Mahasiswi
1 bulan lalu · 47 view · 10 min baca menit baca · Cerpen 90436_73366.jpg

Pertemuanku dengan Dewa

Tanganku gatal memainkan kejailannya untuk segera menorehkan endapan kata yang berjubel dalam fikirku. Okey, sebentar saya dandan dulu setelah itu akan aku leburkan segala hasrat seluruh kata yang ada dibalik kening dan dalam dada kan kutuangkan dalam memorycard laptopku. 

Pagi ini aku bangun pukul 05.15 WIB, dikarenakan ada agenda yang tersusun semalaman untuk pergi ke pasar belanja sayuran di pasar hantu. Pasar hantu kata temanku, iya dulunya berada di dekat perempatan dekat Apotek Maisunnah— Pasar legi. Sekarang direlokasikan ke daerah jarakan bekas rumah sakit.

Aku tidur pukul 00.34 WIB, aku nyaman dengan insomnia yang selalu melekat pada diri ini, aku melembur melahap habis sebuah novel berjudul “Kata untuk bara-CIKAL” karya Dani Saputra. Aku beranjak dari tempat tidur lalu membuka pintu yang terkunci dan menuju kamar mbak Novi, dia teman kampus satu kelas dengan ku. 

 "Tok tok tok, mbak novi ayok kepasar." 

Sepertinya dia belum bangun dari alam tidurnya. Sekali lagi… 

"mbk nov, ayok."

Kemudian aku tinggal ke kamar mandi untuk mencuci muka bersiap ke pasar membeli beragam nutrisi untuk sarapan di pagi hari.

Aku menunggu dikamar sambil membaca buku sebuah kisah hidup seorang perempuan yang buta dan tuli—Helen Keler. Pada bab pengantar ada sebuah kutipan dari Heler Keller “Hidup tak lain adalah petualangan yang menantang”. Dia seorang gadis yang lahir pada 27 Juli 1880 di Tuscumbia, Alabama Utara. 

Arthur. H Keller dan Kate Adams ialah orang tuanya.  Seorang gadis penyandang tunanetra dan tunarungu yang berhasil dan lolos melewati semak belukar yang gelap dan sunyi. Menembus segala prestasi yang ia miliki dengan keterbatasan fisik yang menyelimuti, namun semangatnya yang luar biasa dengan dukungan orang disekitarnya, beliau mampu mengguncangkan dunia atas prestasi-prestasi yang diciptakannya.

Sekitar pukul 05.25 aku berangkat ke pasar dengannya. Berencana membeli sayur kangkung dan lauk tempe. Karena dirasa selama ini kita kebanyakan makan yang berlemak seperti ayam geprek, ayam bakar, ayam goreng dan soto nya bang pray. Aku dengannya berjalan mengapeli beberapa pedagang satu ke pedagang yang lain. 

Mata dan telingaku bernostalgia mengingat dan membuka tirai beberapa bulan yang lalu, dimana dulu sangat sering berbelanja di malam hari setelah sepulang kerja di Apotek. Mampir ke pasar membeli beberapa kebutuhan pokok yang diperlukan dapur kos ku untuk dimasak pagi hari. Ekonomis sekali, Rp. 15.000-, sudah mendapat beberapa jenis bumbu dan sayur.

 “Ayamnya mbak.” Salah satu pedagang ayam potong menawarkan dagangannya.

Aku hanya mengangguk, dan melempar senyum. Terus berjalan dan melihat beberapa sudut untuk memfokuskan pada sebuah dagangan yang bernuansa hijau. Melirik kesana kemari, hingga menemui beberapa sayuran hijau, namun bukan sayuran yang kita inginkan. Sayuran hijau itu ternyata seledri dan bawang prey. Kita terus jalan menuju ke seorang bapak yang menghidangkan tumpukan jenis sayur hijau segar. Diantaranya ada daun ubi jalar, bayam dan kangkung.

“Eh, kangkung mbk. Tapi kangkung sawah.”

Yawes, gapapa nik.” (Iyaudah, gapapa nik).

Pak, setunggal pinten nggeh?.” (Pak, Satu berapa ya?).

800 mbak.”

Ketika berdiskusi kecil tanpa sepengetahuan bapak itu.

“He, 800 nik. Kok murah banget sih. Belum motong disawahnya, ngangkutnya.”

“Eh iya mbak. Beli berapa ini?, masa iya beli satu aja. Beli dua aja deh.”

“Yaudah gapapa beli dua, dikasih uang Rp. 2000-, aja.”

Bapaknya menyela pembicaraan kami. Hehe…

“Beli dua Rp. 1500-, mbak.”

