Gelaran Copa America Centenario telah usai. Chile kembali tampil menjadi juara setelah sebelumnya berhasil mengalahkan Argentina di partai puncak. Ini merupakan raihan kedua Chile sebagai juara, dan ini juga merupakan kali kedua Chile berhasil mengatasi Argentina di laga Puncak.

Secara berturut-turut (2015-2016) Chile berhasil meraih Piala Copa America atau dengan lain kata Chile berhasil mempertahankan gelar juara Copa America Centenario. Dengan ini, Chile telah mengantarkan Argentina untuk terus meratapi tembok nasib. Perlu diketahui dengan seksama, terakhir Argentina juara Copa America adalah tahun 1993. 23 tahun dilalui tanpa gelar apapun.

Tentunya ini merupakan penderitaan yang panjang. Namun, perihal itu tak menjadi perhatian berlebih khalayak, karena Messi telah membuat derita Argentina seperti biasa-biasa saja. Berkat Messi, sebagian orang tak terlalu nyinyiri penderitaan panjang Argentina.

Kegagalan eksekusi pinalty Messi dalam adu tos-tosan melawan Chile di Final Copa America yang berakibat Argentina gagal berbuka puasa, tak membuat perhatian kita tertuju pada Argentina, tetapi pada Messi yang setelah itu secara mengejutkan memutusan menjadikan Final Copa kemarin sebagai akhir pertempuranya bersama Argentina.

Dalam pernyataannya dihadapan pers setelah bersedih di lapangan dan termenung di ruang ganti, Messi berujar : "I thought a lot about it in the dressing room and I think is it, The National team is over for me.." Ya, dengan ini kedepan tak akan terpampang lagi nama Messi di Timnas Argentina.

Sungguh akhir yang menyedihkan. Puasa selama 23 tahun yang belum jua berbuka, empat kali masuk ke partai final; 2005, 2014, 2015, 2016 tanpa hasil, ketambah kehilangan Messi kedepan. Tragis. Pensiunnya Messi tentunya akan menjadi persoalan baru bagi Argentina, karena menurut saya Argentina akan terpogoh-pogoh menggampai ke puncak dan akan memakan waktu yang sangat lama untuk kembali ke final atau sederhananya tanpa Messi takkan ada Argentina di partai final.

Karena memang Messi telah membuktikan kehebantannya, bersama Messi, Argentina telah empat kali mencapai partai puncak meskipun kekalahan-demi kekalahan dialami oleh Messi bersama Argentina di puncak. Namun catatan Shahih Messi bersama Argentina ini pula ternyata menjadi alasan Messi Pensiun dari Argentina. Seperti saya katakan tadi, Messi menjadikan Partai Final kali ini sebagai akhir Pertempuranya.

Yang artinya Akhir segala-galanya buat Argentina. Padahal pada Copa kali ini Messi membuat rekor baru dengan mencetak 55 goal melampaui pendahulunya, yaitu Batistuta dan dengan catatan ini menjadikan Messi sebagai pencetak goal terbanyak di Timnas Argentina.

Tetapi bagi Messi itu merupakan kesia-kesian. Raihan goalnya tak berdampak apa-apa pada Argentina. beberapa kali Menggiring bola sampe puncak, pas dipuncak, bola itu digelindingkan lagi ke bawah, empat kali membawa Argentina ke Final, tanpa sekalipun membawa hasil, Singkatnya dengan memutuskan pensiun, Messi terlepas dari peran Sisifus di Argentina Melegenda kekuatan adimanusianya tapi tak sekalipun memberikan trofi bagi negaranya.

Tak seperti di Barcelona, beban Messi terasa ringan karena ada Iniesta, Busquets, Rakitic, Suarez dan Neymar dan pelatih Jenius Enrique, tapi di Argentina dia nampak sendirian. Ekspetasi, Harapan Suporter Argentina terasa memberatkan bagi Messi.

Bermain untuk Argentina, Messi membawa dua beban sekaligus menaklukan lawan sekaligus membawa tumpukan batu di pundaknya. Tentunya kita juga harus memahami bahwa jodoh Messi dengan Tata Martino hanya sampai di Final(gagal pula), beda halnya ketika Messi bersama Pep dan Enrique.

Ketika dengan Pep dan Enrique, Messi selalu bisa mendapat jalan keluar ketika terjepit, tetapi dengan Tata Martino, Messi hanya mendapat kebuntuan dan tentunya Mirip dengan Santiago dalam Novela The Old Man And The Sea Karya Ernest Hemingway, Tata Martino hanya mengantarkan Messi pada julukan baru yaitu Salao (bentuk terburuk dari ketidakberuntungan), julukan yang disematkan pada Santiago ketika selama 84 hari tak jua mendapatkan Ikan di laut.

Pada nyatanya sekarang Messi sudah memutuskan pensiun di umur 29. Tahun 2018 masih ada piala Dunia dan Messi akan berumur 31 tahun. Masih ada harapan kata sebagian orang, namun bagi Messi sudah cukup. Dia tak mau membuang waktu lagi untuk Argentina. perjuangan untuk Argentina sudah berakhir, Argentina tanpa Messi, orang-pun harus terus menerus membayangkan Argentina Tanpa sisifus.