Apabila ada seseorang kepribadiannya sampai diperumpamakan seperti binatang, maka hal ini menunjukkan bahwa dirinya telah kehilangan martabat kemanusiaannya yang berbudi, berpendidikan dan berakhlak. Sebab faktor-faktor tersebutlah yang membedakan kehidupan manusia dengan binatang.

Begitu pula, orang yang tidak mau mempergunakan hatinya untuk menghayati ajaran Al-Qur’an, tidak mau mempergunakan matanya untuk memperhatikan bukti-bukti kekuasaan Allah, maka orang seperti ini dianalogikan oleh Al-Qur’an seperti binatang ternak. Sebagaimana ditegaskan dalam surat Al-A’raf :

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Artinya : “ Dan sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”( QS. Al-A’raf: 179 )

Mengenai kalimat   وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا    ada sebagian mufassir yang berpendapat bahwa sesungguhnya penghuni nereka itu jumlahnya lebih banyak daripada penghuni surga. Sebagaimana keterangan yang mengatakan, untuk setiap seribu orang hanya satu orang yang langsung masuk surga, lainnya masuk kedalam neraka.

Dalam tafsir Al-Madinah Al-Munawaroh, Syaikh Prof.Dr.Imad Zuhair Hafidz. Pada kalimat   وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ  “Dan sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka jahanam)”.

Allah menciptakan mereka dan dia mengetahui bahwa kesudahan mereka adalah masuk neraka. Karena mereka beramal dengan amalan ahli neraka sedangkan Allah telah mengetahui apa yang mereka kerjakan sebelum dia menciptakan mereka.

Pada kalimat    لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا   “(mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah)” hal itu menunjukkan bahwa diri mereka sendirilah yang memutuskan untuk enggan memahami ayat-ayat Al-Qur’an.

Setiap manusia pasti memiliki hati, tetapi terkadang diantara mereka tidak memiliki akal, dan orang-orang yang seperti ini sangat banyak, khususnya mereka yang enggan menerima nasihat.

Maka dari itu dikatakan bahwa mereka tidak berakal, dan mereka tidak sama sekali mengharapkan pahala dan tidak pula takut akan akibat yang akan menimpa.

Pada kalimat ini  وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا  Dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar.

Dinafikannya kemampuan melihat seseorang  yang didalamnya  terdapat petunjuk untuk berfikir dan mengambil pelajaran meski ia masih dapat melihat hal lainnya.

Dan dinafikan kemampuan mendengar nasehat-nasehat yang bermanfa’at dan syari’at-syari’at yang terdapat dalam kitab-kitab yang diturunkan serta apa yang dibawa oleh rasul meski dapat mendengar selain itu.

Pada kalimat     أُولَٰئِكَ  (mereka itu ) yang memiliki sifat-sifat ini.  كَالْأَنْعَامِ   (layaknya binatang ternak) Dalam hal tidak adanya pemanfaatan panca indra ini.

Pada kalimat   بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ  (bahkan mereka lebih sesat lagi ). Lebih sesat dari hewan ternak, karena hewan ternak mengetahui apa yang manfa’at baginya dan apa yang membahyakannya, sehingga ia dapat mengambil manfa’at dari sesuatu yang bermanfa’at tersebut dan menjauhi apa yang membahayakannya.

Adapun orang-orang kafir itu tidak dapat membedakan antara yang bermanfaat dan apa yang berbahaya sesuai dengan apa yang berbahaya sesuai dengan apa yang Allah perintahkan kepada mereka.

Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, bahwa mereka memilki hati yang tidak mereka gunakan untuk memahami, memiliki mata yang tidak mereka gunakan untuk melihat, dan memiliki telinga yang tidak mereka gunakan untuk mendengar.

Yakni mereka tidak memanfaatkan sedikitpun organ-organ tubuh yang telah dijadikan Allah sebagai sarana untuk memperoleh hidayah.

Allah Ta’ala berfirman, “ mereka tuli, bisu, dan buta. Maka tidaklah mereka akan kembali (kejalan yang benar)” (Al-Baqoroh:18) mereka tidak tuli, tidak bisu, dan tidak buta kecuali terhadap hidayah.

            Hal ini seperti difirmankan Allah, “Karena sesungguhnya bukan mata itu yang buta, namun yang buta ialah hati yang ada di dalam dada.” ( Al-Hajj: 46)

Firman Allah Ta’ala, “Mereka itu seperti binatang” yakni, orang-orang yang tidak menyimak kebenaran, tidak menyadarinya, dan tidak melihat hidayah adalah seperti binatang yang dilepas yang tidak memanfaatkan organ-organ tubuh itu kecuali sekedar untuk memperoleh makanan dalam kehidupan lahiriyah dunia.

Maka sehubungan dengan mereka Allah berfirman, “Bahkan mereka lebih sesat” daripada binatang-binatang itu, sebab binatang kadang-kadang dapat menuruti hardikan penggembala walaupun ia tidak memahaminya. Kemudian binatang itu berbuat menurut ujian penciptaannya  berdasarkan nalurinya maupun karena ketahlukannya.

Hal itu berbeda dengan orang kafir. Sesungguhnya Allah menciptakan dia supaya menghambakan diri kepada Allah dan mengesakan Nya, lalu dia mengingkari dan menyekutukan Allah Ta’ala.

Maka manusia yang ta’at kepada Allah adalah lebih mulia keadaannya di akhirat darpada malaikat, sedangkan manusia yang kafir kepada-Nya lebih buruk daripada binatang.

Oleh karena itu, Allah berfirman, “mereka itu adalah orang yang lalai”. Maksudnya mereka lalai karena tidak mempergunakan hatinya, pendengaran dan penglihatannya untuk memahami ayat-ayat Al-Qur’an dan memperhatikan bukti-bukti kekuasaan Allah.

Al-Qur’an sampai membuat tamsil bagi orang yang tidak mau memahami ayat-ayat Allah itu seperti binatang, dikarenakan ia punya akal pikiran, yang bisa digunakan nuntuk membedakan baik buruknya suatu perbuatan, akan tetapi akal pikirannya itu tidak dipergunakan denganm semestinya.

Ia tidak mau menerima kebenaran yang sudah nyata di depan matanya, tidak mau memperhatikan bukti-bukti kekuasaan Allah, juga, menjadikan telinganya tuli dari peringatan dan nasehat Al-Qur’an. Oleh karenanya, ia punya akal atau tidak, tak ada bedanya. Dengan demikian dirinya sama dengan binatang.

Binatang tidak mengerti kebenaran, tidak bisa memahami ayat ayat Al-Qur’an, juga tidak tahu kekuasaan Allah, dikarenakan ia tidak punya akal pikiran. Ia hanya mengetahui bagaimana cara mencari makan dan menyalurkan kebutuhan biologisnya tanpa mengindahkan nilai etika atau moral.

Jika ada manusia memproklamirkan dirinya sebagai insan yang berakal dan beradab, tetap sepak terjangnya sepeerti binatang, maka keberadaan dirinya tak beda dengan binatang tersebut.

Maka tepat sekali bila Al-Qur’an menggambarkan orang yang tak mempergunakan hatinya untuk memahami Al-Qur’an seperti binatang ternak sebagaimana bunyi ayat di atas.