Peneliti
3 minggu lalu · 101 view · 3 menit baca · Budaya 42605_93240.jpg
Pexels

Pertolongan Kertas

Ingin sekali menjauhkan anakku dari gawai. Usianya masih pra-PAUD, belum bisa cebok sendiri, tapi ia bisa membuka macam-macam aplikasi digital. 

Saya tahu, ini misi yang tak mudah. Menjauhkan gawai bisa bermakna merampas dunianya. Anak-anak menemukan banyak mainan di sana, dan terjebak. Ia dikuasai gawai.

Menyadari buruknya dampak paparan radiasi bagi perkembangannya, kuasa gawai menimbulkan kekhawatiran. Nenek sering menegurnya, ia khawatir cucunya telah dirampas oleh mainan yang adiktif itu.

Sejumlah riset telah merekomendasikan agar anak dijauhkan dari gawai. Dampaknya dapat menyebakan pertumbuhan otak anak terlalu cepat, juga tumbuh kembang yang lambat. Obesitas, kurang tidur, kelainan mental, dan risiko sifat agresif. 

Kalaupun gawai jadi media belajar, proses belajar itu tidak berkelanjutan, bahkan memungkinkan mereka terkena pikun digital, menurunkan konsentrasi dan ingatan. (kompas.com, 12/5/2014)


Seorang kawan di kantor menceritakan anaknya yang diopname di rumah sakit karena matanya memerah setelah kelamaan main gawai. Saya ingat si kecil di rumah. Jerat gawai itu harus segera dilepaskan.

Tapi, setiap saat ia selalu berhasil merebut perangkat beradiasi itu, tanpa kuasa untuk menentangnya. Salah kami juga, gawai sering kali kami gunakan untuk meredakan tangisnya. Atau, di saat kami orang tuanya sibuk, gawai terbukti berhasil menenangkannya. Gawai hampir sempurna untuk meredam segala rewelnya.

Ia mahir memainkan jari-jarinya di atas layar. Ia bisa dengan cepat berpindah permainan ketika jenuh. Ia sering membuka aplikasi YouTube, mencari tayangan masak-masakan, barby, atau Masha and The Bear. 

Ia tahu, meski tak dibekali kuota, ia tetap bisa menonton tayangan favoritnya di YouTube dari daftar yang sebelumnya telah di-download.

Pertolongan Kertas 

Misi melepaskan anak dari jerat gawai sebenarnya juga perang melawan diri sendiri. Bukankah pelajaran terbaik bagi anak adalah meniru apa yang mereka lihat? Mereka mengenal dan akhirnya menguasai (atau dikuasai) gawai adalah karena mereka melihat orang lain melakukannya.

Hingga suatu hari, setelah melewati beberapa kali percobaan, saya berhasil mengalihkan perhatiannya berpaling dari gawai, menawarinya dunia lain pada selembar kertas.


Di atas lantai di samping meja kerja, saya menaruh beberapa lembar kertas putih, dan meletakkan di atasnya pensil warna-warni. Dan mulailah saya beraksi. Saya harus menulis sesuatu atau menggambar, meski saya sadar tak mahir menggambar.

Tapi, ada sesuatu yang harus saya tunjukkan ke si kecil demi menarik perhatiannya. Saya pilih pensil berwarna terang; mencoret-coret, menggaris-garis beberapa lengkungan atau lingkaran-lingkaran; beberapa titik-titik dari pensil yang berbeda warna.

Hari pertama, si kecil mulai merespons. Saya tahu dia melihat apa yang saya lakukan dengan kertas-kertas itu. Dia mendekat dan melihat apa yang saya gambar di atas kertas itu. Ia mencomot satu buah pensil dan ikut mencoret juga.

Hari kedua, sebelum ia menyentuh gawai, saya kembali menarik perhatiannya dengan kertas-kertas. Kali ini bukan hanya ditemani pensil-pensil warna. Kertas-kertas itu saya lipat untuk membentuk kapal, pesawat, juga kodok.

Saya melihat dia begitu serius memperhatikan kertas-kertas itu. Ia tertawa lebar saat melihat kodok kertas itu bisa melompat saat tekanan pada ekornya dilepas. Saya rebut tangannya dan memberinya kapal kertas mainan itu. Ia senyum sumringah. Lalu, saya memintanya untuk mewarnai kapal kertas itu. Ia mencoretnya dengan antusias.

Tak butuh waktu lama, kapal kertas yang tadinya polos, kini berganti dengan motif rainbow. Saya lihat dia mulai menikmatinya. Ia juga menirukan gaya ayahnya menerbangkan pesawat kertas, mengusap lalu meniupnya, kemudian melemparnya ke langit-langit.

Menemukan dunia anak pada selembar kertas 

Saya pikir, langkah mengalihkan si kecil dari jerat gawai sudah menunjukkan hasil. Meski saya sadar, ini butuh waktu lebih lama lagi. Apalagi, televisi di rumah yang setiap saat bisa ditonton anak-anak adalah dunia yang dipaksa masuk ke dalam kepalanya.

Saya tahu, pertolongan kertas mengalihkan anak-anak dari gawai butuh intensitas dan komitmen dari kami, orang tuanya. Mereka tak boleh terlalu sering melihat gawai itu dimainkan, juga kami. Kami, orang tuanya, sepakat bahwa gawai harus steril dari kamar tidur dan meja makan. Perangkat beradiasi itu harus ditaruh jauh dari jangkauan mereka.

Kembali ke kertas-kertas hasil coretan kami. Saya berbicara ke si kecil, ada banyak hal yang bisa dibuat dari lembaran kertas putih itu. Seperti dirinya yang polos, bisa menginginkan banyak hal atau bermimpi menjadi apa saja.  


Bagi anak-anak, yang mereka coret di atas kertas adalah ekspresi imaji. Itu bisa mewakili apa yang telah dilihat dan didengarnya, juga sekaligus apa yang belum dipahami. Makna kertas kosong inilah yang saya pikir harus ditanam di kepala anak-anak yang belajar.

Mereka seharusnya tahu, dunia yang mereka kenal terus bergerak, namun tetap bisa ditangkap melaui siluet, coretan warna-warni, atau sebuah frame yang tidak utuh. Anak-anak kita bisa membangun dunianya di atas selembar kertas putih.

Artikel Terkait