Menggugat adalah sebuah kata yang cukup banyak ditujukan kepada saya, beberapa hari lalu, karena tulisan saya di Kumparan dan menggunakan diksi “Mahasiswa Ciputat Kembali Menggugat Omnibus Law” (16/07/2020), yang sudah dihapus karena penuh polemik dan ancaman. 

Jujur, saya senang masih banyak mahasiswa yang peduli untuk mengoreksi dan mengkritik saya. Kritik itu baik, namun alangkah eloknya disampaikan dengan cara yang baik.

Kritikan, tuduhan, dan keberagaman stigma menjadi kegiatan yang biasa dilakukan oleh kelompok. Apa pun kelompoknya pasti menggunakan cara yang sama dan sesuai dengan perkembangan zaman. Jarang sekali dilakukan oleh individu. Kunci untuk menjatuhkan lawan ialah menggait kekuasaan yang mempunyai kekuatan hukum yang terlembaga serta berpengaruh pada tingkatan tertentu.

Pro dan kontra selalu ada dalam kegiatan manusia. Yang paling menonjol ialah dalam perpolitikan. Pro-kontra juga berhubungan dengan penyampaian pendapat secara massal yang disebut demonstrasi.

Merujuk pada tuduhan teman saya, bahwa saya tidak pernah ikut demonstrasi mahasiswa, itu salah. Jika tuduhan seperti ini “kamu tidak pernah ikut demo di barisan kami”, itu benar.  

Pembenaran itu atas dasar saya memang tidak pernah ada pada barisan kamu dan kalian. Karena sampai detik ini, saya tidak pernah mengetahui apakah demonstrasi dengan tujuan membela rakyat Indonesia secara keseluruhan itu benar adanya atau hanya dogmatis, saya tidak tahu itu.

Demonstran Gadungan

Pada pertengahan pesan ini, saya setuju atas tuduhan bahwa saya adalah demonstran gadungan, demonstran palsu. Karena memang saya tidak mengakui ataupun mendokumentasi ketika saya berdemonstran. Tapi ternyata, ada teman saya wartawan kampus yang mengambil foto seorang pemuda pakai rompi polos rapi dengan masker, itulah saya. 

Demontsrasi, jika merujuk pada KBBI, mempunyai arti: pernyataan protes yang dikemukakan secara massal; unjuk rasa; mereka berbondong-bondong. 

Mengapa harus merujuk pada KBBI? Karena dalam perdebatan mengenai istilah, akan ada banyak pandangan yang berbeda. KBBI mencoba untuk menyatukan pandangan itu menjadi sebuah persepsi yang sama.

Tuduhan mengenai bahwa saya adalah demontran gadungan, palsu, itu saya benarkan. Karena saya bergerak independen, tidak secara massal dan tidak mempunyai kepentingan apa pun. Bahkan tuduhan tetap berlanjut lewat telepon, “Anda ini jangan berlagak seperti Soe Hok Gie, sok tahu tentang pendemo.”

Soe Hok Gie tentu sosok yang sudah dikenal banyak aktivis. Namun, tidak pernah saya membaca buku Soe, jadi saya benar-benar tidak tahu apa dasar tuduhan tersebut; mengapa disudutkan kepada saya.

Setelah ditelusuri, ada tulisan Soe yang berbunyi, “Hanya ada 2 pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka", saya temukan dalam buku Soe Hok Gie Catatan Seorang Demonstran.

Saya hanya menulis yang menjadi kegelisahan saya dalam berbagai fenomena, merdeka bukan untuk tujuan komersil atau membela kelompok lain. Namun selalu menghindari pembahasan politik yang selalu laku di publik. Apalagi sampai menyebut nama, misteri.  

Atas permintaan kawan-kawan di kampus, dan di lingkungan sekitar, mendesak untuk saya speak up tentang segala perpolitikan kampus, nasional hingga global. Awalnya saya tidak tertarik, namun apa daya jika memang terlalu banyak desakan terjadi.

Dalam perkuliahan, saya bukan menjurus pada dunia politik. Pada awal kuliah, saya menyukai filsafat walaupun saya belum tahu apa itu filsafat. Dan pada akhirnya, tidak bisa dihindarkan, kemudian saya mencoba menulis tentang politik. 

Tulisan kedua saya memang lebih sensitif, karena menyebut nama kelompok dan tidak mempunyai data tekstual. Tulisan pertama tidak menyebut kelompok, hanya beberapa nama tokoh dengan tinjauan sosiologis dan psikologis masyarakat biasa.

Menjadi Etis atau Pintar?

Beberapa kritikan dari kawan saya cukup tajam dan agak kasar. Tanpa memikirkan psikologis yang dikritik. Bagaimana jika yang dikritik orang yang mudah mempunyai mental lemah? Tentu akan menjadi pembunuhan secara tidak sengaja yang disebut cyber bullying.

Etis adalah suatu yang berhubungan dengan etika, tentu yang sesuai dengan asas perilaku yang disepakati secara umum, termasuk moral. Sedangkan pintar identik dengan orang yang cepat menangkap sesuatu, entah pelajaran atau fenomena tertentu.

Tetapi, banyak sekali yang mengutamakan otak tajam dan pintar. Padahal tidak ada jaminan bahwa orang yang berotak tajam dan pintar otomatis akan menjadi manusia yang baik, beretika, dan berakhlak.

Sebagian besar manusia pintar, menggunakan kepintarannya untuk berbuat kejahatan, misalnya korupsi dan membohongi rakyat. Manusia tipe ini dapat menjadi berbahaya dalam masyarakat, apalagi jika memegang kekuasaan pada pemerintahan. 

Dalam keberbahayaan lain, dia bisa saja menjual ilmunya pada kelompok tertentu, demi kepentingan kelompok atau bahkan pribadi. Saya tekankan lagi, bahwa manusia pintar, berpendidikan, tidaklah otomatis menjadi manusia yang bermoral yang mendukung nilai-nilai etis. 

Kemudian, bagaimana menjadikan masyarakat lebih bermoral? Tanamkan nilai-nilai manusiawi dan harus terikat dengan nilai tersebut. Masyarakat Indonesia sudah terbiasa hanya mengejar otak unggul, kepintaran, pendidikan, namun lupa akan keselamatan dan kelestarian manusia sendiri, seperti lupa akan budi pekertinya dan kebudayaannya.

Karena pada akhirnya keselamatan manusia akan lebih terjamin dalam tangan manusia yang bermoral kukuh daripada di tangan orang yang hanya pintar saja.