53416_35064.jpg
Politik · 4 menit baca

Pesan Prapaskah Paus Fransiskus untuk Pilkada 2018

Sekarang umat Kristen sedang menjalankan masa quadragesima (empat puluh hari sebelum Misteri Paskah). Sebuah momen di mana kita harus berpuasa dan berpantang.

Masa prapaskah ini telah mulai pada Hari Rabu, 14 Februari 2018 lalu, tepatnya pada valentine day, yang ditandai dengan penerimaan Abu di dahi. Kita mengawali masa ini dengan hari spesial, hari cinta kasih seluruh dunia yang sangat erat kaitannya dengan apa yang harus kita jalankan dalam masa Prapaskah. Maknanya kini tengah kritis, akibat mati rasa atau ulah sekelompok orang yang berkontras.

Dalam Prapaskah 2018, Bapa Suci Paus Fransiskus yang adalah pemimpin tertinggi Gereja Katolik memberikan pesannya tentang Prapaskah bagi orang Kristen, tidak menutup kemungkinan bagi orang beragama lain yang ingin memetik dan meramu maknanya. Pesan Bapa Suci tersebut dirilis di Vatikan pada Selasa, 6 Februari 2018. Meskipun demikian, pesan ini bertanggal 1 November 2017 atau Hari Raya Semua Orang Kudus.

“Karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin” (Matius 24:12) adalah judul dari pesan Prapaskah Bapa Suci. Pesan ini menyinggung dan mengingatkan tentang nabi-nabi palsu serta tipuan, keegoisan, keserakahan, dan tidak adanya kasih. Pesan ini didasarkan pada khotbah Yesus kepada para rasul di Bukit Zaitun.

Tentunya pesan ini sangat menyentuh realitas hidup kita sekarang ini. Ada keprihatinan Bapa Suci terhadap situasi dunia dan mencoba menarik kembali akan kejatuhan manusia dalam keduniawiaan spiritual. Rasanya pemimpin tertinggi Gereja Katolik ini ingin menarik umatnya yang tengah tenggelam dalam keegoisan duniawi.

Apa sih pesannya bagi kita, politik Indonesia? Jeritan politik sedang menjadi hidangan masyarakat Indonesia. Situasi pergulatan dan kedilemaan menggerogoti nuansa hati rakyat. Hati rakyat bersuara untuk sebuah perubahan, tapi bagaimana suara hati para politisi dan pemimpin?

Nabi-Nabi Palsu Pilkada 

Salah satu seruan utama Paus Fransiskus dalam Pesan Prapaskah 2018 adalah hadirnya nabi-nabi palsu dalam kehidupan bersama. Sebuah eksistensi yang membawa orang lain pada lubang dosa dan penderitaan.

Dalam bahasa Bapa suci, nabi-nabi palsu “bisa muncul sebagai ‘penjinak ular’ yang memanipulasi emosi orang untuk memperbudak orang lain dan membawa mereka ke mana pun mereka pergi.”

“Nabi palsu juga bisa menjadi ‘tukang obat’ yang menawarkan solusi mudah dan cepat untuk mengatasi penderitaan yang tidak lama kemudian hilang manfaatnya,” tutur pemimpin tertinggi Gereja Katolik ini.

Seruan ini jika dibenang-merahkan dalam konteks politik kita Indonesia adalah sebuah teguran bagi para politisi dan pemimpin yang seringkali meninggalkan janji-janjinya di panggung kampanye tanpa membawanya dalam sebuah aktualisasi masa kepemimpinannya. Kepentingan pribadi menjadi tujuan utama.

Teriakan kaum yang terpinggirkan diabaikan hanya demi “memuaskan” nafsu pribadi, keluarga, dan partainya. Merasa bahwa jabatannya adalah kekuasaannya, tanpa menyadari siapa yang mengutus mereka untuk mendapat tempat yang “empuk” itu.

Aroma kematian subjek seolah tercium dalam diri politisi dan pemimpin yang diafirmasi oleh realitas. Adanya penyalahgunaan jabatan dan korupsi merajalela di dalam diri sejumlah pejabat.

Suara rakyat untuk perubahan terpupus oleh lekangnya waktu hedonistik para penjilat yang mati rasa. Thomas Hobbes mengatakan hal ini sebagai Homo Homini Lupus (manusia adalah serigala bagi sesama). Artinya, ada subjek tertentu yang memupuskan kesubyekan yang lain dan hanya dipandang sebagai obyek tanpa makna.

