Manusia sebagai salah satu makhluk yang dapat mendongakkan wajah ke atas tidak dapat terlepas dari pengaruh kondisi langit. Konon katanya, salah satu revolusi dalam evolusi manusia adalah kemampuannya untuk mendongakkan wajahnya ke langit sehingga perkembangan demi perkembangan berikutnya dapat dilalui dengan cepat.

Hewan-hewan lain seperti kera yang pohon evolusinya paling dekat dengan manusia masih berjalan membungkuk dan lebih memerhatikan tanah yang mengindikasikan dirinya lebih memprioritaskan hal-hal yang berkenaan dengan duniawi seperti kebutuhan dasar makan, minum, tidur, dan seks.

Setelah evolusi membentuk leher manusia yang lebih fleksibel dan berjalan tegak, manusia belajar dari langit tentang arah dan musim. Bakat manusia dalam menemukan pola bagai pedang bermata dua. Oleh sebab itu, pola-pola yang tidak dapat terindera karena muncul dalam jangka waktu yang lama merupakan hal yang ganjil.

Singkatnya, pertanda aneh yang terjadi beberapa tahun sekali seperti komet, meteor, gerhana bulan, dan gerhana matahari dianggap sebagai pertanda buruk. Tafsiran dari seluruh pelosok dunia berbeda-beda tentang hal tersebut, tapi benang merahnya tetap sama, yaitu datangnya musibah dalam waktu dekat.

Pertanda ganjil tersebut dianggap sebagai sebuah pesan musibah yang dikirimkan oleh dewa. Dis-as-ter (Musibah) berasal dari bahasa Yunani yang berarti bintang buruk (pertanda langit yang aneh). Bagi suku Masai di Afrika Timur komet berarti kelaparan. Bagi suku Zulu di Selatan, komet berarti perang sipil. Bagi suku Eghap di Barat, komet berarti penyakit dan bagi suku Luba di Zaire, komet berarti kematian seorang pemimpin suku. Masih banyak lagi tafsiran-tafsiran yang berbeda dari seluruh pelosok dunia.

Gerhana Matahari yang terjadi di Indonesia hari ini juga tidak lepas dari mitos-mitos datangnya musibah. Bangsa Asia meyakini gerhana matahari terjadi karena makhluk mistis melahap matahari, sehingga orang-orang membunyikan bunyi-bunyian bising untuk mengusir makhluk ini. Sebab diyakini bahwa makhluk mistis ini dapat meracuni makanan, minuman, bahkan janin di kandungan.

Sedangkan, bangsa Mesopotamia menganggap bahwa gerhana matahari terjadi karena dosa-dosa manusia, sehingga mereka menyalakan lilin bersama-sama seraya berdoa memohon pada dewa agar matahari dapat bersinar kembali.

Masih banyak sekali mitos-mitos dari seluruh penjuru dunia yang menafsirkan pertanda langit yang ganjil sebagai sebuah musibah. Oleh sebab itu tak heran banyak dari budaya-budaya dan agama-agama melakukan sebuah ritual dalam menyambut gerhana.

Beruntung, bangsa Tiongkok yang sangat sistematis mulai sekitar tahun 1400 SM mereka mulai mencatat terjadinya pertanda-pertanda ganjil tersebut, hingga pada akhirnya ditemukan ternyata pertanda ganjil dari langit seperti kemunculan komet, meteor, dan gerhana adalah sebuah fenomena alam yang terjadi beberapa tahun sekali.

Manusia lapar akan pencarian makna bahwa keberadaan kita pastilah bermakna spesial bagi jagat raya. Hingga saat ini manusia tidak berhenti pada pencarian tentang fenomena-fenomena alam tersebut.

Dewasa ini, manusia dapat meramalkan dengan tepat bagaimana dan kapan pertanda-pertanda ganjil tersebut. Bahkan pertanda-pertanda tersebut tidaklah lagi ganjil, melainkan hanya merupakan fenomena alam biasa yang muncul puluhan bahkan ratusan tahun sekali.

Bersyukurlah pada sains yang mengedepankan rasionalitas sehingga dapat menjawab fenomena-fenomena tersebut hingga akhirnya kita tidak perlu lagi takut dan melakukan ritual-ritual tak penting untuk mengusir mitos. Saat ini kita dapat menyaksikan dengan bebas bagaimana fenomena alam langka itu terjadi sembari menikmati keindahannya.

Hari ini Indonesia menjadi istimewa di mata dunia karena hanya Indonesia yang menjadi satu-satunya negara yang dilalui gerhana matahari total. Saya terbangun pagi-pagi untuk menyaksikan fenomena alam langka ini, bermodalkan selembar kertas bekas rontgen, menikmati keindahan gerhana meskipun tidak 100%.

Fenomena alam langka ini membuat merinding, bahkan tak sedikit yang meneteskan air mata ketika menyaksikan fenomena ini. Bagi mereka yang menikmati alam, tentu fenomena alam ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa dan menggetarkan hati kecil.

Semua makhluk yang diciptakan oleh Zat Maha Indah tentunya selalu merindukan asal, maka dari sebagai manusia yang lapar akan makna ketika melihat fenomena-fenomena indah pasti hati kecilnya bergetar. Terdapat hal-hal yang tak terjelaskan kata-kata yang menyentuh hati kecil dari dasarnya. Bagi saya, hal-hal semacam ini menandakan kemahakuasaan Tuhan, memandang fenomena ini membuat kita sebagai manusia mensyukuri nikmat-Nya.

Islam, agama yang saya yakini merayakan fenomena langka ini dengan sebuah ritual salat. Sebab, salat adalah sebuah ritual untuk menandakan rasa syukur pada Sang Pencipta. Momen seperti ini adalah saat yang tepat untuk merefleksikan diri sembari bersyukur dan merenungi makna penciptaan dan tujuan penciptaan.

Ah, terima kasih, Tuhan yang telah memberikan kesempatan bagi generasi ini untuk menyaksikan gerhana matahari yang luar biasa menakjubkan ini. Suatu saat, saya mewajibkan diri untuk menghampiri daerah yang disinggahi gerhana matahari total. Semoga kelak terjadi. Wallahu a'lam.