Saat kita sedang menunjuk pada sebuah benda atau objek tertentu, baik secara sadar atau tidak, tiga jemari kita yang lain (tengah, manis dan kelingking) sebenarnya sedang menunjuk ke arah kita sendiri. Ini seakan menjadi penanda bagi kita bahwa sebelum kita menunjuk orang lain dan menilai perilaku mereka sebaiknya kita berkali-kali memandang dan menilai diri kita sendiri.

Sebab, pada umumnya sangat mudah bagi kita untuk memandang keburukan orang lain dan begitu sulit bagi kita untuk dapat menerima keburukan yang ada pada diri sendiri.

Untunglah tiga jari yang menunjuk ke arah diri kita itu tempatnya sedikit tersembunyi dalam lipatan telapak tangan kita. Barangkali ini adalah pertanda bahwa upaya kita untuk menilai diri sendiri ini cukup diketahui oleh diri kita seorang sehingga aib kita akan jauh dari pengetahuan orang lain. Dengan demikian, kita pun akan berpeluang untuk terus menutupi aib kita sementara kita juga tak henti-hentinya untuk terus memperbaiki diri.

Akan tetapi, sangat jarang ada orang yang sadar mengenai pesan yang disampaikan oleh jari-jari mereka ini. Sehingga manakala mereka memandang keburukan orang lain, mereka menganggap perilaku-perilaku orang lain adalah toksik bagi lingkungan mereka, maka sudah barang tentu anggapan itu adalah khusus untuk pihak di luar diri mereka. Sehingga yang berhak menjadi toksik adalah orang lain sementara mereka sendiri adalah pihak yang selalu suci dan tidak boleh dianggap bersalah.

Padahal, toksik itu sendiri merupakan perilaku laten yang dapat menjangkiti siapa saja. Entah mereka yang perilakunya buruk bagai iblis maupun mereka yang tingkat kebaikannya telah menyentuh lapis langit ketujuh.

Alangkah baiknya kita dapat merenungi sebuah peringatan dari Baginda Nabi Muhammad SAW bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menjamin dirinya akan masuk surga. Sebab keputusan masuk tidaknya seseorang ke dalam surga itu adalah hak prerogatif dari Tuhan yang akan memberikan rahmat bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Salah seorang sahabat yang masih belum sepenuhnya yakin atas penjelasan Nabi itu kembali bertanya kepada beliau, "Apakah hal itu juga berlaku bagi Anda, Wahai Nabi?" Nabi menjawab, "Demikian juga aku."

Penjelasan Nabi tersebut tentu bukan bertujuan untuk membuat para ummat beliau menjadi down atau pesimis sehingga mereka menjadi semakin putus asa untuk beribadah dan memohon rahmat Allah SWT.

Justru sebaliknya. Adanya penjelasan tersebut bertujuan agar ummatnya tidak terlalu yakin dengan mengandalkan tingkat keshalihan mereka sehingga menyebabkannya merasa pantas untuk dimasukkan ke dalam surga.

Sebab, apa hebatnya ibadah kita dibanding dengan ibadah Syaikh Kanzul Jannah (Sang Bendaharawan Surga) yang ibadahnya mencapai masa ribuan tahun itu? Ibadahnya selama ribuan tahun itu ternyata tak lantas menyebabkannya menjadi penduduk tetap di negeri surga.

Ia bahkan justru akan tersungkur dalam kobaran api neraka setelah hari kiamat kelak karena sifat 'ujub yang dimilikinya sehingga ia pun tidak mau bersujud di hadapan juniornya, Nabi Adam, sekalipun yang memerintahkan untuk sujud itu adalah Tuhannya sendiri, Allah SWT.

Karena dijangkiti oleh sifat 'ujub itulah, ia pun memohon kepada Tuhan agar dipanjangkan usianya hingga hari kiamat kelak agar ia bersama dengan kawan-kawannya akan lebih leluasa untuk memperdaya anak cucu dari Adam AS.

Nabi Muhammad SAW yang tak ingin ummatnya akan bernasib sama dengan iblis dan bala tentaranya yang terlaknat itu, maka beliau pun memberi peringatan:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ الله جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Artinya: “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim).

Beliau menyadari betul bahwa sikap sombong atau takabur merupakan sikap tercela yang dapat menjerumuskan para ummatnya pada keadaan yang hina. Lantaran sikap tercela tersebut akan mendorong mereka merasa lebih unggul dibanding orang lain karena kelebihan yang dimiliki. Alhasil, mereka pun akan sulit untuk menerima kebenaran dari orang lain karena senantiasa meremehkan keadaannya.

Pada umumnya sifat 'ujub dapat muncul pada seseorang karena merasa diri lebih kaya, lebih baik dalam berpenampilan, merasa lebih berpengetahuan, merasa lebih berkuasa maupun merasa lebih baik ibadahnya dibandingkan orang lain.

Oleh karena mereka merasa diri lebih baik dari orang lain inilah maka muncul anggapan bahwa mereka tidak perlu menaruh rasa hormat kepada orang lain sebab merasa derajat mereka lebih mulia.

Pun sebaliknya, merekalah yang biasanya akan menuntut orang lain untuk menghormati mereka, baik itu dilakukan secara terang-terangan maupun secara tersembunyi di dalam hati. Inilah diantara bahaya yang dapat timbul manakala seseorang telah terjangkiti sikap takabur di dalam hatinya.

Padahal, kita tentu telah menyadari bahwa sebenarnya tidak ada daya maupun keadaan yang dimiliki oleh satu pun makhluk di semesta ini kecuali karena Allah telah memberikan-Nya kepada mereka. Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah.

Jika sudah demikian, kita tentunya menyadari bahwa segala bentuk karunia itu juga akan kembali kepada Tuhan yang telah meminjamkannya. Pada saat itu kita akan kembali makhluk yang tak berdaya dan tidak bernilai apa-apa kecuali Dia kembali memberikan rahmat-Nya kepada kita. (*)