Peneliti
2 tahun lalu · 636 view · 2 menit baca · Filsafat iriwww.jpg

Pesan Pendek untuk IRIWI Terselip di Tahun 2009

Pagi ini terasa berat untuk dilewati. Dua ember cucian selama seminggu belum juga kusentuh, padahal sudah satu hari satu malam aku merendamnya. Kondisi seperti ini tentu saja bukan hal biasa bagiku. Berat dan malas telah meyerang gairahku.

Tapi apa boleh buat, akhirnya aku selesaikan juga pekerjaan itu. Masalah bukan berarti rampung di sana dan bisa bersantai ria. Kesepian mulai mengintip kemudian mengepung kesendirian dalam kegelisahanku. Aku selalu merasa sepi dan tak tahan dengan kondisi demikian. Menurutku, pagi ini lebih ganjil pula sinis dibanding dua pagi yang lalu.

Memori masa kecil telah mengusik masa depanku yang belum juga berpola. Idealisme yang selalu membangkitkan cita-cita, kini sedikit demi sedikit mulai meredup. Warna yang selalu menembakkan titik-titik terang itu lusuh dan usang ditelan masa.

Kini idealitas itu menjadi sesuatu yang pragmatis, layu, kering dan tak bernyawa. Aku, sekarang dihadapkan pada realitas yang berseberangan dengan idealitas. Latar belakang perjuangan yang telah ditempuh bertahun-tahun justru menjadi pelor panas yang siap menembus tepat di jantungku. Hikmah apa yang telah Tuhan misterikan ini untukku? Sampai detik ini aku belum bisa menerkanya.

Ah, mungkin lebih baik pagi ini berangkat saja ke arah mana kompas hati menghendakinya. Tak perlu berpikir panjang ke mana, mau apa, untuk apa dan sejenisnya. Berdiam diri dalam keheningan, kesepian dan kegelisahan yang tak mau dilepaskan itu justru akan menambah kesinisan pagi ini.

Berjalan jauh dengan  pengalaman baruku sedikitnya mengurangi kegundahan atma yang tak pernah lelah terus membuntuti. Ternyata perjalanan petualangan tak selalu mulus dan sehat. Lobang-lobang yang ada di kanan dan kiri, serta tengah, atas dan bawah siap menjebak kaki yang rapuh, lemas dan pegal.

Perjalanan panjang selalu dihadapkan dengan tantangan yang tak kecil dan sesederhana yang kita duga. Jebakan inilah yang kemudian menjadi pecut kealpaan, kekhilafan, kesemberonoan, juga kelemahanku.

Menjadi manusia sempurna merupakan asa setiap individu. Harapan itu, tentunya wajar dan masuk akal akan tetapi kodrati manusia berbeda dengan makhluk yang bernama malaikat atau setan. Manusia adalah makhluk kolaborasi antarkeduanya.

Tuhan telah mendesain manusia seperti itu. Sisi malaikat dan sisi setan ada dalam diri manusia. Pada hakikatnya di sinilah letak kesempurnaan itu bertumpu. Dengan demikian tugas seorang manusia adalah menyeimbangkan, menyelaraskan dan mengharmonikan dua sisi tersebut. Terus belajar---tak pernah mengenal istilah final---dari kesalahan dan selalu memperbaharui kesalahan untuk menjadi insan kamil.

Sekarang saatnya aku bertanya padamu tentang pertanyaan-pertanyaan yang pernah kau tanyakan padaku waktu dulu, yang berkaitan dengan manusia dan kemanusiaannya: “Siapa yang telah mencurangi siapa, siapa yang telah mencederai siapa, siapa yang telah mengkhianati siapa, siapa yang telah mengurai simpul yang  diikat erat dan kuat, siapa yang telah mengoyak hati suci siapa, siapa yang telah membohongi perasaan dan seterusnya?“

Jawablah dengan tenang tanpa tekanan dan pesanan siapa pun, termasuk kolega, kerabat pula orang tuamu sekali pun. Aku akan sabar menunggu jawabnya.

Dasana Indah – Tangerang,  8 September 2009