Humor rasanya sudah tak asing lagi di telinga kita semua. Karena humor pasti menghiasi kehidupan sehari-hari agar lebih berwarna dan penuh tawa, entah itu dari tontonan sebagai hiburan ataupun dalam percakapan sehari-hari untuk mewarnai kegiatan bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. 

Humor juga dapat menyamaratakan lapisan masyarakat tanpa menghiraukan strata sosial. Untuk mencapai tujuan, dalam humor kita harus memiliki pengetahuan dan pemahaman terkait apa yang ingin dimaksud.

Tahukah kamu bahwa wacana  humor itu tidak terlepas dari kegiatan berbahasa?

Menurut Hutama Putra (Skripsi, 2015: 5), pada wacana humor tidak dapat terlepas dari kegiatan berbahasa, kegiatan mengekspresikan bahasa tersebut untuk menyampaikan makna-makna yang ada pada bahasa, kepada lawan bicaranya (dalam komunikasi lisan), atau pembacanya (dalam komunikasi tulis). Seiring berjalannya waktu dan perubahan zaman, bahasa juga ikut berkembang sehingga menyebabkan bahasa mengalami perubahan makna. 

Ada lima faktor yang menjadi penyebab adanya perubahan makna, yakni perubahan makna karena faktor kesejarahan, perubahan makna akibat perubahan lingkungan, perubahan makna akibat pertukaran tangkapan indera, perubahan makna akibat faktor kebahasaan, dan perubahan makna akibat tanggapan pemakaian bahasa ­(Hadi, 2015: 180). 

Ada 6 macam perubahan makna yaitu: 1) meluas (generalisasi), 2) menyempit (spesialisasi), 3) membaik (amorelatif), 4) memburuk (peyoratif), 5) sinestesia, dan 6) asosiatif (Nugraheni, 2019: 67-68).

Perubahan Makna Pada Wacana Humor Cak Lontong

1) Generalisasi (perluasan makna)

“Sebenarnya jomblo itu bukan tidak laku, hanya sekadar tidak ada yang mau. Salam jomblo

Jomblo merupakan sebuah kata yang mengalami perluasan makna. Kata jomblo awalnya digunakan untuk seorang perempuan saja, kini kata jomblo juga digunakan untuk laki-laki.

Saudara-saudaraku yang lemper”

Saudara-saudaraku merupakan frasa nomina yang telah mengalami perluasan makna. Frasa saudara-saudaraku berasal dari kata saudara yang mempunyai makna orang seibu seayah, adik atau kakak, orang yang bertalian keluarga.

Dalam kalimat saudara-saudaraku mengalami perluasan makna menjadi orang yang segolongan (sepaham, seagama, sederajat, dan sebagainya), kawan, teman. Makna dari Cak Lontong menyebut “saudara-saudaraku” adalah sebagai sapaan terhadap penonton.

2) Spesialisasi (penyempitan makna)

Istri itu harus selalu diperlakukan romantis. Selalu dipegang tangannya kalau jalan-jalan. Apalagi di mall, harus kenceng pegangnya. Soalnya kalo lepas bahaya. Bisa mampir berapa toko entar?”

Kata istri merupakan hasil spesialisasi atau penyempitan makna dari kata bini. Kata bini awalnya dianggap tinggi maknanya, tetapi karena sekarang kata bini dianggap kasar penyebutannya kata bini berbubah menjadi kata istri.

“Anda ini orang-orang sarjana, walaupun wajah tidak menunjukkan tapi saya saya yakin anda ini pintar”

Kata sarjana merupakan sebuah kata yang telah mengalami spesialisasi atau penyempitan makna. Kata sarjana yang awalnya memiliki makna cendekiawan atau orang-orang pintar. Tetapi saat ini kata sarjana telah berubah menjadi sebutan untuk orang-orang yang telah lulus dari universitas. dalam hal ini, Cak Lontong memberikan sebutan sarjana kepada penonton yang merupakan anak kuliahan.

3) Amorelatif (peningkatan makna)

“Sebenarnya yang namanya jodoh itu gak ke mana-mana. Kebetulan waktu valentine, anda lagi dekat dengan seorang wanita. Telepon saja dia dan tanya malam ini mau pergi gak? Nah, kalau dia jawab gak kemana-mana, berarti itu jodoh anda.”

