When words fail, music speaks.” – Hans Christian Andersen

Musikimia telah mengeluarkan album terbarunya, Intersisi (2016). Album tersebut merupakan hasil perpaduan apik dari berbagai genre musik yang ada sekarang. Diawali gebrakan lagu Dan Bernyanyilah, rangkaian lagu yang diciptakan selanjutnya dikemas dalam susunan lirik bermakna.

Dalam perkembangan industri musik Indonesia sekarang, lirik lagu yang tidak hanya mempertimbangkan aspek mudah didengar (easy listening) tapi punya makna sulit ditemukan. Ini terlihat dari berbagai tayangan di televisi dan media (visual) lain yang menyajikan lagu-lagu yang hanya mengikuti selera pasar.

Ini tak perlu disesali karena cara kerja pasar memang demikian. Yang perlu diperhatikan justru keberadaan konsumen-konsumen cerdas, yang memiliki selera musik “gak kacangan”. Tampaknya ini disadari Fadly dan kawan-kawan.

Mereka selalu hadir dengan konsep matang dalam setiap album. Sejak meluncurkan album mininya, Indonesia Adalah… (2013), grup musik yang didirikan pada 2012 ini berusaha memopulerkan tema-tema yang sangat relevan dengan menyajikan kembali lagu-lagu lawas maupun lagu-lagu yang mereka ciptakan dan mengaitkannya dengan isu-isu terkini. HAM di antaranya.

Isu HAM menjadi tema penting dalam album yang merupakan dedikasi untuk Indonesia dan semua yang mencintainya. Ini terasa dari Merdeka sampai Mati yang di dalamnya dibacakan beberapa bait penting dari sajak-sajak Wiji Thukul. Tak hanya itu, album mini mereka juga mengangkat isu-isu kebangsaan yang cenderung “luntur” karena kehadiran kelompok-kelompok tertentu.

Musikimia karenanya melantunkan Kolam Susu dari Koes Plus dan Tanah Airku dari Ibu Sud. Dua lagu tersebut menjadi bukti keseriusan mereka dalam menghadirkan kembali karya-karya bermakna dari para musisi tanah air. Meski karya-karya mereka lawas, maknanya tetap relevan sampai saat ini.

Berbeda dari album mininya, pesan-pesan kebebasan begitu dominan dalam Intersisi. Album ini merupakan persenyawaan yang baik antara lirik, nada dan melodi. Sebab, proses pembuatannya dibantu (co-produced by) lima musisi yang berasal dari aliran musik yang berbeda-beda: Nikita Dompas, Gugun, Stevi Item, True Megabenz, dan Bondan Prakoso. Selain lima produser muda ini, ada Iksan Skuter yang terlibat menulis beberapa lagu.

Menurut Fadly, konsep album ini menghabiskan waktu yang cukup lama mencari format pas dengan misi Musikimia. Keinginannya didasari persenyawaan dengan para musisi yang berasal dari genre-genre musik yang berbeda. Sedangkan, kata “intersisi” bermakna irisan-irisan, himpunan-himpunan di mana kita bertemu dalam satu ruang yang sama: musik.

Intersisi terdiri dari sepuluh lagu. Rata-ratanya berdurasi 4-5 menit. Karya-karya Surendro Prasetyo (drum) mendominasi. Yoyo—panggilan akrabnya—berujar bahwa lagu-lagu yang ia ciptakan mencerminkan kegelisahannya atas berbagai konflik yang terjadi selama ini di Indonesia. Entah itu konflik atas nama agama, suku dan sebagainya.

Lagu Issue misalnya berpesan agar membuka ruang dialog dan mengerti satu sama lain selalu diutamakan. Sebab, apa yang terjadi selama ini sebaliknya: kelompok tertentu sering menghakimi kelompok lain.

Selain lagu Issue, lagu Redam memiliki pesan sama. Hanya saja, pesan kebebasan berpendapat untuk saling memahami menjadi titik tolaknya. Fenomena ini sering kita jumpai dalam perkembangan demokrasi kita. Tapi, sayangnya kebebasan berpendapat yang kita perjuangkan cenderung diabaikan karena mudahnya terbakar amarah dalam menyikapi perbedaan.

Meski demikian, kita tidak perlu berputus asa karena Hitam Tak Selalu Gelap. Berbagai kekurangan yang kita miliki harus terus kita benahi. “Kita harus percaya bahwa habis gelap terbitlah terang,” pesan yang ada dalam lagu tersebut.

Berbeda dari Fadly dan Yoyo, Rindra (bas) dan Stephan Santoso (gitar) tampaknya memilih fokus pada proses aransemen lagu-lagu yang diciptakan. Hal ini terasa dari petikan gitar dan bas dalam setiap lagu.

Selain empat lagu di atas, ada juga beberapa lagu bertema cinta dalam makna agape—cinta radikal yang tidak mementingkan diri sendiri, tidak bersyarat, dan tidak berbatas. Ini bisa didengarkan dalam Hangus, Bertahan untukmu, Meski Kau Tak Ingin, dan Pesanku.

Intersisi juga dilengkapi lagu Franky Sahilatua dan sajak Sekar Ayu Asmara. Franky selaku penyanyi balada tanah air yang terkenal dengan Perahu Retak-nya, selalu menciptakan lagu-lagu yang memiliki pesan kebhinnekaan. Di antaranya, Pancasila Rumah Kita. Sedangkan, Sekar Ayu Asmara merupakan seniman yang memiliki kontribusi musik dalam film Ca-Bau-Kan (2002).

Seperti halnya Perahu Retak dan Pancasila Rumah Kita, Taman Sari Indonesia—lagu Franky yang dilantunkan Musikimia—memiliki pesan yang sama. Di dalamnya, jargon “Bhinneka Tunggal Ika” menjadi kata kunci. Sebab, ribuan budaya, ribuan bahasa, Sabang ke Merauke, Miangas hingga Rote merupakan taman sari Indonesia.

Setelah Taman Sari Indonesia, sajak Sekar Ayu, Sebebas Alam, menyempurnakan komposisi album ini. Sajak yang diubah menjadi lagu tersebut memiliki peran penting dalam menyampaikan pesan-pesan kebebasan yang sering disalahpahami selama ini. Bebas sering dianggap liar, padahal anggapan tersebut keliru.

Bebas (atau kebebasan) pada dasarnya bermakna positif. Ia merupakan hak setiap orang menentukan pilihan hidup. Bebas pada dasarnya “menuju”, bukan “dari”—yang berarti fitrah setiap individu.

Maman Suratman dalam esainya, “Kemerdekaan dan Kebebasan”, mendefinisikan kemerdekaan dan kebebasan dengan sangat baik meski kedua istilah tersebut sering didentikkan secara tidak proporsional. Baginya, yang pertama hendak keluar dari tekanan pihak-pihak lain. Sementara, yang kedua lebih menonjolkan partisipasi secara bersama untuk tujuan bersama pula.

Dengan demikian, kita perlu sadar bahwa kebebasan bukanlah pilihan (dalam mencapai tujuan bersama). Tapi, kebebasan merupakan sebuah sifat alamiah. Sebab, “kita terlahir sebebas alam tanpa belenggu, tanpa ikatan. Dari alam, kita belajar bebas tak kenal paksaan.”