Dalam empat tahun terakhir, Kementerian Agama aktif mempromosikan pengarusutamaan moderasi beragama. Moderasi beragama adalah cara pandang kita dalam beragama secara moderat, yakni memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem, baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri.

Hadirnya ekstremisme, radikalisme, rasisme, ujaran kebencian (hate speech), hingga retaknya hubungan antarumat beragama merupakan problem yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini. Sehingga, dengan adanya program pengarusutamaan moderasi beragama ini dinilai penting dan menemukan momentumnya.

Bentuk ekstremisme terejawantahkan dalam dua bentuk yang berlebihan. Dua kutub yang saling berlawanan. Satu pada kutub kanan yang sangat kaku dalam beragama, yakni memahami ajaran agama dengan membuang jauh-jauh penggunaan akal. Sementara di pihak yang lain justru sebaliknya, sangat longgar dan bebas dalam memahami sumber ajaran agama.

Kebebasan tersebut tampak pada penggunaan akal yang sangat berlebihan, sehingga menempatkan akal sebagai tolok ukur kebenaran sebuah ajaran.

Kelompok yang memberikan porsi berlebihan pada teks, namun menutup mata dari perkembangan realitas cenderung menghasilkan pemahaman yang tekstual. Sebaliknya, ada sebagian kelompok tertentu memberikan porsi lebih pada akal atau realitas dalam memahami sebuah permasalahan. Sehingga, dalam pengambilan keputusan, kelompok ini justru sangat menekankan pada realitas dan memberikan ruang yang bebas terhadap akal.

Retaknya hubungan antar-pemeluk agama di Indonesia saat ini, menurut Nafik Muthohirin (Sindonews, 2018), dilatarbelakangi paling tidak oleh dua faktor dominan. Pertama, populisme agama yang dihadirkan ke ruang publik yang dibumbui dengan nada kebencian terhadap pemeluk agama, ras, dan suku tertentu.

Baca Juga: Moderasi Islam

Kedua, politik sektarian yang sengaja dalam menggunakan simbol-simbol keagamaan untuk menjustifikasi atas kebenaran manuver politik tertentu sehingga menggiring masyarakat ke arah konservatisme radikal secara pemikiran. Populisme agama itu muncul akibat cara pandang yang sempit terhadap agama, sehingga merasa paling benar dan tidak bisa menerima ada pendapat yang berbeda.

Dari kedua faktor tersebut berikatan satu sama lain. Keduanya sama-sama dihadirkan ke ruang publik dalam rangka kepentingan politik praktis, di mana pada sisi yang lain mengobarkan nalar sehat masyarakat beragama. Sebab, tidak ada doktrin agama yang mengajarkan kebencian, kekerasan, dan pengafiran hanya karena perbedaan pilihan politik.

Lebih lanjut, Nafik Muthohirin memaparkan bahwa dampak buruk yang kita rasakan sekarang adalah menunggu aksi-aksi kebencian ini menjalar dari dunia maya ke dunia nyata.

Sikap Moderat

Beruntung, Indonesia selalu selamat dari ancaman perpecahan karena bisa ditekan dan dihindari sehingga tidak sampai berujung pada pertikaian fisik dan menjalar ke tingkat yang lebih luas. 

Terkait hal ini, selain karena hadirnya negara, ancaman perpecahan dapar dihindari karena peran sejumlah kelompok civil society seperti ormas Islam NU dan Muhammadiyah sebagai ormas terbesar yang sedari awal berdiri sudah berwatak moderat.

Menjadi moderat bukan berarti menjadi lemah dalam beragama. Menjadi moderat bukan berarti cenderung terbuka dan mengarah kepada kebebasan.

Keliru jika ada anggapan bahwa seseorang yang bersikap moderat dalam bergama berarti tidak memiliki militansi, tidak serius, atau tidak sungguh-sungguh dalam mengamalkan ajaran agamanya. Kesalapahaman terkait makna moderat dalam beragama ini berimplikasi pada munculnya sikap antipati masyarakat yang cenderung enggan disebut sebagai seorang moderat, atau lebih jauh malah menyalahkan sikap moderat.

Menteri Agama sebelumnya, Lukman Hakim Saifuddin, dalam berbagai kesempatan, sering mengatakan bahwa moderasi beragama adalah sebuah jalan tengah dalam keberagaman agama di Indonesia. Ia adalah warisan budaya Nusantara yang berjalan seiring, dan tidak saling menegasikan antara agama dan kearifan lokal (local wisdom).

Maka dengan hadirnya moderasi dalam beragama mengharuskan kita untuk merangkul, mengayomi, bahkan menemani, bukan malah memerangi kelompok ekstrem. Sehingga prinsip dalam mengembangkan moderasi yang dipegang adalah dakwah kita, yakni menyampaikan dakwah dengan bil hikmah wal mauizhati hasanah, atau dengan cara-cara yang baik.

Oleh karena pentingnya keberagamaan yang moderat, maka menjadi penting juga bagi kita semua untuk menyebarluaskan paham ini. Jangan biarkan Indonesia yang beragama ini menjadi bumi yang penuh dengan permusuhan, pertikaian kebencian, dan merasa paling benar sendiri. Kerukunan baik dalam umat bergama maupun antarumat beragama adalah modal dasar bangsa ini menjadi maju.

Maka, cara memperlakukan pesan penting moderasi beragama ini mestinya tidak cukup bila hanya dipromosikan, melainkan perlu didesakkan sebagai aksi bersama seluruh komponen bangsa, baik pemerintah maupun kelompok agama agar ekstremesme dan kekerasan atas dasar kebencian kepada agama dan suku yang berbeda bisa ditekan dan dihilangkan.