Drama Korea Selatan The Glory belakangan ini ramai diperbincangkan, terutama di kalangan para pecinta drakor. Dibintangi oleh aktris senior Song Hye Kyo, The Glory berhasil menarik perhatian penonton karena membawakan kisah perundungan atau bullying yang dilakukan secara sadis.

Sudah banyak sebenarnya drama Korea Selatan yang mengangkat kisah tentang perundungan. Namun setiap ceritanya menawarkan konflik yang menarik. Apalagi sampai sekarang kasus perundungan masih kerap terjadi, terutama di lingkungan sekolah.

Selain menunjukkan bagaimana pelaku bullying memberikan intimidasi serta kekerasan fisik dan verbal, melalui drama The Glory juga mengungkap bagaimana perlindungan pada korban. 

Di mana yang seharusnya korban mendapatkan pembelaan dan rasa aman, justru perbuatan keji itu dianggap hal biasa, bahkan oleh orang-orang terdekat.

Lalu, kepada siapa korban bullying seharusnya meminta pertolongan? Jika orang-orang terdekat saja tidak peduli. 

Padahal sikap korban yang berani buka mulut sudah semestinya diapresiasi dan mendapatkan perlindungan maksimal untuk menyelamatkan fisik dan mentalnya.

Cerita Singkat Drama The Glory

Drama The Glory mengisahkan seorang murid perempuan bernama Moon Dong Eun (Song Hye Kyo) yang mendapatkan perundungan dari teman-temannya. Moon Dong Eun bercita-cita menjadi seorang arsitek. Tapi kemudian impiannya itu runtuh setelah ia mengalami perundungan dan memutuskan keluar dari sekolah.

Bentuk kekerasan yang dialami Moon Dong Eun berupa fisik dan verbal. Bahkan kekerasan itu mengakibatkan cacat permanen di tubuhnya akibat ditempeli catok rambut dan setrika secara sengaja.

Tak hanya itu, rasa trauma yang dialami juga sangat besar. Ditunjukkan saat Moon Dong Eun mendengar suara daging yang dipanggang, ia langsung teringat dengan kejadian ketika dirinya ditempeli catok dan setrika.  Hingga akhirnya muncul rasa ingin balas dendam atas perbuatan teman-temannya itu.

Di samping mendapatkan perundungan, Moon Dong Eun yang sudah berusaha meminta pertolongan dan berharap mendapatkan perlindungan, nyatanya tidak dipedulikan. Melapor pada polisi, guru sekolah, bahkan orang tuanya sendiri pun seolah tidak peduli dengan kasus itu.

Seiring berjalannya waktu, Moon Dong Eun remaja telah menjadi perempuan dewasa yang berprofesi sebagai seorang guru. Namun, rasa dendamnya tidak lantas hilang. Justru di waktu inilah ia mulai melancarkan balas dendam secara perlahan dan tampak elegan pada satu demi satu teman-temannya.

Pentingnya Peran Orang Terdekat pada Korban Perundungan

Dalam drama The Glory menunjukkan betapa mirisnya nasib Moon Dong Eun yang ketika di-bully dan meminta pertolongan, justru tidak dipedulikan. Padahal tidak semua korban biasanya berani untuk speak up ketika mengalami perundungan karena sudah diancam pelaku. Tapi di sini, Dong Eun berani melapor ke polisi.

Hasilnya apa? Kasus itu seperti angin lalu. Begitu juga ketika Dong Eun lapor ke gurunya, si guru malah menganggap perbuatan itu wajar di antara sesama murid. Secara tidak langsung ini memberikan sebuah kritik tentang bobroknya lembaga pendidikan dan aparat penegak hukum.

Bahkan orang tua Dong Eun yang seharusnya memberikan pembelaan pada anaknya, justru bekerja sama dengan orang tua pelaku agar kasus tidak diperpanjang.

Masalah perundungan sudah seharusnya mendapatkan perhatian besar. Terlebih kepada korban yang sudah mendapatkan tekanan dan kekerasan berupa luka fisik serta mental. Dalam lingkungan sekolah misalnya, orang-orang terdekat yang bisa dimintai pertolongan adalah teman dan guru.

Sehingga harus diusut secara tuntas dan memberikan rasa jera kepada pelaku. Jangan sampai masalah perundungan mandarah daging dan dialami oleh murid-murid lainnya. Lama-kelamaan perundungan dianggap sebagai hal biasa dan turut melanggengkan rasa dendam di dalam diri pelajar yang seharusnya fokus belajar.

Kemudian orang tua juga adalah pihak terdekat dan wajib memberikan perlindungan kepada sang anak yang menjadi korban. Hendaknya orang tua menanamkan kepada anaknya untuk tidak berbuat buruk sejak dini. Sehingga menjadi sebuah langkah pencegahan terhadap perilaku perundungan.

Sedangkan ketika sang anak menjadi korban perundungan, maka orang tua dituntut bersikap tegas dan bijak. Bagaimana agar perbuatan itu tidak terjadi lagi hingga membantu anak untuk mengatasi rasa traumanya.

Jangan Abai dengan Dampak Perundungan

Perundungan adalah kasus yang sangat serius dan mampu menimbulkan dampak besar bagi korbannya. Hal itu terlihat dari tokoh Moon Dong Eun yang setelah mengalami perundungan, ia harus mengatasi efek kekerasan fisik, rasa trauma yang datang kapan saja, dan keinginan balas dendam.

Trauma tidaklah bisa disembuhkan dalam waktu singkat. Bahkan bisa saja rasa trauma terus menghantui yang membuat hidup jadi tidak nyaman dan dipenuhi rasa takut. Sekalipun pelaku sudah minta maaf, hal itu tidak cukup untuk bisa memulihkan kondisinya.

Memori otak sangatlah kuat untuk merekam apa yang terjadi, apa yang dialami, dan apa yang dirasakan. Sepanjang hidup memori itu masih menempel dan membayangi. Otomatis ini sangat berpengaruh pada kehidupannya yang tidak bisa dijalani secara normal seperti orang umum.

Belum lagi jika efek dari kekerasan fisik menimbulkan kecacatan permanen. Bekas itu bisa dilihat kapan saja dan saat melihatnya akan mengingatkan kembali pada kejadian masa lalu.

Lebih parahnya lagi, balas dendam yang tak terelakkan. Dalam adegan The Glory, Moon Dong Eun mengatakan:

Kamu tahu apa keuntungan tak punya agama? Kita tahu akan ke mana saat kita mati. Neraka.”

Kalimat singkat itu menunjukkan kalau Moon Dong Eun seolah tidak memiliki rasa takut lagi. Ia merencanakan aksi balas dendam secara perlahan untuk setiap orang yang merundungnya dan guru yang tidak peduli saat kejadian itu.

Melalui drama Korea Selatan yang satu ini, lagi-lagi penonton diajak untuk menyadari kembali fenomena perundungan yang masih langgeng sampai sekarang. Peran orang-orang terdekat sangatlah besar bagi korban. Apalagi ini menyangkut tentang keselamatan korban.

Ada fisik dan mental korban yang harus dijaga. Ketika orang-orang terdekat abai, maka dampak ke depannya sangat serius. Di mana bisa menumbuhkan bibit dendam yang tidak menutup kemungkinan bisa menghancurkan diri sendiri.