Sedikit spoiler di awal perjumpaan kita, bahwa sebagian besar isi tulisan di bawah ini berisikan pernak-pernik kehidupan nyata di dunia (Luna) Maya. Paragraf-paragraf selanjutnya itu ditulis tidak seperti biasanya, karena kebanyakan ber-ingredient renungan penulis selama mendekam di kos aja yang dikemas secara vulgar.

Renungan itu kurang lebih tak jauh dari pengalaman-pengalaman indrawi dari matanya si penulis secara langsung—saat pertunjukan live via daring belakangan nyampah di YouTube atau sebagian besar dibuang di grup-grup WhatsApp lewat selebaran poster yang mendarat, bahkan terkadang acarane ora mutu, gor ngentek-ngentekne kuota internet #wongsugeh.

Term pertunjukan sengaja saya ambil secara serampangan tanpa menyelami lebih dalam arti katanya, ra sah protes. Usut punya usut nih, boleh jadi beberapa tahun ke depan—A New Normal After Pandemi Covid-19—produksi “sampah” daring ini bisa melebihi eksistensi sampah plastik di jagat raya. Kok bisa? Monggo bisa diulik secuplik perilaku anak-anak milenial dalam tulisan sahabat Qureta Abul Muamar, Gabriel Kristiawan Suhassatya, dan Petrus Pit Duka Karwayu.

Ada empat bab yang akan di bahas dalam uraian berikut. Bab I tentang Calon Pemirsa, Bab II tentang Calon Pembicara, Bab III tentang Penyelenggara Pertunjukan Daring, dan Bab IV Penutup alias Basa-Basi. Keempatnya saling berelasi walaupun pengemasan redaksinya cenderung santai, receh, dan terkadang menjijikkan. Mari kita simak.

BAB I Rupa Pertunjukan Live via daring: Calon Pemirsa 

Calon pemirsa cukup mengganti uang nonton dengan kuota internet. Jadi kalau ada webinar yang latah menuliskan kata gratis di posternya, maka sudah dipastikan itu hoaks.

Calon pemirsa cukup me-muted suara atau video kalau pakai alat kontrasepsi macam ZOOM atau WebEx, “Kui mergo rupamu ki elek cuk,” dikecualikan bagi pemirsa yang punya nama pertama Ra; misal Ra Mandi, Ra Mbojo, Ra Klambenan, Ra (Sah) Mbayar, dan Ra (imu) Mirip Knalpot.

Calon pemirsa dibebaskan dari norma kesopanan. Boleh pakai rok mini, atasan tali kutang, atau tanpa benang pemintal sekalipun. “Reti ra, kui mergo penampilanmu selama di dunia nyata ki gor nyampah lek disawang. Wes to, percoyo karo aku, ra sah macak. Eman-eman bedakmu.”

Calon pemirsa dibebaskan dari norma perilaku. Bisa jungkir balik, rebahan, atau terlentang. Yang tahu posisimu hanya kamu dan Tuhanmu. Itu pun kalau Tuhanmu tak kehabisan kuota internet saat itu.

Calon pemirsa dibebaskan mau tahan beberapa menit atau jam sampai kamu keluar dan puas menggapai titik klimaks. “Kalau tidak tahan mau keluar, disambi sek karo mangan kripek tur ojo lali jambalane micin.” Keluar dari pertunjukan live lo kui maksudte. Istigfar!

Calon pemirsa dibebaskan dari norma ketidaksenonohan. Bisa sambil ngupil, garuk-garuk pantat sampai ledes, atau boker tanpa bilas.

BAB II Rupa Pertunjukan live via daring: Calon Pembicara

Bagi sebagian dosen yang sudah berjerih payah dandan dan berginju manja, tidak salah juga, tapi jangan baper ya kalau mahasiswamu nongkrong di bilik perenungan sambil mendengarkan kuliah daringmu.

Bagi sebagian pembicara yang sudah menyiapkan materi presentasi, mau biasa aja atau semenarik apa pun presentasinya, jangan pernah lelah ya untuk menebar manfaat karena sebagian pendengar kadang abai dengan celotehmu.

Bagi siapa pun Anda yang mau live webinar atau semacamnya, percayalah bahwa hal ini tidak bisa disangkal bahwa Anda hanya akan menatap benda mati yang dinamakan laptop, komputer, atau smartphone.

Bagi siapa pun Anda di dunia, percayalah bahwa Anda sebenarnya ngomong “sendiri” di depan perangkat Anda. Masih percaya dengan retorika bahwa para pemirsa itu “human”?

BAB III Rupa Pertunjukan live via daring: Calon Penyelenggara

Percayalah yang ribet menyiapkan pertunjukan itu si penyelenggara atau biasanya disebut sebagai host.

Percayalah, selain host, para pembicara pun juga ribet menyiapkan materi atau tetap stay cool di depan benda mati.

Percayalah bahwa host atau co-host enggak akan dilihat kinerjanya oleh calon pemirsa apalagi oleh calon-calon sarjana. Biasanya hanya akan “dicemooh” dengan komentar nyiyir netizen: “Suaranya putus-putus, mas. PowerPoint-nya enggak jalan, atau tolong mas/mbak suaranya di-muted.”

Percayalah bahwa moderator bisa jadi bagian dari penyelenggara. Sabar ya, Anda juga akan masuk daftar tunggu terkait orang-orang yang juga paling ribet. Anda dituntut aktif dan mau enggak mau bisa handle tuh jalannya acara via daring.

Percayalah bahwa sebagian penyelenggara pertunjukan itu bokek, alias enggak punya duit buat bayar moderator apalagi pembicara. Untung kagak, rugi jelas iya, karena kuota internet habis, boro-boro diganti, diucapin terima kasih, iya #Kampret.

BAB III Penutup

Bagi Anda yang sudah tidak sabar berkomentar, silakan tuliskan unek-unek Anda pada kolom komentar di bawah ini. Pastikan komentar itu berasal dari lubuk hati terdalam dan jangan lupa pikirkan kata-kata yang paling tepat untuk “menghujat” isi tulisan ini. Satu dua tiga, kutunggu komentarnya!