Kata wanita mengalami peningkatan makna atau amorelatif. Kata asal wanita lebih kelas perempuan, tetapi makna baru di tingkat tinggi perempuan.

4) peyoratif (penurunan makna)

“Di kampung saya ada sekitar 100 kepala keluarga. Jam 1, kampung saya diserbu gerombolan geng motor. Kaca-kaca rumah dipecahkan. Yang namanya Ketua RW lari. Ketua RT lari. Kepala Keluarga lari. Saya yang wakil ketua nggak lari…, karena saya wakil ketua gerombolan tadi.”

Frasa gerombolan geng motor merupakan frasa yang mengalani peyoratif atau penurunan makna. Kata gerombolan lebih terdengar kasar daripada kata kelompok yang menyebabkan terjadinya penurunan nilai. Dalam hal ini Cak Lontong menyebut kata gerombolan untuk penjelasan yang menunjukkan kelompok geng motor.

5) Sinestesia (pertukaran tanggapan dua indera)

“Dan mala mini doa manis anda dan harapan saya terkabul.”

Kata manis pada data di atas mengalami sinestesia atau pertukaran tanggapan dua indera yaitu dari indera perasa ke indera pengelihatan. Kata manis yang biasanya menggambarkan rasa yang dirasakan oleh lidak pada wacana humor ini mengalami pergeseran makna menjadi doa yang sangat diharapkan bisa dikabulkan oleh Sang Pencipta.

6) Asosiatif

“Tolong hargai saya. Jangan bertindak anarkis terhadap saya. Saya ini sudah dewasa, sudah bisa membakar diri saya sendiri.”

Kata membakar memiliki makna asosiatif. Kata membakar dapat berarti menghanguskan (menyalakan, merusakan) dengan api, memanggang (memanaskan) supaya masak. Kata membakar dalam wacana humor Cak Lontong mempunyai makna mengeluarkan amarah yang ada pada dirinya sendiri. Karena sama-sama bersifat panas makna baru itu muncul karena persamaan sifat.

“Dan janganlah bangga menjadi atasan, karena di Pasar Baru, atasan 10 ribu dapet 3.”

Kata atasan mengandung makna asosiatif atau persamaan makna. Kata atasan memiliki makna yang lebih tinggi atau orang yang di atas. Dalam kalimat tersebut kata atasan memiliki makna baju bagian atas seperti kaos, kemeja, dan lain-lain. Makna baru tersebut karena memiliki sifat yag sama yaitu berada di atas.

“Kalau Anda duduk di sini ingin terhibur dan tertawa, itu salah. Tapi kalau Anda di sini ingin mendapat pencerahan, itu lebih salah lagi. Jadi Anda duduk di sini saja sudah melakukan dua kesalahan.”

Kata duduk mengandung persamaan makna atau asosiatif. Kata duduk menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai makna meletakkan tubuh atau letak tubuhnya dengan bertumpu pada pantat (ada bermacam-macam cara dan namanya seperti bersila, bersimpuh), ada di (dalam pertingkatan belajar), tinggal, diam.kata duduk juga dapat diartikan sebagai menempati jabatan. Keduanya mempunyai persamaan sifat yaitu sama-sama mendiami sesuatu.

Daftar Pustaka

Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring Edisi ke V

Hadi, Syamsul. 2015. Kata-kata Arab dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Nugraheni, Aninditya Sri. 2019. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi Berbasis Pembelajaran Aktif. Jakarta: Prenadamedia Group.

Putra, Hutama. 2015. “Perubahan Makna pada Wacana Humor Cak Lontong”. Skripsi. FKIP, Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Sukoharjo.

Batamnews.co.id. 2015. “Kumpulan Humor Ala Cak Lontong”. https://www.batamnews.co.id/berita-3096-kumpulan-humor-ala-cak-lontong.html Diakses pada 18 Desember 2020 pukul 20.13 WIB.

Woimedia seo. 2014. “Kumpulan (72) Humor Cerdas Cak Lontong”.  https://simomot.com/2014/07/15/kumpulan-72-humor-cerdas-cak-lontong/ Diakses pada 18 Desember 2020 pukul 20.20 WIB.