Penyambutan mahasiswa baru selalu jadi momen istimewa. Mungkin tidak hanya bagi saya. Semua dosen barangkali juga merasakannya. Maka, sudah sepantasnyalah jika momen ini dinantikan dengan riang gembira.

Pasalnya, ada harapan besar terpancar dari tatapan mata para mahasiswa baru. Ada semangat yang berpendar mengisi ruang-ruang kuliah yang tampak lesu. Ada energi positif yang mampu menyatukan serpihan-serpihan impian dari kedatangan wajah-wajah lugu itu.

Ya, menjadi mahasiswa adalah tonggak penting dalam perjalanan hidup seseorang. Banyak anak memimpikan berada di posisi ini. Tentu saja dengan beragam nasib yang membedakan. Ada yang bernasib baik dengan menempati posisi yang diimpikan. 

Tidak jarang juga yang harus memendam kecewa lantaran cita-cita itu pupus sebelum sempat mencicipinya. Atau mungkin sedikit bernasib kurang baik karena dipaksa mencicipi rerasa yang kurang cocok dengan selera lidahnya. Tapi ya sudahlah, itu perkara nasib saja. Yang jelas, menjadi mahasiswa adalah dambaan banyak pelajar SMA.

Ada banyak motivasi bagi seseorang untuk menduduki predikat siswa yang maha ini. Ada yang mengemban misi mulia untuk memperbaiki nasib keluarga. Berharap dengan menjadi mahasiswa, hari depannya secerah wajah artis Korea. Tetapi, ada yang barangkali hanya meneruskan tradisi keluarga. Sekadar menjaga status di tengah lingkungan sosial dan kulturalnya.

Apapun motivasi dalam diri mahasiswa baru, tatapan mata mereka tetaplah berenergi dan menjadi candu. Makanya, sebuah kerugian besar tatkala saya melewatkan acara penyambutan mahasiswa baru.

Akan tetapi, akibat pandemi, momen istimewa itu tak bisa lagi dinikmati tahun ini. Acara sambut maru tetap ada. Saya pun masih bisa memandang wajah-wajah lugu mereka. Tetapi semuanya tampak datar-datar saja. Ya pastinya, karena tatapan mata mereka hanya bisa dijangkau melalui layar laptop saja.

Tak bisa saya bayangkan bagaimana perasaan mereka. Apakah mereka sebahagia saya 16 tahun lalu tatkala bersua langsung dengan entitas baru bernama kampus. Apakah mereka sebahagia saya tatkala untuk pertama kalinya mencium aroma akademik dari bangku-bangku kuliah yang tertata rapi.

Apakah kalian bahagia?

Tentu harus tetap bahagia karena kalian istimewa. Kalian adalah mahasiswa baru di era kenormalan baru. Predikat itu hanya akan tersemat pada pundak kalian, mahasiswa baru angkatan 2020.

Mas Menteri Nadiem telah mengeluarkan fatwa Merdeka Belajar-Kampus Merdeka. Inilah saatnya kemerdekaan belajar itu kalian rasakan sepenuh-penuhnya. Kemerdekaan untuk mempelajari apa pun yang ingin kalian ketahui. Kemerdekaan untuk belajar dari siapa pun yang ingin kalian dengarkan petuah-petuahnya. Kalian bebas menentukan sendiri asupan gizi yang dapat mengasah daya kritis, daya nalar, dan daya kreasi kalian.

Mahasiswa sebenarnyalah manusia merdeka yang tidak lagi terikat oleh sekat-sekat ruang keilmuan. Tapi ingat, semangat mengarungi samudera pengetahuan, menyelamdalami sumur keilmuan, dan membuka selebar-lebarnya cakrawala pemikiran harus tetap ditanamkan.

Belajarlah dari youtube. Carilah konten-konten bermutu. Simaklah forum webinar dari berbagai institusi. Bergabunglah dengan lingkaran-lingkaran diskusi. Arungilah laman-laman untuk memperkaya wawasan. Bacalah jurnal, e-book, novel, blog, dan semacamnya. Jadilah pembelajar yang “nggragas” pengetahuan.

Lantas soal kuliah bagaimana? Ah, itu perkara mudah saja. Kalian aktiflah di grup WA. Sering menyapa, kadang-kadang bertanya, dan hadirkan pujian sebagai bumbu penyedapnya. Jangan lupa, tugas-tugas administratif diselesaikan juga. Dosen suka dengan itu semua. Jika konsisten begitu sampai akhir semester, nilai A sudah di depan mata.

Oh ya, ada satu rahasia. Tapi, jangan sampai dosenmu tahu ya. Tidak banyak kok dosen yang adaptif dengan situasi pandemi ini. Paling-paling mengganti tatap muka dengan zoom meeting. Menyapa dan berdiskusi via grup WA. Membuat video dan mengunggah ke kanal yutubnya. Tapi tak usah dikritik, meskipun sajiannya tidak menarik. Ups.

