menjadi senjata perjuangan kelas di Indonesia.

Akhirnya, Tan Malaka memang seharusnya dikenang sebagai revolusioner yang berani menentukan sikap, melampaui nasionalisme dan memilih sunyi dari dekapan spiritualisme timur. Revolusi, kata Tan Malaka, adalah mencipta.

Bisakah anda seperti Tan Malaka?

Artikel Terkait