Diplomasi merupakan salah satu cara dari suatu negara untuk meraih kepentingan nasionalnya. Salah satunya melalui diplomasi Soft Power yaitu dalam bidang pendidikan maupun kebudayaan yang bermanfaat untuk memperkuat Kredibilitas negeri dan meningkatkan sumber daya manusia.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tahun 2015-2019 disebutkan, “Menetapkan pembangunan secara menyeluruh dengan menekankan pembangunan keunggulan kompetitif perekonomian yang berbasis SDA yang tersedia, SDM yang berkualitas, serta kemampuan IPTEK” (kemdikbud 2014).

Seiring dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi juga turut mengalami perubahan. Agar terwujudnya pendidikan yang berkualitas khususnya bagi para pelajar maupun mahasiswa di Indonesia, pemerintah pun melakukan hubungan kerjasama melalui program pertukaran pelajar.

Program pertukaran pelajar bisa menjadi alat diplomasi suatu negara, khususnya Indonesia. Dengan keberagaman budaya yang dimiliki dan keindahan alamnya, menjadi daya tarik bagi masyarakat di kancah internasional untuk mengenal kebudayaan Indonesia, salah satunya melalui program pertukaran pelajar.

Siapa yang tidak tertarik untuk mendapatkan pengalaman belajar di luar negeri, dan menambah wawasan baru mengenai negara lain sekaligus menambah kemampuan berbicara Bahasa asing? pastinya banyak yang ingin merasakan kesempatan ini.

Student Exchange atau Pertukaran pelajar merupakan program yang banyak disenangi para pelajar maupun mahasiswa. Contohnya di Indonesia sendiri program pertukaran pelajar seperti AFS yang sudah ada sejak tahun 1956.

Ada pula program pertukaran pelajar yang diluncurkan oleh Kemdikbudristek, yaitu Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA). Pemerintah membuka kesempatan bagi 1000 mahasiswa S1 di seluruh Indonesia yang tertarik merasakan pengalaman belajar di luar negeri selama 1 semester.

Banyak orang menyorot program pertukaran pelajar hanyalah kegiatan akademik, padahal disamping itu ada juga kegiatan non-akademik. Program ini memungkinkan para pelajar untuk merasakan pengalaman belajar di sekolah ataupun universitas luar negeri dan bisa memperkenalkan budaya Indonesia sekaligus mengenal budaya asing.

Bening salah seorang mahasiswa IPB dalam akun Youtubenya mengungkapkan pengalamannya mengikuti pertukaran pelajar, ia mendapatkan kesempatan sebanyak tiga kali untuk merasakan experience pertukaran pelajar ditiga negara berbeda.

“sejak kecil aku senang dengan yang namanya traveling, dan sewaktu kuliah aku menemukan banyak sekali opportunity tidak hanya untuk traveling, tapi juga tinggal lebih lama, merasakan culture mereka, dan banyak relasi yang didapat sekaligus berkesempatan belajar disana” tutur Bening.

Melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pemerintah menjalankan kerjasama luar negeri yang dimiliki dengan mengirim pelajar, mahasiswa, staf pengajar, dan tenaga pendidik Indonesia ke luar negeri.

Pemerintah semakin melebarkan sayapnya dalam memperkenalkan budaya Indonesia di luar negeri dengan membuka Rumah Budaya Indonesia di hampir 10 negara pada tahun 2013.

Saat ini, program pertukaran pelajar meningkatkan pemahaman antar budaya dengan cara yang lebih dalam dari sebelumnya. Memungkinkan orang-orang dari seluruh dunia untuk berbagi nilai dan ide mereka sekaligus membantu menciptakan pemikiran baru bagi pelajar.

Sebagai individu yang melakukan pertukaran pelajar, nantinya akan menghadapi tantangan untuk menyesuaikan diri dengan budaya, memahami cita-cita dan nilai-nilai masyarakat, dan memahami cara kerja negara. Melalui proses ini, pelajar dapat mempelajari aspek-aspek berharga dari negara tempat dia tinggal, serta perbedaan utama antara budayanya sendiri dan budaya negara lain.

Pertukaran pelajar memudahkan individu untuk memahami budaya orang lain Meskipun terkadang dapat mengandalkan buku-buku tentang budaya dari suatu negara, tetapi tidak ada yang lebih baik untuk memahami budaya negara lain selain hidup dan berinteraksi dengannya.

Mengetahui berbagai budaya melalui pertukaran pelajar terbukti menguntungkan saat melakukan negosiasi, karena orang yang sudah mengetahui budaya dan bahasa negara lain dapat membangun jembatan dan hubungan dengan pihak lain dengan lebih mudah.

Seperti yang dikemukakan oleh Salacuse (1999), orang-orang dari negara yang berbeda cenderung menangani masalah secara berbeda. Meskipun dalam studinya ia berfokus pada negosiator internasional yang berbicara bahasa Inggris dan berkarir di perusahaan multinasional, anda masih dapat melihat betapa berbedanya beberapa nilai dan konsepsi antar negara.

Susan Hanuningrum dalam tulisannya di Indonesia Mengglobal mengungkapkan bahwa dalam pengalamannya mengikuti pertukaran pemuda mewakili Jawa Barat dan SSEAYP, ia menunjukkan kemampuannya dibidang seni budaya Indonesia dimana pada tahun pertama ia menampilkan Tari Topeng Kelana Cirebon sebanyak 4 kali, pada acara Intern kampus Melbourne University, yaitu The Annual Satay Festival 2014.

“Dengan melibatkan diri dalam kegiatan komunitas seni Indonesia yang ada di negara tujuan, bisa menjadi kebanggan tersendiri ditambah mewakili Indonesia dengan menampilkan seni budaya yang dimiliki di ranah internasional” tambah Susan.

Oleh karena itu, negara-negara harus terus mempromosikan program pertukaran, yang secara langsung dapat meningkatkan populasi mereka dan perusahaan di dalamnya, menciptakan siklus internasionalisasi dan pembangunan yang baik, mengartikulasikan kerjasama dan perdagangan di pasar yang berkembang.

Pertukaran adalah sarana untuk tujuan yang lebih baik, di mana kedua negara dan individu diuntungkan. Ini adalah langkah besar menuju internasionalisasi, kerjasama dan perdagangan.

Lebih banyak pertukaran berarti lebih banyak integrasi di dalam negara, karena batas budaya dan bahasa yang kompleks diruntuhkan melalui siswa yang mengetahui dan memahami negara dan orang-orang di dalamnya. Lebih banyak perdagangan dan pembangunan dicapai antar negara, demikian pula kemungkinan perdamaian yang abadi.