Nabi-nabi palsu dalam dunia politik adalah mereka yang menghadirkan as if democracy. Artinya, demokrasi seolah-olah atau tampaknya sejati padahal sesungguhnya dangkal (superficial). Ironisnya, konsep ini terus direpetisi dalam dunia politik bagaikan virus. Adanya data yang mengamini keberadaan nabi-nabi palsu dalam dunia politik dan pemerintah kita. 

Meretas Disoriented Democracy, Belajar dari Pesan Prapaskah 2018

Disoriented democracy merupakan demokrasi yang tidak memiliki arah yang jelas, di mana prinsip-prinsip dasarnya tidak diaktualisasikan dengan baik karena sudah dimanipulasi oleh orang atau kelompok tertentu. Politik borjouistik mencuat dalam kanca politik akhir-akhir ini.

Artinya, demokrasi yang dinikmati oleh kelas menengah ke atas atau borjuasi dan yang hanya melayani kepentingan mereka. Demokrasi semacam ini hanya dijadikan alat yang penggunaannya semata menguntungkan kelas elite itu sendiri. Hal ini nampak dalam praktik manipulasi politik dan lain sebagainya.

Munculnya semangat fraksionalisme semata pada jurang ketidakadilan dan kehancuran di tengah keadaan politik kita yang sedang sakit. Ada kesempatan, berarti ada korupsi; ada waktu, berarti ada penyalahgunaan jabatan. Orang-orang seperti ini dikategorikan sebagai “nabi palsu” demokrasi.

Paus Fransiskus juga meminta kepada kita untuk melihat “apakah kita menjadi mangsa dari kebohongan para nabi palsu ini”. Jawaban yang pasti adalah realitas. Dunia politik selama ini sangat diwarnai oleh nabi-nabi palsu.

Meghadirkan harapan bagi rakyat sebatas di bibir saja. Harapan yang terwujud adalah “korupsi dan penyalahgunaan jabatan” sehingga selalu berakhir tragis dalam rintihan pilu rakyat jelata. Kondisi Indonesia sekarang ini tetap nasibnya tak tentu, tetap miskin bahkan mungkin akan terus miskin.  

Sekarang kita berada dalam situasi Pilkada, bagaimana kita menyikapi peristiwa-peristiwa yang telah memperburuk kesejahteraan umum dan kehidupan kita, rakyat Indonesia. Setiap politisi dan pemimpin mencoba meninggalkan “mantel” nabi palsunya dalam berpolitik sehingga semua suara kita bersatu untuk sebuah perubahan. Dengan demikian, kita dapat mewujud dan mancapai bonum commune.

Menurut Paus Fransiskus, tanda yang paling nampak dari kejadian ini adalah tidak adanya kasih. Yang ada adalah hanyalah “keegoisan dan kemalasan spiritual, pesimisme, godaan atas kenikmatan diri sendiri, permusuhan konstan di antara kita, dan mentalitas duniawi atau hedonistik.”

Dari segala sesuatu, hal yang menghancurkan kasih adalah keserakahan atas uang, “akar dari semua kejahatan”.

Dalam pesan Prapaskah, Paus Fransiskus juga mengajak “orang-orang di luar Gereja Katolik” dan semua orang yang memiliki itikad baik yang terbuka untuk mendengar suara Allah.

Di manakah suara Allah bagi politik Indonesia? Jeritan-rintihan tangisan kaum kecil dan terlupakan adalah representasi suara Allah bagi para politisi dan pemimpin. Suara Allah bukan nafsu untuk meninggalkan rakyat dan berjalan dalam kesejahteraan pribadi, keluarga maupun partai.

Oleh karena itu, ajakan pesan Prapaskah Bapa Suci Paus Fransiskus bagi Pilkada  2018 adalah setiap politisi dan pemimpin terpilih harus berpuasa korupsi, penyalahgunaan jabatan dan lain sebagainya yang menghancurkan bonum commune. Selamanya!

Berpolitik dan berkampanye tanpa menimbulkan perpecahan (tanpa sentimen agama dan kesukuan). Bersaing secara  bebas, jujur dan terbuka. Selalu membuka mata dan telinga untuk melihat dan mendengarkan situasi Indonesia yang sedang menunggu dalam keadaan sakit. Selalu berjalan bersama rakyat dan menemani sampai pada titik perubahan itu dirasakan bersama.

Diharapkan pesta politik 2018 sungguh digugah oleh pesan Prapaskah Bapa Suci Paus Fransiskus, sehingga akhirnya di balik pesta demokrasi lima tahunan yang akan berlangsung tahun ini, dapat melahirkan pemimpin yang pro terhadap perubahan.

Selamat menjalankan masa Prapaskah dan pesta politik 2018. Indonesia jaya!