Hal terbaik mencintai, melihat seseorang yang dicintai bahagia. Meskipun bukan aku yang berada disisinya. Bukannya aku telah membuatnya bahagia sekarang?

Pergulatan perasaan muncul dalam relung jiwa. Antara benci dan rindu bercampur jadi satu. Entah mana yang lebih dominan. Tapi yang pasti, imun di hatiku telah cukup kuat untuk menangkal virus-virus cemburu yang hinggap. Biarkan saja, semakin tersakiti, semakin indah jalan cerita ini.

Ingin rasanya aku memelukmu. Mendekapmu erat dan mengecup lembut keningmu. Merebahkan segala kegundahanku dalam pangkuanmu. Menenangkan egoku dalam hangatnya sikapmu. Namun, itu tiada lagi, yang ada hanyalah ingatan tentang kejamnya dirimu saat menghempaskanku. 

Entah apa yang ada di benakmu ketika kau tega mengkhianati apa yang telah kita bangun, mengkhianati apa yang kita cita-citakan. Melepaskan semua begitu saja. Berganti dengan komitmen yang baru.

Semudah itukah kau berpaling? Aku bersedih karena apa yang telah aku jaga, aku rawat, dan aku usahakan untuk masa depan kita, akhirnya kau balas dengan sebuah pengkhianatan.

Aku telah melakukan apa yang kamu inginkan. Aku juga melakukan apa yang tidak kamu suka. Kau tahu, sekarang dalam sehari aku hanya menghabiskan satu gelas kopi. Itu kulakukan atas permintaanmu beberapa waktu lalu. Kamu menjelaskan panjang lebar masalah kesehatanku jika aku minum kopi melebihi batas wajar.

Ahh ya, aku sudah bisa berpose dengan senyum manis di kamera saat kamu meminta kita selfie. Sebelumnya, kamu yang paling tahu kalau aku ini paling tidak bisa tersenyum. Semua karenamu, dan denganmu aku bersedia untuk segalanya.

Padahal, aku tidak menaruh harapan bahwa kau akan membalas cintaku. Aku hanya berusaha membuatmu nyaman. Bersenda gurau bersama, tertawa, bahkan berdiskusi hal-hal yang rumit. Berdiskusi kenapa perempuan kalau selfie itu kepalanya miring. Ya, kamu suka membahas hal-hal rumit di mata laki-laki.  

Aku memang belum mapan. Saat menjemputmu saja, hanya kendaraan roda dua yang bisa kubawa. Berbeda dengan dia yang tiap bertandang ke rumahmu memakai kendaraan yang rodanya berjumlah empat.

Banyak orang berfikir bahwa Cinta itu buta. Tapi bagiku, kalimat itu belum selesai. Cinta itu buta, tapi tidak tuli. Ia dapat membedakan mana suara mesin Honda Be*t dengan Honda Br*o

***

Sebuah pertanyaan, Kau masih mencintaiku? Bila tidak, kenapa cinta itu bisa cepat sekali berubah? Bila jawabannya adalah kau masih mencintaiku, masih maukah kau mewujudkan cinta kita? Memperjuangkan cinta kita untuk kembali bersatu.

Kian hari, akan kian berat ujian cinta kita. Kamu pasti memahami itu. Selama kita bersama, beragam masalah telah kita alami. Dan seberat apapun masalah itu, bisa kita atasi dengan komunikasi serta hasrat untuk bersama yang begitu kuat.

Kamu jangan langsung ge’er aku berkata demikian. Aku berkata demikian bukan bermaksud mengemis cinta darimu. Mengemis-ngemis hatimu agar kau kembali padaku. Tidak. Aku hanya ingin memastikan, apakah hatimu telah mantap untuk memilih dia.

Sudah tidak ada hasratku untuk kembali padamu. Tapi, sejujurnya aku masih menyayangimu. Aku tidak bisa naifkan diriku sendiri, yang terbaik memang sukar untuk dilupakan. Dan sampai saat ini, aku masih menempatkan kamu sebagai yang terbaik di hatiku.

Tetapi aku kecewa terhadapmu. Disaat aku memulai untuk membangun kehidupanku, kau malah pergi. Disaat aku membutuhkan seseorang untuk berbagi, kamu malah khianati.