Kami yang tadinya mau menawar dua ikat Rp. 2000-, bapaknya memberikan harga demikian. Sebenarnya bisa didapatkan dengan harga Rp.500-, jika pandai menawar harga. Tapi tak apalah, toh kita juga tinggal memasak tidak mencari dan bersusah payah mengambil, memotong dan mengikat kemudian dibawa kepasar.

Enggih sampun pak beli kaleh.” (Ya sudah pak beli dua).

­Bapak memasukkan dua ikat kangkung kedalam kantong plastic. Aku menyodorkan uang selembar Rp. 2000-, dan mendapat kembalian Rp. 500-,. Lalu membeli kecambah jenis toge untuk tambahan. 

Lalu kami membeli rempah-rempah penyedap rasa seperti bawang merah, bawang putih, cabai, kecap saori dan royco serta satu gelas minyak goreng untuk menumis. Ternyata bawang merah sedang langka, mungkin sedang tidak musimnya sehingga harga juga tinggi. Pada akhirnya kami tidak membeli bawang merah. Kemudian menuju parkiran kami mampir membeli satu batang tempe, kemudian kita kembali ke kost.

Dalam perjalanan pulang kami mengobrol dan membandingkan serta mengkalkulasi pengeluaran sehari-hari mulai dari sarapan pagi hingga makan malam. Saat sarapan biasanya kita membeli semangkuk bubur ayam dan segelas air seharga Rp. 9000-, kemudian saat waktu dzuhur—Makan siang kami Delivery Order mulai dari Nasi Ayam Sambal Ati, Ayam Bakar, Ayam Geprek, Salad Buah, Mie Gacoan, dll. 

Rata-rata harga mulai dari Rp. 10.000-, sampai Rp. 12.000-,. Ini baru makan belum lagi pesan minum dikantin, seharga Rp. 2500-. Sampai Rp. 4000-,. Kira-kira dalam sehari kami mengeluarkan uang sebesar Rp. 38.000-, per orang.

Kita bandingkan dengan pengeluaran hari ini. Dua ikat kangkung seharga Rp. 1500-, bumbu penyedap rasa seharga Rp. 3000-, bawang putih dan cabai seharga Rp. 5000-, segelas minyak goreng seharga  Rp. 3000-, dua butir sosis seharga Rp. 2000-, tempe satu batang seharga Rp. 1000-, dan bayar parkir sepeda motor Rp. 1000-,. 

Sehingga totalnya Rp. 16.500-,. Beras sudah membawa dari rumah. Jumlah total pengeluaran sekian itu jika kita bagi berdua sehingga didapatkan per anak mengeluarkan uang senilai Rp. 8.250-,. Itupun ternyata bisa kita gunakan dua kali makan. Sarapan pagi dan membawa bekal makan siang. Dan masih ada sisa sayuran satu ikat untuk diolah di pagi hari berikutnya.

Rencana setelah sarapan kami baru mandi. Jam di Handphone masih menunjukan kurang lebih pukul tujuh. Membersihkan sisa makanan dan kembali ke kamar masing-masing. Aku kembali melanjutkan membaca buku tentang kisah hidup Helen Keller. Alarm ku setting  pukul 07.35 WIB. 

Lembar demi lembar kusantap isi buku itu dengan mengikuti ritme detak jantung yang kurasa sedang berusaha mengimbangi si pikiranku, ada beberapa hal berlalu lalang di alam fikirku diantaranya menganalisa beberapa hal. Pertama, kenapa Hp juga jatuh di malam jumat ketika hendak menuju tempat pelatihan sebuah kaderisasi formal, ada apa ya?. 

Kedua, sehingga tidak berkomunikasi intens dengannya, Hp tak kunjung datang, padahal kamis 28 Maret berencana berkunjung ke kabupaten Pamekasan tempat ia dilahirkan. Dia bilang bagaimana nanti jika tidak membawa hp. Aku menjawab memakai insting saja lah dan hanya tangan kosong. Kirim alamat tempat kos saja sebelum berangkat dan kurang lebih pukul lima sore dari terminal ponorogo. 

Nanti biar di kira-kira pukul berapa saya sampai di terminal Pamekasan. Ketiga, tentang rencana apa yang Tuhan berikan kepada saya, apakah Tuhan memberI sekenario perjalananku berproses mengenalmu demikian. Keempat, saya teringat dengan kisah yang tersajikan dalam buku “Kata untuk Bara”—Cikal, karya Dani Saputra. Beliau alumni IAIN Ponorogo. 

Buku ini cetakan pertama, Februari 2019.  Desain Cover tercantum atas nama Maulana Ardianto, sepertinya tidak asing lagi dengan nama itu, iya dia kakak tingkatku yang baru terwisuda pada Agustus 2018. Saya rasa antar keduanya saling mengenal dalam sebuah komunitas pendaki, Kak Maul dan kak Dani.

