Pertemuan penting terjadi antara Hamas dan Hizbullah, (7/9), kemarin. Kedua kelompok ini bertemu dalam rangka membicarakan persoalan normalisasi antara negara-negara Timur Tengah dan Israel. 

Hasan Nasrallah, pemimpin Hizbullah bertemu dengan Ismael Haniyeh, pemimpin Hamas, di Ain al-Helweh, sebuah kamp pengungsi Palestina terbesar di Lebanon. 

Pertemuan tersebut merupakan salah satu pertemuan penting ditengah normalisasi negara-negara Arab dengan Israel. Terlebih menyangkut persoalan Palestina. Hamas dan Hizbullah membahas beberapa isu penting, yakni terkait perkembangan politik dan militer di Palestina, Lebanon dan kawasan sekitar lainnya serta ancaman bahaya bagi perjuangan Palestina. Termasuk rencana negara-negara Arab di kawasan Teluk Persia untuk membuka hubungan diplomatiknya dengan Israel.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menyatakan, bahwa Israel kini juga terus menggelar pembicaraan dengan para pemimpin negara Arab dan Muslim lainnya tentang perlunya untuk membuka hubungan diplomatik. Terutama setelah terjalinnya hubungan diplomatik Israel dengan UEA pada 13 Agustus 2020 lalu, Mesir pada 26 Januari 1980 dan Yordania pada 26 Oktober 1994.

Rekonsiliasi Hamas-Fatah dan Perjuangan Palestina

Presiden Palestina Mahmoud Abbas juga menginginkan antara Hamas dan Fatah melakukan rekonsiliasi. Kedua faksi perjuangan Palestina ini harus saling bersatu. Apalagi kini Israel semakin "diatas angin" dan melakukan normalisasi dengan negara-negara Arab. Situasi ini membuat Palestina semakin terpojokkan dan Israel dapat leluasa memperkuat hubungan dan kerjasamanya.

Perjuangan bagi Palestina adalah upaya penting dalam perjalanan kesepakatan damai antara Israel dan Palestina. Konflik abadi kedua negara menjadi peristiwa yang menjadi perhatian dunia internasional. Meski pada akhirnya pihak Israel selalu melanggar kesepakatan untuk tidak melakukan aneksasi dan pelanggaran kemanusiaan. 

Kunci perjuangan dan harapan satu-satunya bagi Palestina adalah Hamas dan Fatah. Keduanya harus saling bersatu dan melakukan rekonsiliasi. Jika tidak, Palestina akan selalu "dipecundangi" oleh Israel. Sebaliknya, Israel akan dengan mudah melakukan tindakan apapun dan kerjasama dengan negara-negara Arab lainnya.

Sebelumnya, pihak Hamas dan Fatah juga tengah membicarakan terkait kesepakatan untuk bersatu melawan aneksasi Tepi Barat oleh Israel. Apalagi Israel juga memindahkan kedutaan besarnya ke Yerusalem dan menjadikan kota tersebut sebagai ibukota. Situasi demikian membuat Hamas dan Fatah harus melakukan upaya untuk melawan tindakan tersebut.

Hamas dan Fatah sendiri menjadi garda terdepan perjuangan Palestina. Meski kedua faksi ini sering berbeda pandangan. Tetapi, masa depan Palestina ada di tangan mereka. Ditengah berbagai tantangan dan dinamika yang terjadi. Perbedaan kedua faksi tersebut harus disatukan. Rivalitas keduanya tentu bermuara pada satu titik, yakni perjuangan dan kemerdekaan Palestina. 

Segala tindakan aneksasi Israel atas Palestina adalah tindakan ilegal dan melanggar hukum internasional. Meski, penangguhan aneksasi Tepi Barat dilakukan oleh Israel, karena normalisasi dengan UEA. Tetapi, usaha Israel untuk mengeksekusi Tepi Barat pasti akan dilanjutkan kembali. 

Negara-negara Arab lainnya juga masih tetap bersepakat untuk mematuhi Prakarsa Damai Arab 2002. Atas alasan apapun, konflik Israel-Palestina harus dapat diselesaikan. Israel harus mematuhi kesepakatan damai tersebut. Pihak PBB pun juga telah menyepakati solusi dua negara bagi Israel dan Palestina sebagai win-win solution.

Meski, ditengah pertikaian Israel-Palestina, AS menawarkan proposal damai yang disebut dengan "Perjanjian Abad Ini". Proposal tersebut berisi tentang kedaulatan terbatas bagi Palestina, dengan menggandakan luas wilayah yang saat ini dikuasai oleh Palestina, dan Israel menganeksasi sekitar sepertiga wilayah Tepi Barat yang disengketakan.

Yerusalem juga akan tetap menjadi ibu kota Israel dan bagian timur kota suci itu akan dipersiapkan sebagai ibu kota Palestina, dimana AS akan membuka kedutaan besarnya untuk Palestina.

Persatuan Hamas-Fatah dan Hizbullah

Pertemuan Hamas dan Hizbullah adalah momen penting bagi perjuangan Palestina. Solidaritas dan persatuan antar kelompok dalam membela Palestina sangat dibutuhkan ditengah situasi seperti ini. 

Kekuatan tiga kelompok besar, Hamas, Fatah, dan Hizbullah merupakan amunisi besar yang dimiliki dalam memperjuangkan hak-hak Palestina. 

Hamas-Fatah sendiri dibentuk sebagai upaya untuk alat perjuangan Palestina. Kekuatan kedua kelompok harusnya dapat dimaksimalkan dan digunakan dengan baik untuk kelangsungan perjuangan Palestina. 

Maka, masa depan Palestina sangat ditentukan oleh upaya dan usaha Hamas-Fatah, serta didukung oleh Hizbullah sebagai salah satu kelompok besar untuk memperjuangkan hak Palestina.

Jika ketiga kelompok besar ini bersatu dan melakukan strategi massif. Perjuangan Palestina akan terus berkobar dan melawan segala tindak kekejaman Israel. 

Diplomasi dan pendekatan di meja perundingan harus dimaksimalkan dengan baik. Tentu ini bukan hal mudah dan tugas berat bagi mereka. Tapi inilah salah satu bagian dari upaya memperjuangkan hak Palestina.

Pertemuan Hamas dan Hizbullah juga membicarakan terkait politik dan militer kedua kelompok tersebut. Mereka juga menyoal terkait normalisasi Israel dengan negara-negara Arab. Keduanya tengah mengatur strategi dan kebijakan yang mesti ditempuh untuk keberlangsungan perjuangan Palestina. 

Kita tengah menunggu apa strategi dan eksekusi yang bakal dilakukan kedua kelompok tersebut. Apakah akan terjadi perubahan besar bagi Palestina pasca pertemuan antar kedua kelompok itu? Tunggu dan lihat apa yang akan terjadi dalam konflik abadi Israel-Palestina kedepan.