Aku seperti seorang yang linglung.  Berjalan tak tau kemana. Mengikuti angin, terdampar dalam kesepian, dan hati yang lara. Aku membutuhkan kompas untuk menentukan arah hidupku. Aku butuh penyejuk, yang bisa melegakan lara hatiku. Lantas, apa yang bisa aku lakukan?

Aku hanya tau, aku harus terus berjalan. Aku tak peduli seberapa banyak airmata yang jatuh, menggenangi jalanku. Membuat jalan ini licin, dan membuatku jatuh berkali-kali. Aku harus terus bangkit, berjalan, dan berlari. Biar tidak ada yang melihat bahwa ada airmata yang jatuh.

Aku harus berlari. Lebih baik, zat cair yang ada di dalam tubuhku ini keluar sebagai bulir-bulir keringat daripada keluar sebagai airmata. Aku harus semakin kencang berlari. Agar energiku habis untuk mencapai garis finis kesuksesanku, bukan terserap habis untuk meratapimu.

Panjang lebar aku ungkapkan apa yang menjadi penyebab sesak di dada ku selama berbulan-bulan ini. Sejurus kemudian, Viona pun membalas,

“Aku minta maaf padamu, Fidz. Perasaanku juga berat ketika harus meninggalkanmu. Berat bagiku untuk memilih. Hatiku padamu, tapi ada hati yang harus aku bahagiakan. Kamu tau kan aku anak tunggal? Bila bukan aku yang membahagiakan orang tua ku, lantas siapa lagi, Fidz? Sebagai seorang anak aku pun harus patuh dan berbakti terhadap orang tua ku. Kebahagiaan mereka adalah kebahagianku”, ujarnya.

“Keyakinan kita juga berbeda, Fidz. Sulit bagi kita menyatukan. Menikah bukan hanya urusan kita berdua, tapi melibatkan dua keluarga. Aku tak yakin keluarga kita bisa terbuka menerima perbedaan ini”.    

“Sekarang aku harus belajar mencintainya. Sulit bagiku untuk mencintai orang yang muncul secara tiba-tiba dalam hidupku. Sampai aku harus mencerna, apakah dia yang dikirimkan Tuhanku untukku?”.  

“Kamu tau kenapa selama ini aku tidak pernah menghubungimu? Tidak kirim pesan singkat, ataupun telpon kamu. Itu karena aku tidak ingin mengingat-ingat masa lalu, Fidz. Ketika berbicara sama kamu, aku jadi semakin sulit untuk melupakanmu”, ucap Viona sambil terisak.

Kucerna semua ucapan yang keluar darinya.

“Tuhan yang membolak-balikan hati, Na. Rencana Tuhan siapa yang tau? Dia zat yang membolak-balikan hati. Aku tidak menyalahkanmu bila kini kau mencintainya. Selama setengah tahun ini aku mencoba memahami apa yang terjadi. Mencoba memahami dari sudut pandangmu. Menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Terserah Tuhan saja bagaimana memilihkan takdir untukku”.

Aku berdiri, kemudian ku katakan padanya, “Jika kau melihatku sekarang, Ya beginilah keadaanku saat ini, seperti yang terlihat di depan matamu. Kita tidak pernah tau apa yang terjadi tiga atau lima tahun lagi. Siapapun tidak berhak memvonis masa depanku, kecuali Tuhan. Kau benar, keyakinan kita memang berbeda. Aku yakin, kamu tidak yakin”.

“Sudahlah….”

Aku pun berjalan meninggalkannya. Dalam hati, aku bergumam.  

“Kamu memang benar, kamu bukanlah yang terbaik untukku. Seharusnya aku mengikhlaskan kebersamaanmu dengan pria yang mencurimu. Lalu, mengapa aku masih bersedih dan memburukkan kehidupan ku sendiri?”.

Semoga kau bahagia dengannya. Aku bahagia, akhirnya aku mengetahui jawaban Tuhan atas kegundahanku. Tuhan, ku berjanji, akan kusiapkan diriku. Saat waktunya tiba, aku sudah siap untuk  menjemput perempuan yang Kau pilihkan untuk kubahagiakan dan menemani disisinya.

 Terima kasih Tuhan. Terima kasih Viona.