Jadi, tidak perlu muluk-muluk menempatkan posisi sebagai mahasiswa. Anggaplah mahasiswa sebagai status belaka. Banggalah menjadi bagian dari kampus X dan kelak akan menyandang sarjana Z. Tapi soal ilmu, janganlah kalian menutup peluang hanya dari kampusmu semata.

Sudah dengarkan pesan Mbak Nana (Najwa Shihab) melalui kanal yutubnya kan? Nah, begitulah semestinya menjadi mahasiswa. Jangan cuma bergantung kepada kampus dan dosen. Kalian bebas menentukan nilai apa yang akan kalian peroleh. Bukan semata soal IPK. Tetapi soal nilai rasa, nilai sosial, nilai etika, nilai norma, nilai budaya, nilai agama, dan nilai-nilai luhur warisan pendahulu kita.

Status sebagai mahasiswa jangan menjadikan diri kalian semakin tinggi. Justru saat itulah kalian harus lebih peka pada situasi. Apalagi di tengah pandemi seperti ini. Kalian harus bisa melihat kanan-kiri. Sumbangsih apa yang dapat kalian beri?

Lebih baik, libatkan diri kalian dalam kerja-kerja sosial. Bagi kalangan akademisi, istilah tri dharma perguruan tinggi sudah tidak asing lagi. Katakanlah kerja sosial itu bagian dari fore-play untuk menjalankan tugas ketiga tri dharma ini.

Mungkin kalian pernah membaca sebuah postingan di media sosial. Saya sendiri lupa di mana tulisan itu pernah saya baca. Tetapi intinya begini. Sekelompok pemuda menginisiasi kegiatan pendampingan dan pembimbingan sekolah daring bagi adik-adik di lingkungan mereka tinggal. Harus diakui, ide ini keren, kontekstual, dan menyentuh langsung pada akar permasalahan.

Kalian tentu sangat memahami situasi belajar dari rumah. Betapa beratnya tanggung jawab orang tua ketika tugas mengajar dilimpahkan kepada mereka. Apalagi tidak semua orang tua memiliki ketersediaan waktu untuk menjelmakan diri menjadi guru. Banyak orang tua yang harus bekerja, dan di sisi lain masih berurusan dengan tugas-tugas sekolah putra-putrinya.

Belum lagi latar belakang pendidikan orang tua yang berbeda-beda. Kalian tahu sendiri, materi pembelajaran telah naik level seiring perubahan dan tuntutan kebutuhan. Banyak orang tua yang kesulitan memahami materi pelajaran anaknya, bahkan untuk selevel SD kelas tiga.

Kalian sudah baca berita tentang kejadian tragis di Tangerang? Belajar online berbuntut nyawa melayang. Kalian pasti tidak mau kan peristiwa itu kembali terulang?

Nah, kalian bisa mengambil alih tugas mulia itu. Kalian fasilitasi adik-adik yang masih duduk di bangku SD untuk dibimbing dalam satu kelompok belajar. Kalian libatkan teman-teman kalian untuk turun gunung. Teman sekampung, teman SMA, atau teman baru sesama mahasiswa dari daerah yang sama.

Soal uang lelahnya, Tuhan tentu telah menyediakan pahala berlimpah bagi hamba-Nya yang tulus dan ikhlas mengabdi. Bhaaa… Tentu saja tidak serta-merta begitu. Semua harus dipikir secara realistis.

Jadi, kalian bisa koordinasikan dengan perangkat desa selevel RT. Minta ketua RT untuk menyampaikan program kalian kepada para orang tua. Soal biaya, Pak RT biar meminta warganya untuk sedikit merogoh saku sekadar untuk mengganti keringat kalian yang bercucuran. Mungkin sepuluh ribu per anak setiap minggu bukan nominal yang besar. Uang itu bisalah digunakan untuk sekadar mengganti biaya pulsa untuk kebutuhan zoom meeting dengan dosen kalian.

Oh ya, ini juga jadi gambaran sedikit tentang merdeka belajar yang nantinya akan kalian rasakan di kampus. Kerja sosial macam ini nantinya bisa lho direkognisi jadi pengganti beberapa SKS kuliah. Lumayan kan, daripada terjebak pada rutinitas membosankan di kelas, mengelola proyek sosial seperti ini pastinya punya kebermanfaatan yang jelas, dunia-akhirat.

Indah sekali ya tampaknya? Tak apalah saya melepas harapan ketinggian. Toh, namanya harapan memang seyogyanya demikian. Ya, beginilah dosen. Kata-katanya sering mangawang ke udara. Tetapi sering kali lupa, di mana bumi dipijaknya.