7 bulan lalu · 62 view · 5 menit baca · Budaya 75852_38747.jpg

Perubahan dan Pengorbanan

Sebuah Reportase dan Renungan Kecil dari Seberang

Adalah setahun yang lalu ketika saya menapakkan langkah pertama saya di Jalan Chan Sow Lin. Turun di stasiun LRT bernama sama, belok kanan menelusuri trotoar panjang selama dua menit, dan sampailah di sebuah jalan yang begitu terik dan panas lantaran kurangnya pepohonan, berbahaya karena banyaknya kendaraan yang belok dan melaju sembarangan, dan berdebu lantaran pabrik-pabrik di sepanjang jalannya.

Kesan pertama saya terhadap jalan itu langsung mengingatkan saya kepada serial film Mad Max atau Book of Eli atau film-film post-apocalyptic lainnya, di mana Bumi hanya merupakan sekumpulan puing-puing pabrik yang menghasilkan teknologi tinggi dan segala operasionalnya dikendalikan robot-robot dan sistem keamanannya adalah seperangkat senjata yang bisa membuat tubuhmu menjadi seperti keju.

Hanya saja di Jalan Chan Sow Lin, pabrik teknologi tinggi diganti oleh pabrik daur ulang sampah, robot-robot diganti oleh buruh-buruh Bangladesh dan Nepal, dan seperangkat senjata diganti oleh anjing-anjing buduk dan kurus yang entah sudah berapa lama tidak diberi makan.

Lalu baru beberapa bulan yang lalu—tepatnya saya lupa kapan—saya melihat bahwa papan-papan peringatan pembangunan sistem transportasi MRT sudah berdiri di beberapa sudut Jalan Chan Sow Lin. Proyek MRT sudah dimulai dari rute Sungai Buloh-Kajang pada akhir 2016 yang lalu, dan rute Putrajaya-Serdang memang sudah direncanakan sebagai pelengkap dari sistem transportasi yang akan menghubungi area Lembah Klang (area ibukota KL dan sekitarnya).

Tetapi penglihatan tidak selalu datang bersama kesadaran. Papan-papan itu hanya saya anggap sebagai variasi kecil yang kelak akan hilang bersama perjalanan rutinitas.

Tetapi kehilangan, seperti biasanya, akan menyadarkan. Ketika saya berjalan pulang di petang hingga malam hari, biasanya akan ada musik-musik berbahasa Urdu atau Tamil yang akan bermain di sepanjang jalan, berasal dari para buruh pabrik yang sedang bersiap pulang sambil bermain-main. Tetapi secara perlahan, suara-suara itu hilang. 

Lalu secara terkaget-kaget, saya pun menyadari bahwa satu persatu pabrik di jalan itu hilang dan digantikan dengan puing-puing yang dihancurkan dengan mesin berat. Anjing-anjing penjaga tidak lagi memiliki tempat untuk mereka menggonggong, dan para pekerja Bangladesh dan Nepal itu sudah terlihat batang hidungnya.

Menggantikan pabrik-pabrik itu adalah segerombolan mesin-mesin berat yang mengeruk tanah dan puing-puing, papan-papan tanda yang mulai berdiri, menandakan sebuah pembangunan yang akan dijalankan. Kelak, di atas puing-puing yang menyimpan gonggongan anjing, debu-debu jalanan, dan musik-musik norak berbahasa Urdu dan Tamil tersebut akan berdiri sebuah stasiun yang megah.

***

Perubahan pada dasarnya adalah sebuah siklus. Di bawah perubahan-perubahan, berdirilah suatu asal-muasal. Kota-kota yang dibangun di atas perkampungan, gedung-gedung pencakar langit yang berdiri di atas rumah-rumah tua, dan jalan raya berdiri di atas pepohonan yang merupakan rumah bagi alam. 

Lalu ketika kota-kota sudah menua, di atasnya akan berdiri sesuatu yang lebih megah darinya; begitu pula dengan gedung-gedung dan jalan raya. Secara kasarnya, sesuatu tidak akan bisa berdiri tanpa menapak kepada asal-muasalnya dan perubahan adalah sesuatu yang pasti akan terjadi di sepanjang jalan kehidupan. Dari situ pertanyaan pertama pun muncul: apakah hidup adalah saling pijak-memijak?

