Di era 1990an sampai 2010an banyak suporter klub sepakbola Indonesia berkembang. Di era itu sangat melekat kultur mania, seperti The Jak Mania milik, Aremania, dan Bonek Mania.

Di era mania ini para supporter lebih suka menonton di tribun timur stadion. Ditribun tersebut pasti lebih ramai dari pada dibanding tribun lainya. 

Ciri khas mania sendiri terlihat dari gaya para suporter yang selalu menggunakan jersey klub kebanggaan atau pakaian yang memiliki warna warna sama dengan klub kebanggaannya. 

Tak hanya itu, ciri khas mania juga terkenal dengan chant setiap suporter yang terkadang menggunakan bahasa daerah, seperti Bonek mania yang mengadopsi lagu iwak peyek.

Atau pun mengadopsi dari lagu daerah ataupun bahasa daerah dengan mengganti liriknya, seperti The Jak Mania yang mengubah lagu Apuse menjadi Persija didadaku.

Selain itu para suporter juga banyak yang menggunakan atribut yang cukup unik, seperti topi bertanduk atau pakaian adat. 

Para suporter juga banyak yang membawa terompet ke stadion, yang dikolaborasikan dengan drumband, chant, yang menambah semarak seisi stadion.

Akan tetapi seiring berjalannya waktu, kultur mania kian luntur. Kiblat para suporter lebih condong ke budaya suporter yang ada di Eropa. 

Para suporter memilih untuk meniru suporter Italia yang identik dengan ultras maupun Inggris yang identik dengan casualnya. 

Ultras sendiri di Indonesia sebenarnya sudah berkembang sejak 2000an, seperti Pasoepati Ultras milik Persis Solo dan Ultras Gresik milik PS Petrokimia Putra Gresik. 

Akan tetapi kultur ultras baru berkembang pesat di tahun 2008-09an. Meskipun diawal hanya beberapa orang, tetapi lambat laun hal itu justru lebih digemari oleh semua suporter. 

Berawal dari sekelompok suporter PSS Sleman yang dikenal dengan Slemania, yang kemudian membentuk kelompok suporter baru, yaitu BCS (Brigata Curva Sud). 

Mereka mengkiblatkan Italia sebagai inspirasi dalam mendukung klub kebanggaan.

Setelah beberapa tahun, BCS menjadi berkembang pesat hingga di tahun 2013 terkenal dengan koreonya yang luar biasa, dan menjadi salah satu suporter terbaik di Asia. 

Karena kultur ultasnya yang terkenal itu, sekarang Sleman sendiri dijuluki sebagai kabupaten Italianya Indonesia.

Dari itu membuat semua golongan supporter Indonesia mengalami perubahan. Semua beramai-ramai membuat kelompok supporter baru. 

Hal itu membuat satu klub mempunyai beberapa golongan supporter, yaitu mania dan ultras. Seperti Persija dengan The Jak Mania dan Curva Nord Persija.

Ultras sendiri memiliki kultur yang cukup berbeda dengan mania. Mereka menggunakan bahasa Italia sebagai nama suporter.

Selain menggunakan bahasa Italia, ultras lebih memilih menduduki tribun belakang gawang, yaitu tribun selatan atau tribun utara.

Para ultras juga lebih memilih menggunakan atribut serba hitam dari pada menggunakan atribut yang berwarna sama dengan tim kebanggaan. 

Dari chant nya pun juga berbeda, yaitu terkadang menggunakan bahasa Italia, seperti yang lirik lagu dari BCS, supporter PSS Sleman, yaitu "Bianco Verde ale bianco verde ale." 

Selain itu, terkadang para ultras biasanya memberikan berbagai kritik melalui sepanduk besar di stadion, baik kritik untuk klub, federasi, maupun politik.

Kemudian tak lama ultras berkembang, kultur casual pun ikut berkembang. Yang mana para supporter juga berkiblat ke supporter Inggris.

Seperti suporter Persis Solo, yaitu Surakatans B6, yang membuat Persis Solo mempunyai banyak basis suporter, Pasoepati, Ultras 1923 dan Surakatans B6. 

Kemudian juga ada suporter klub Bali United, yang dikenal memiliki basis supoter dengan kultur casual cukup besar di Indonesia, yaitu NSB (North Side Boys). 

Mereka menitu kultur casual, baik dari yel-yel maupun pakaian. Contoh yel-yelnya adalah “Please, don’t take me home don’t take me home.

Kultur ini berbeda dengan ultras, yaitu pakaianya. Jika ultras identik dengan dengan pakiana serba hitam sedangkan casual itu lebih bebas. 

Dari segi pakaianya pun lebih rapi dari pada ultras, para pecinta casual lebih memilih pergi ke stadion menggunakan sepatu, jaket, celana jeans, dan topi. 

Pakiannya pun menggunakan merek ternama Eropa, seperti Lacoste, Ellesse, Adidas, Fila, Company, Champion, Weekend Offender, dan lain sebagainya. 

Perbedaan lain juga terdapat ketika berada di stadion, jika ultras menyayikan chant diiringi dengan drumband sedangkan casual lebih santai, mereka hanya berteriak menyanyikan chant.

Dari perkembangan kultur supporter sepakbola tersebut, itu menunjukkan bahwa globalisasi berkembang pesat. 

Dimana banyaknya akulturasi budaya diberbagai bidang, termasuk budaya dikalangan supporter sepakbola sendiri.

Tetapi, adanya perbedaan golongan tersebut, terkadang terjadi keributan antar sepporter dalam satu klub seperti yang terjadi pada kelompok supporter Persibat Batang. 

Persibat sendiri memiliki 3 basis supporter. Yaitu Roban Mania, Brigata Ultras Batang, dan Roban Rewo-rewo.

Keributan terjadi saat pertandingan antara basis suporter Persibat, yaitu antara golongan mania dengan casual, yaitu Roban Mania dan Roban Rewo-rewo.

Tetapi dengan adanya akulturasi budaya tersebut kita bisa belajar dari suporter luar negeri untuk lebih dewasa dalam mendukung klub kebanggaan. 

Meskipun fanatik jarang terjadi kericuhan antar suporter. Di Eropa para supporter antar klub bisa guyub rukun dalam satu stadion meskipun laga big match maupun laga derbi.

Seperti laga el clasicco antara Real Madrid dan Barcelona, derbi Manchester antara Manchester United dan Manchester City atau Derby Milan antara AC Milan dan Inter Milan. 

Meskipun suasana memanas didalam lapangan, tidak terjadi bentrok antar suporter klub, baik di dalam dan diluar lapangan. 

Dengan adanya akulturasi budaya antar suporter yang ada di Indonesia, itu dapat digunakan untuk edukasi yang dapat ,memajukan persebakbolaan Indonesia.