16908122455_348ea3125f_o.jpg
Foto: flickr.com
Hiburan · 2 menit baca

Pesan Cinderella yang Terlewati

Cinderella menjadi salah satu tema gambar yang ditampilkan Google Doodle pada 12 Januari  lalu. Google sengaja memilih tema tersebut sebagai bentuk peringatan 388 tahun Charles Perrault. Kita boleh jadi tidak mengenal Perrault, tapi kontribusinya sebagai pelopor penulisan bergenre dongeng memiliki pengaruh besar pada industri hiburan dunia.

Karya-karyanya dianggap penting karena mampu menyiratkan pesan-pesan moral kepada anak-anak. Dalam kisah Cinderella misalnya, Perrault menyisipkan pesan akan pentingnya memiliki budi pekerti, keberanian, ilmu dan restu orang tua. “Have courage and be kind,” demikian ibu Cinderella berpesan. Pesan tersebut terpapar dalam cuplikan film Cinderella yang dipromosikan Disney Picture tahun lalu.

Industri animasi Amerika ini memang telah lama mensponsori kisah Cinderella dengan versi Perrault. Sebelumnya, Disney Picture telah memproduksi film Cinderella dalam bentuk animasi pada 1920 dan 1950. Meski sekarang kedua film tersebut tergolong klasik, popularitas Cinderella tak pernah surut.

Hingga kini, Cinderella masih menjadi salah satu putri Disney yang digandrungi anak-anak perempuan. Hal ini terbukti dari besarnya pendapatan bruto film Cinderella (2015) di seluruh dunia yang mencapai US$542 juta.

Sebagai industri hiburan yang mengeruk profit, Disney tampaknya kurang peka akan kebutuhan sosial yang mengikuti perkembangan zaman. Di saat industri film lain berlomba-lomba memasukkan pesan-pesan kesetaraan akan peran sosial perempuan dan laki-laki, Cinderella besutan Kenneth Branagh justru syarat akan bias gender.

Film yang dibintangi Lily James ini hanya mereproduksi pesan-pesan akan stereotype perempuan yang dianggap emosional, berpikiran sederhana dan terdomestifikasi. Bahkan Nadini Maity mengungkapkan bahwa lagu pembuka Cinderella, The Dream Is a Wish Your Heart Makes, lebih merupakan proyek kenaifan perempuan yang mengekspos kelemahan mereka (2014).

Maity menambahkan, Cinderella ala Disney sekadar memunculkan pribadi perempuan yang pasif dan penuh dengan angan-angan, khususnya tentang kehadiran pria yang menyelamatkan hidupnya. Dengan kata lain, Disney memberikan pesan bahwa perempuan sudah sewajarnya hidup penuh dengan ketidakberdayaan dan bergantung pada orang lain, khususnya laki-laki.

Pesan-pesan tersebut tentu berbahaya bagi perkembangan jiwa anak-anak perempuan. Pasalnya, sedari kecil mereka telah ditanamkan rasa ketertundukan yang berpotensi melanggengkan subordinasi perempuan, baik dalam keluarga maupun masyarakat.

Karena itu, Disney perlu melakukan konstruksi ulang dan memberikan perspektif baru pada film Cinderella, seperti yang telah dilakukannya pada kisah Aurora dalam film Maleficent (2014). Film yang dibintangi Angelina Jolie dan Elle Fanning ini menampilkan kepemimpinan perempuan yang berperan penting dalam menciptakan perdamaian. Film yang disutradarai Robert Stromberg ini juga memperlihatkan sosok perempuan yang mandiri dan bebas menentukan pilihannya.

Terlepas dari kegagalan Disney memunculkan Cinderella yang konstruktif, kita masih menemukan referensi film Cinderella yang lebih kontekstual. Dari 49 film dan acara televisi yang mengadaptasi dongeng ini, Ever After (1998) merupakan film yang paling apik mengkonstruksi kisah Cinderella.

Film yang dibintangi Drew Barrymore ini berhasil memunculkan tokoh Ella sebagai sosok yang kritis, berpikir logis, dan berani membela yang lemah. Kita pun tak akan menemukan eksplorasi fantasi ataupun interaksi Cinderella dengan para binatang dalam film berdurasi 59 menit ini.

Tidak hanya itu, film garapan Andy Tennant ini juga sukses menyampaikan pesan yang sering luput dalam film-film Cinderella lainnya. Pesan itu adalah perlunya para lelaki bersikap demokratis dan lebih terbuka dalam menerima kritik dari perempuan. Pesan tersebut juga bergandengan dengan pesan agar laki-laki perlu menghargai perempuan dari kepribadiannya dan bukan dari penampilan ataupun kecantikan fisik semata.

Sayangnya, Cinderella masih menjadi kisah yang hanya dinikmati anak perempuan dibanding anak laki-laki. Hal ini mungkin karena sikap para orang tua yang masih sangat seksis dalam memilih tontonan untuk anak-anaknya. Padahal, baik anak laki-laki maupun perempuan membutuhkan tontonan yang berimbang dan beragam. Hal ini berguna agar mereka mendapatkan perspektif yang lebih luas tentang kesetaraan gender sedari dini.