Tidak bisa dipungkiri bahwa segala hal dalam hidup tidak bisa didapatkan secara gratis. Untuk maju sepuluh langkah, terkadang kamu perlu mundur lima langkah—bahkan sebagian orang perlu mundur sepuluh langkah hanya untuk maju lima langkah. Perubahan dan pengorbanan seperti sebuah hubungan kausalitas yang tidak dapat dipisahkan.

Untuk sesuatu yang lebih baik atau bahkan lebih buruk, selalu akan ada yang dikorbankan atau setidaknya merasa dikorbankan sebagai akibat dari sebuah perubahan. Dari situ, pertanyaan kedua pun muncul: apakah perubahan pada asasnya adalah suatu buah simalakama bagi para pelakunya?

Tetapi ketiadaan perubahan bukannya membuat keadaan semakin baik. Waktu berjalan dan Bumi semakin tua. Zaman yang bergerak bersama keperluan manusia menuntut adanya sesuatu yang berubah dari sistem rutinitas yang selama ini memegang manusia di tengkuknya; atau malah zaman menuntut untuk manusia tidak lagi dipegang tengkuknya. 

Perubahan tetap perlu dijalankan, namun tentu pada akhirnya di dalam hati masing-masing, baik pengubah dan yang diubah, tidak ada yang mau melalui sebuah pengorbanan. Ini akan membawa kita kepada pertanyaan ketiga yang utopis: bisakah sebuah perubahan dijalankan tanpa mengorbankan apa-apa?

***

Ada sebuah kedai kopi kecil yang diapit oleh dua pabrik di Jalan Chan Sow Lin. Sepanjang pengamatan saya sebagai salah satu pengguna rutin jalan yang berdebu itu, bisa saya katakan bahwa kedai kopi itu memiliki variasi pengunjung yang amat sedikit: cukup ramai, tetapi orang yang itu-itu saja. 

Kedai kopi itu mungkin bisa saya simpulkan sebagai posko bagi para pekerja atau siapa pun yang menghuni pabrik-pabrik di jalan tersebut. Itu berarti setiap harinya, si pemilik kedai kopi akan bertemu dengan sekumpulan orang yang sama dan sebuah pendapatan yang sifatnya konstan.

Lalu ketika pembangunan proyek MRT dijalankan, kedai kopi itu pun ikut ditiadakan. Tetapi alih-alih hilang begitu saja, sebuah papan tanda kecil menunjukkan bahwa kedai kopi itu telah berpindah ke sebuah food court yang ada di Jalan Sungai Besi yang berada tidak jauh dari Chan Sow Lin. 

Saya yang kebetulan memang bekerja di area situ paham betul bagaimana keadaan di sana. Jalan Sungai Besi adalah area perkantoran yang secara relatif lebih elit dibandingkan Chan Sow Lin, dengan berdirinya dua pusat perkantoran yang bernama Southgate dan Mah Sing yang saling berseberangan, dan food court itu hanya berada beberapa blok dari dua pusat perkantoran itu.

Keadaan sebegitu secara otomatis menjawab pertanyaan pertama dan kedua: bahwa apakah suatu pengorbanan akan dilihat sebagai sesuatu yang buruk atau baik, adalah tergantung kepada si pengorban dan yang dikorbankan. 

Jika si pengorban menyadari bahwa perubahan yang dibawanya akan mengorbankan sesuatu, maka ia harus mampu menjamin bahwa pengorbanan itu akan disertai oleh sebuah perubahan nasib yang baik bagi yang dikorbankan; begitu pula bagi yang dikorbankan, ia harus mampu beradaptasi dan memanfaatkan perubahan yang terjadi pada dirinya. Ingat, perubahan dan pengorbanan adalah sebuah siklus, bukan semata-mata kausalitas.

Dari situ pulalah kita bisa menyimpulkan bahwa jawaban atas pertanyaan ketiga, sebagaimana pertanyaan utopis lainnya, adalah tidak. Sesuatu yang berubah harus menghadapi kehilangan, dan kehilangan adalah pengorbanan. Dan untuk penjabaran seterusnya, kembalilah kita kepada penjabaran di atas.

Nah, sekarang bayangkan jika kita bisa mengaplikasikan konsep ini kepada sebuah negara berawalan huruf I di Asia Tenggara yang, setiap detik dinamikanya, selalu membawa perubahan-perubahan. Apakah kira-kira akan merumitkan atau menyederhanakan keadaan?