Hari ini hampir sama dengan hari-hari lainnya yang saya lalui. Diawali dengan bangun tidur, buka smartphone, ngopi, kemudian mandi. Hampir tidak ada yang berbeda. 

Perbedaanya mungkin karna hari ini hari minggu, jadi ada kewajiban yang kami umat Kristiani lakukan, yaitu pergi ke gereja untuk beribadah. Semua berjalan dengan baik dan lancar. 

Setelah selesai mandi, saya langsung beres-beres kemudian bergegas pergi meninggalkan kamar. Saya bersama teman satu kamar, langsung menuju gereja yang kebetulan sangat dekat dengan asrama tempat kami tinggal. 

Sampai di gereja, saya duduk kemudian berdoa. Bukan bermaksud mau pamer ibadaha ya, hanya saja supaya narasinya nyambung. hehe... Saya sangat khusyuk mengikuti ibadah kali ini. 

Kebetulan yang menjadi pengkhotbah minggu ini pendeta yang saya sukai. Tapi bukan hanya karena pendeta itu juga saya makanya sungguh-sungguh. 

Memang dari kamar saya sudah buat komitmen bahwasanya ibadah kali ini saya harus betul-betul berdoa kepada Tuhan, supaya salah satu keinginan saya terkabul hari ini. 

Acara ibadah berjalan dengan baik. Setelah selesai ibadah, saya dan teman sekamar tadi langsung bergegas pulang ke asrama. Sampai di asrama kami makan, dan langsung istirahat. 

Sembari istirahat saya mengotak-atik laptop saya sambil menunggu balasan dari Qureta terkait tulisan yang saya perbaiki apakah sudah dipublish atau belum. Menulis di Qureta menurut saya cukup menyenangkan dan menambah kemampuan menulis bagi pemula sama seperti saya. 

Oh iya, berbicara tentang keinginan yang saya sampaikan ke Tuhan tadi, jadi saya sedang mengikuti perlombaan tentang kepenulisan. Di mana lomba ini diadakan oleh salah satu perguruan tinggi negeri di Sumatra Utara. 

Harapan saya untuk menang dalam perlombaan ini terbilang besar. Waktu yang saya gunakan untuk melakukan persiapan terbilang cukup, yakni 3 bulan. Harapan demi harapan pun saya tumbuhkan dalam hati yang paling dalam. 

Pengumumannya dilaksanakan hari minggu, 26 Januari 2020, tepat hari ini. Oleh karena itulah kenapa saya sangat berharap bahwa keinginan saya untuk menang dalam lomba ini sejalan dengan rencanaNya. 

Waktu pun terus berjalan. Saya menghabiskan waktu bersama laptop tua ini. Laptop pemberian sang kekasih pujaan hati. layaknya sang surya yang terus bergerak menjauh dari timur menuju barat demikian pula lah harapan saya yang terus saya timbun mendekati jam pengumuman tiba. 

Kegelisahan mulai terasa. Belum adanya notifikasi e-mail menjadi penanda bahwa hasil belum keluar. Bayang dan angan-angan mulai menyapa. Harapan akan sebuah kemenangan jelas tujuan utama. 

Dengan modal persiapan lama dan tulisan yang saya yakin sempurna menjadi pengobat rindu akan kemenangan dalam sebuah penantian. Pesan tak kunjung tiba, sedangkan waktu sudah melewati batasnya. 

Perasaan penat mulai melanda hingga akhirnya saya berjalan keluar pintu. Melihat keadaan sekitar yang kebetulan sepi, karena sebagian mahasiswa sedang melaksanakan kegiatan pesiar. 

Angin berhembus pelan. Menyusuri tanaman di depan kamar sebelah itu, hingga akhirnya sampai di depan kamar dan menyapa saya. Segar rasanya. Setelah rasa penat itu pergi tanpa pamit, saya kembali berhadap-hadapan dengan laptop tua tadi. 

Tanpa sengaja saya mengambil smartphone yang tergelatak di sampingnya. Membukanya, Lalu pandangan saya terarah kepada salah satu notifikasi. Rupanya yang dinantikan sudah di depan mata. Kata pertama yang saya lihat adalah 'lulus'. Wow teriakan dalam hati. 

Hanya berselang sekian detik mata saya menatap kata belakangnya yang tertulis 'tidak'. Haaa. huuhhh. Keadaan hening kurang lebih satu menit. Merasa kurang yakin dengan yang baru saya lihat, saya melihatnya kembali sampai lima kali. 

Tulisannya tetap sama yaitu 'tidak lulus'. Diselimuti rasa kecewa, saya berusaha tetap tegar. Sedih, kecewa, patah semangat semua tiba-tiba menghampiri tanpa saya undang. 

Akan tetapi, salah satu resolusi saya di tahun 2020 tiba-tiba lintas. Yaitu, harus lebih mementingkan proses dari hasil. Kemudian sayup-sayup kebangkitan pun bergelora di hati dan pikiran saya. Saya merasa ikhlas  dan pasrah untuk kekalahan ini. 

Walapun sebenarnya saya merasa tidak pantas kalah. Bukan bermaksud sombong, hanya saja saya salah satu penganut paham optimis. Saya yakin bahwa hasil itu sangat penting. 

Tapi proses jauh bahkan sangat jauh lebih penting. Teman-teman yang sedang membaca tulisan ini mungkin pernah mengalami hal serupa seperti saya. Dan kita punya cara yang berbeda untu menyikapinya. Saya merasa saya telah melakukan yang terbaik. 

Mengeluarkan semua potensi dan kemampuan terbaik saya, tapi  tetap saja saya kalah. Iyah, begitulah alam bekerja. Dalam dunia ini semua penuh kemungkinan dan ketidakpastian. Saya menerima kekalahan ini dengan lapang dada tentunya. Mungkin saya akan melakukan perbaikan di beberapa sisi tulisan. 

Pesan yang mau saya sampaikan untuk kalian yang sedang membaca tulisan ini adalah, jangan pernah menyerah. Mungkin kalimat bijak ini sudah biasa di pasaran dan bisa jadi sebagian dari kita sudah menganggapnya kuno. 

Akan tetapi jangan pernah menyerah dengan sesuatu yang kamu alami. Nikmati saja prosesnya. Percayakan sama Tuhan. Jalani sebaik-baiknya. Lakukan yang terbaik. Percayalah suatu hari kita pasti akan menuai buahnya.