 Dalam buku ini menceritakan tentang perjalanan antara Bara dan Rumi yang saling menunggu titik temu. Bara sebatang kara diponorogo sebelumnya ia hanya tinggal bersama neneknya, satu-satunya harta yang dimilikinya, namun neneknya telah meninggal dunia saat Bara sedang berlangsung menjalankan proses pengabdian mengajar di daerah terpencil Kalimantan. 

Sedangkan Rumi juga sama, ia tinggal bersama Bapaknya, ibuknya telah dipanggil Allah Swt. Rumi bekerja di daerah Wonokromo sebagai editor. Rumi sering menggoreskan pena untuk menumpahkan segala rasa kegelisahan dan keresahannya untuk menunggu kabar kepulangan Bara. Terminal  Surabaya Bungurasih. Tempat dimana ia saling melepas rindu.

Begitupun denganku dan juga Dewa. Aku Mahasiswi di Akademi Analis Farmasi dan Makanan Ponorogo dan ia Mahasiswa Manajemen Ekonomi di Universitas Madura. Dia bisa di bilang sosok yang otoriter. Aku dan Dewa seorang anak yang berlatar belakang dari keluarga Broken Home. 

Aku dan Dewa sama-sama tinggal bersama Kakek dan Nenek sejak kecil. Ibuku telah menikah dan tinggal di Tanah Kalimantan. Bapakku pun telah menikah dan tinggal di Surabaya. Ibunya Dewa ada di luar negeri dan Bapaknya telah berkeluarga dan tinggal di Pulau Bali. Entahlah ini sebuah pertemuan yang tidak disengaja. Aku dan Ia beda pulau, antara Jawa dan Madura. Kami bertemu dalam sebuah forum Ketua Jawa Timur di Group whatsApp. 

***

Hari yang kami tunggu akhirnya tiba. Hatiku berdebar sangat hebat, hingga alam disekitarku tak kuasa menahan debaran rindu itu. Jika isi hatiku mampu terdengar oleh alat indera pendengar manusia, mungkin akan berisik mendengarnya. Kau tau? Seperti suara gemuruh kawah gunung Bromo dikala itu.

Saat di Laboratorium praktikum mata kuliah Analisa air, makanan dan minuman (Amami). Lagi-lagi mecahin sebuah alat kedua kalinya di mata kuliah yang sama. Kali ini aku mecahin pipet volume ukuran 10 ml. Ini nih yang buat kantong anak farmasi cepat kandas.

Taarrr…

“Lah.” Aku syock.

 “Anik…” Suara temanku bersorak hingga menggema ke seantero Laboratorium.

“Apa nik?.” Salah satu teman penasaran, benda apa yang saya jatuhkan.

“Pipet volume 10 ml bos.”

“Ahahaha Totalan wes.” Gelak tawa dan gurauan teman-teman.

"Lah kamvret totalan lagi. Yang kemarin aja belum aku ganti.”

Lalu, kupunguti pecahan kaca pipet volume yang berserakan di bak pencucian. Seharusnya ketika hendak membersihkan saya menjepit pipet volume bersamaan dengan pipa sedotnya. Karena yang saya pegang hanya bagian pipa sedotnya, jadi ya melesat jatuh.

Amami merupakan mata kuliah yang baru di tahun kedua kuliahku pada semester IV. Pada mata kuliah ini sangat sulit katanya, berhati-hatilah dan jangan sekali-kali membolos pada mata kuliah ini. Kenapa? Karena bersinggungan langsung dengan sampel yang ada di pasaran. Selain itu prosesnya pun cukup ribet dan membutuhkan waktu amat lama. Lima jam dalam 3 SKS.

Prosesnya yang panjang, mulai dari mencari jurnal, membuat jurnal, menghitung sediaan reagent yang dibutuhkan, pelaksanaan membuat reagent setelah perhitungan, pengenceran sampel, perlakuan penelitian, menghitung hasil penetapan kadar kemudian pembahasan dan dilanjutkan kesimpulan. Dari situ belum selesai, masih ada Acc  laporan ke dosen pembimbing.

Disela berjalannya praktikum, ada adek kelas yang manggil menyampaikan informasi dari Kak Mukhlis bahwa pukul 15.00 WIB ada rapat koordinasi di kantor KPU. Ya beginilah sedang tidak punya Handphone, jadi merepotkan tetangga sebelah.

Usai praktikum beres-beres membersihkan alat. Karena psikologi saya sedang tidak stabil, memilih minta bagian mengembalikan alat saja dan tidak ikut mencucinya, takut kujatuhkan lagi. Lalu melipat jas lab dan langsung kabur dari kampus karena jam sudah menunjukan pukul 15.15 WIB. Aku terburu-buru menuju ke kantor KPU.

