Kita masih ingat, jauh sebelum Pilpres 2019 bergulir, seolah ada sekat yang memisahkan jarak di tengah masyarakat kita. Sekat yang berhasil memisahkan itu disebabkan ‘beda pilihan politik’. 

Kita juga masih ingat betapa perbedaan soal selera politik ini berhasil mengubah segala bentuk persaudaraan, mencabik-cabik tali persaudaraan kita. Saya sempat berharap, semoga setelah usai pilpres, konflik ini segera berakhir, dan tali persaudaraan bisa kita rajut lagi. Kehidupan normal bisa kita gas lagi.

Namun, ternayata, usai pilpres, harapan itu tak terwujud. Masih terlihat manusia-manusia yang belum siap ‘rujuk’ di antara mereka. 

Mungkin saja mereka masih menyimpan dendam, apalagi mereka—waktu itu masih meratap, sebab capres dan cawapres yang mereka unggulkan ternyata kalah dengan petahana. Kekalahan itu tak mereka terima, hingga akhirnya, para pendukung Prabowo dan wakilnya dan tim BPN mengeklaim terjadi kecurangan di beberapa kota. Dari sini, carita itu makin rumit.

Pada akhirnya, tanpa saya harus mengungkapkan di sini, kita saat ini sudah tahu, setelah melewati jalan panjang, rumit, yang kadang membuat kita khawatir akan kehancuran negeri ini, kita telah menyaksikan bersama tentang ending dari cerita panjang yang penuh dengan kegamangan dan kepelikan ini. 

Ya, akhirnya Jokowi terpilih lagi setelah KPU secara resmi mengumumkan kemenangan Jokowi dan Ma’ruf Amin. Sementara Prabowo, untuk kedua kalinya, terpaksa harus tunduk di hadapan petahana.

Setalah itu, banyak ucapan yang mengalir untuk Jokowi dan wakilnya. Namun, saat itu, saya sempat menunggu, kapan kira-kira Prabowo-Sandi dengan penuh legawa juga ikut mengucapkan selamat kepada rival politiknya itu? 

Tentu saja, di tengah penantian itu pula, banyak yang bertanya-tanya, kenapa Prabowo-Sandi tak mengucapkan selamat kepada presiden terpilih yang notabene adalah rivalnya? Mungkin banyak juga yang menafsirkan tentang hal ini.

Akhirnya momen yang dinanti-nanti itu terlaksana juga, yaitu pertemuan dari dua tokoh besar yang hubungannya sempat meregang beberapa bulan terakhir ini, pertemuan Jokowi dan Prabowo. Pertemuan itu tak dilaksanakan di tempat-tempat mewah. Pertemuan itu digelar di dalam moda transportasi masyarakat baru ibu kota, yang bisa dinaiki siapa saja.

Ditemani beberapa ajudan dan beberapa orang terdekatnya, disesaki pula para wartawan, mungkin juga warga sipil, dengan penuh akrab dan hangat, Jokowi dan Prabowo ngobrol di dalam kereta MRT. 

Tentu saja pemandangan inilah yang selama ini dinanti orang Indonesia, dengan menyimpan harap, bahwa dengan begitu, para pengikut dari keduanya akan mengikuti jejak pemimpinnya, dan bisa belajar dari mereka. Itulah sikap dewasa yang ditunjukkan oleh kedua tokoh besar itu, yang dengan legawa kembali berdamai setelah gontok-gontokan dalam ring politik Indonesia.

Setelah pertemuan itu berlangsung, tak lama kemudian, di akun Instagram resminya, Jokowi langsung mengunggah momen-momen kebersamaan dengan Prabowo yang tengah bersalaman saling tatap lengkap dengan caption yang dituliskan persis di bawah fotonya sebagai berikut:

Saya mengajak Pak Prabowo Subianto untuk menjajal moda transportasi baru di ibu kota, naik MRT dari stasiun Lebak Bulus sampai senayan, pagi Sabtu pagi ini.

Pertemuan saya dengan Pak Prabowo adalah pertemuan seorang sahabat, pertemuan seorang kawan, pertemuan seorang saudara. Bukan pertemuan kebetulan, tapi sudah lama direncanakan.

Mengapa baru sekarang? Hanya soal waktu dan kesibukan semata. 

Kesempatan bertemu hari ini sekalian mengenalkan MRT kita. Saya tahu Pak Prabowo belum pernah mencoba MRT hehe.

Itulah redaksi caption yang menemani foto yang diunggah di Instagram orang nomor satu di Indonesia itu. Tak lupa, di kolom komentar juga banyak yang merespons dengan nada yang positif. Itu artinya, masih banyak orang di negeri ini yang merindukan perdamaian dan persaudaraan seperti yang kita saksikan pada pertemuan dua tokoh itu di MRT Jakarta. 

Ada yang menarik, di  dalam kolom komentar akun Instargam Jokowi, ada komentar sang Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, yang mengapresiasi pertemuan keduanya itu dengan satu kata yang singkat, mewakili orang-orang yang merindukan perdamaian. Ia menulis: Keren.

Dari sini kita diajak berpikir dewasa dan melupakan permusuhan yang telah terjadi. Kita diajak untuk berdamai, kembali memulai aktivitas seperti sedia kala. Yang paling penting, kita bisa belajar dari kedua tokoh besar itu untuk kembali merajut kain persaudaraan kita sebagai bangsa dan masyarakat Indonesia. 

Dari kedua tokoh itu, dari dalam MRT itu, telah menyebarkan virus cinta kepada kita, agar kita tetap menjadi manusia yang selalu memaafkan, berdamai dan saling mencintai. Kalau bukan karena saudara kandung, minimal karena kita sesama orang Indonesia.