***

Sesampainya di kantor KPU ternyata acara masih belum dimulai. Ada kak Mukhlis, Usda dan salah satu rekan dari teamku duduk di teras. Saya rasa sedang menunggu. Aku sedikit mengobrol dengan Kak Mukhlis, kira-kira sampai jam berapa rapatnya. Khawatir jika melebihi jam 17.00 WIB, aku bilang dan pamit mau ada acara Observasi  di Madura. 

Kemudian kami berempat masuk bersama ke ruang rapat. Saat rapat sedang berlangsung hanya sekedar perkenalan ulang sesama anggota teamwork agar terjalin hubungan emosionalnya dan mudah bekerjasama ketika hari H dan pemaparan terkait persiapan teknis.

Setelah acara inti selesai, lanjut acara santai bersenda gurau. Tapi, jam menunjukan hampir pukul 17.00 WIB, aku pamit undur diri kepada leader team work ku. Karena beliau bertanya hendak kemana, jawabku masih tetap sama, yaitu Observasi ke Pulau Madura. Dapat sangu sebuah ucapan “Hati-hati dalam perjalanan.” Dan diharapkan sebelum simulasi sudah pulang.

***

Sampai di kost prepare seadanya. Mandi sebentar. Berangkat ke terminal Seloaji Ponorogo pukul 17.15 WIB. Karena tidak ada orang di kost untuk meminta bantuan mengantar ke terminal, bawa motor sendiri dan dititipkan di penitipan sepeda motor dekat terminal. Tidak usah merepotkan orang.

Berjalan menuju jejeran bus memilih jenis patas agar lebih singkat dan cepat. Awalnya aku tidak berniat untuk menghubunginya, agar dia kepikiran. Jadi berangkat atau tidaknya. ­Planning-ku menghubunginya nanti saja jika sudah sampai Pamekasan. Ya akhirnya gak tega. Aku telfon bahwa aku sudah di terminal Seloaji.

Tut… tut… tut… Sedang memanggil.

“Enggih.” Jawabnya singkat.

 “Ya aku sudah di terminal.” Jawabku.

“Loh sudah berangkat?.” Tanyanya.

“Iya, sudah kok.”

“Terus HP siapa ini?.”

“Iya HP temenku.”

“Oalah, oke deh.”

"Lagi dimana?.” Memastikan posisi.

“Lagi dirumah.”

"Oh oke.”

Klik. Panggilan ku matikan.

Apa yang sedang kamu rasakan saat itu? Sedang menunggu juga kah? Tidak sabar juga kah? Saya harap sama seperti apa yang rasa. Tanggal 28 Maret, hari yang ditunggu-tunggu dua hati merindu temu yang terbentang dimensi jarak, ruang dan waktu. Biasanya sekadar merindu lewat Vidcall. Kali ini benar merindu menuju kota kelahiranmu. Bus melaju beranjak dari terminal pukul 17.30 WIB.

Ini pertemuan yang ketiga kali nya. Pertemuan pertama saat di basecamp dekat masjid Kampusku, kala itu ia sedang mengantar anggotanya pelatihan di Madiun dan akhirnya mampir di basecampku. Pertemuan kedua saat menjemputku di masjid Agung Al Akbar Surabaya, dimana kala itu aku beserta rombongan kampus beristirahat setelah berkunjung ke suatu industri Makanan di daerah Sidoarjo. Dan pertemuan ketiga aku berkunjung ke kota kelahiranmu. Pertemuan pertama katamu merupakan soal rasa penasaran. Pertemuan kedua entahlah aku menyebutnya apa. Dan pertemuan ketiga tidak mampu terdefinisikan melalui kata-kata. Hanya menuruti kemauan isi hati.

***

Pukul 22.00 WIB aku tiba di Terminal Bungurasih Surabaya. Hatiku semakin deg-deg tak karuan. Aku mengambil Handphone dalam tas ku dan mengabarinya bahwa aku telah sampai di terminal Surabaya. Lalu aku berjalan menuju tangga dan mencari bus jalur Pamekasan.

Kurang lebih dua sampai tiga jam perjalanan menuju kabupaten Pamekasan. Pukul 00.40 WIB aku telah sampai. Ku ambil Handphone dan menelfonnya. Aku menunggu dipertigaan dekat Terminal Pamekasan. Tak lama ia pun datang dan membawaku ke kost nya. Dalam perjalanan menuju kost tak banyak yang kami obrolkan. Dengan hati yang semakin gemetar, antara percaya dan tidak aku telah sampai sungguhan di Pamekasan.

Sampai di kost aku mencuci tangan, kaki dan cuci muka dan beristirahat. Lega dan ringan. Bongkahan rindu yang kutahan melebur dan rontok tatkala tanganku merangkul dadamu. Saling tatap dan ia membelai rambutku hingga tak terasa aku telah larut dalam tidur.

Artikel Terkait